Sumpurkudus Dihantam Banjir Bandang, Nagari Unggan dan Silantai Terparah

Informasi yang dihimpun, malapetaka cukup mengerikan tersebut terjadi bersamaan dengan turunnya hujan lebat disertai angin kencang pada Senin (11/11) sekira pukul 22.00 Wib. Dalam pada itu terdengarnya suara gemuruh dari arah hulu aliran sungai Batang Sumpu hingga kemudian disusul luapan air bah.
Dalam hitungan menit luapan air terus naik ke permukaan yang kemudian menjelma menjadi banjir bandang, melanyau area perkampungan hingga rumah-rumah penduduk.
Melihat datangnya banjir bandang spontan para warga berhamburan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri ke titik aman. Sebahagian lagi berupaya menyelamatkan harta benda beserta hewan ternak, namun kebanyakan berujung sia-sia. Dalam suasana berkecamuk para warga hanya bisa pasrah menerima keadaan.
Diperparah lagi dalam situasi tersebut serentak aliran listrik padam, maka upaya evakuasi dan penyelamatan hanya mengandalkan alat penerangan seadanya.
Banjir bandang tidak hanya berupa luapan air bah, tetapi juga turut menghanyutkan ratusan kubuik potongan kayu dari kawasan hutan setempat hingga berseliweran dan menghantam apa saja di depannya. Fenomena ini menjadi salah-satu faktor penyebab situasi sedemikian parah.
Kasi Kedaruratan BPBD Sijunjung Heries menyebutkan, tercatat 6 nagari dinyatakan terdampak banjir bandang di wilayah Sumpurkudus. Enam nagari tersebut; Nagari Mangganti, Sumpurkudus, Sumpurkudus Selatan, Sisawah, Unggan, dan Silantai, dengan kondisi terparah adalah Nagari Unggan dan Silantai. Dilaporkan satu unit rumah beserta isinya di Nagari Silantai hilang dibawa arus banjir.
Pascamasuknya laporan bencana itu, ulasnya, Pemkab Sijunjung langsung menerjunkan puluhan personel yang tergabung kedalam tim reaksi cepat, serta turut dibantu TNI, Polri, dan Satpol PP, petugas Damkar. Fokus membantu proses penyelamatan dan evakuasi warga, kemudian berlanjut pembersihan rumah pnduduk dari material sisa banjir.
"Sejauh ini dilaporkan sebanyak enam nagari dinyatakan terdampak banjir bandang, terparah adalah Nagari Silantai dan Unggan. Ratusan rumah warga terendam, ratusan areal pesawahan hancur," ujarnya.
Data sementara jumlah KK terdampak banjir bandang meliputi, Nagari Unggan 160 KK (640 jiwa), Silantai 146 KK (584 jiwa), Sumpurkudus 80 KK (320 jiwa), Sumpurkudus Selatan 50 KK (200 jiwa), Manganti 65 KK (195 jiwa), serta Nagari Sisawah 150 KK (600 jiwa).
Banjir bandang terjadi akibat adanya luapan aliran sungai Batang Sumpu dan Batang Unggan yang merupakan dua aliran sungai besar. Di sepanjang kiri kanan aliran sungai terdapat area persawahan produktif milik warga masyarakat.
"Sampai sekarang kami masih melakukan pendataan dan penghitungan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana alam tersebut. Namun untuk sementara jumlah kerugian mencapai milliaran rupiah, korban jiwa nihil, " tegasnya.
Tokoh masyarakat Nagari Unggan Gindo Tan Ameh menyebut, banjir bandang kali ini adalah yang terparah dan paling merusak sejak 40 tahun terakhir. Sebab itu untuk penanganannya perlu tindakan serius dari pemerintah daerah maupun berbagai pihak.
"Begitu mengerikan, di tengah turun hujan lebat menyusul terdengar suara gemuruh yang ternyata adalah banjir bandang. Rumah-rumah warga yang terdapat disepanjang bantaran sungai Batang Sumpu dilanyau air bah," tutur Gindo Tan Ameh.
Akibat datangnya banjir bandang kali ini dipastikan ratusan hektare area persawahan masyarakat mengalami gagal panen, serta kondisinya rusak parah. Potongan kayu balok dan beraneka kayu olahan dari hutan berseliweran di mana-mana. Sehingga untuk proses pembersihannya dibutuhkan upaya ekstra secara terpadu. (atn)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




