
PADEK.JAWAPOS.COM-Pasca tahun baru 2025 (1 Januari), harga cabai merah secara eceran di Kabupaten Sijunjung bertahan di level Rp50.000 per kilogram, setelah sebelumnya sempat mencapai Rp60.000 per kilogram.
Fenomena ini membuat warga masyarakat merasa terbebani lantaran harga-harga komoditi lainnya juga ikut naik. Terutama kalangan ibu rumah tangga, yang dalam situasi ini dituntut untuk pandai-pandai menyesuaikan kondisi keuangan dengan pengeluaran.
Jika tidak, mereka dipastikan akan mengalami kesulitan keuangan. Selain itu, situasi ini bertepatan dengan jadwal masuk sekolah setelah dua pekan masa libur semester I.
Meskipun harga cabai naik, dilaporkan bahwa ketersediaan stok di pasaran masih relatif stabil dan daya beli konsumen normal. Namun, para pedagang kebanyakan memilih membatasi jumlah pembelian stok untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu harga cabai mendadak turun.
Naiknya harga cabai turut membuat khawatir para pelaku usaha makanan dan kuliner. Namun, karena cabai merupakan salah satu komoditi penting, warga tetap harus membelinya.
“Harga cabai naik sejak sebulan terakhir dan kondisinya terus berfluktuasi. Tidak tertutup kemungkinan beberapa hari ke depan bisa naik lagi. Kami, sebagai ibu rumah tangga, merasa terbebani,” keluh Mita Anggraini, 42, seorang ibu rumah tangga di Perumahan Ipuh Permai, Nagari Muaro, Kamis (2/1).
Disebutkannya bahwa saat ini harga cabai secara eceran di pasaran adalah Rp50.000 per kilogram, sedikit turun dibanding sepekan sebelum tahun baru 2025.
Pantauan Padang Ekspres di Pasar Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, Kamis (2/1) siang, menunjukkan aktivitas penjualan cabai merah (lokal) berlangsung normal.
Konsumen membeli dalam jumlah banyak hingga eceran (kiloan) untuk kebutuhan harian, yang didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga.
Puncak penjualan di Pasar Sijunjung berlangsung sekitar pukul 10.00 - 15.00, dengan durasi waktu relatif lebih panjang dibanding Pasar Inpres Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung, yang sama-sama berstatus pasar rakyat.
Muslim, 53, salah seorang pedagang cabai dan berbagai kebutuhan harian, menyebut bahwa naiknya harga cabai merah berlangsung sejak sebulan terakhir dan berlaku mulai dari tingkat petani, tauke, hingga agen penyalur ke pasar-pasar.
“Untuk kualitas bagus, sekarang rata-rata dijual (eceran) Rp48.000-Rp50.000 per kilogram. Namun dalam jumlah banyak bisa sedikit dikorting,” ujarnya.
Dijelaskannya, karena mengeluarkan modal tinggi, ia pun menjual sesuai harga pasar. Namun demikian, ia saat ini membatasi jumlah pembelian stok dari agen.
Stok dibeli hanya untuk kebutuhan penjualan sehari, atau paling lama dua hari. Selanjutnya, ia akan mengambil stok baru.
“Jika dikalkulasikan, modal pembelian (rata-rata) pedagang ke tauke sekarang mencapai Rp46.000 per kilogram. Untuk mendapatkan potongan harga minimal, harus mengambil dua karung,” ujarnya.
Pembatasan stok dilakukan demi mengantisipasi risiko kerugian, terutama untuk jenis cabai lokal (dari dalam daerah), karena dalam tiga hari tidak terjual bisa rusak.
Namun, cabai lokal secara kualitas lebih baik (lebih pedas dan tahan lama), sehingga banyak diserbu konsumen.
Pedagang lainnya, Ari Gope, 36, menyebut bahwa meskipun pedagang cabai memiliki status tinggi, pada kenyataannya berjualan cabai terasa rumit.
Sebab, jika stok dagangan tidak habis terjual, pedagang berisiko mengalami kerugian besar. Apalagi saat ini harga cabai tengah tak menentu, seperti dalam empat hari terakhir yang turun Rp10.000. “Paling banyak saya mengambil stok sekitar empat karung. Setelah itu, ambil lagi stok baru,” ujarnya.
Kepala Disperinkop Kabupaten Sijunjung, Yulizar, menuturkan bahwa pihaknya masih terus melakukan pemantauan harga pasaran berbagai jenis bahan kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional dan tempat penjualan lainnya, termasuk cabai merah yang harganya mengalami kenaikan.
Lonjakan harga barang kebutuhan harian terjadi karena jumlah pasokan dari daerah penghasil menurun, serta bertepatan dengan momen tahun baru 2025. Selain cabai merah, dikhawatirkan harga komoditi lainnya juga berpotensi naik.
“Kebutuhan masyarakat saat ini memang mengalami peningkatan, sementara ketersediaan stok terbatas. Akibatnya, harga bergerak naik,” imbuh Yulizar. (atn)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

