Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian tradisi Minangkabau sekaligus penguatan nilai gotong royong dan kepedulian sosial masyarakat.
Festival Malamang tahun ini mengusung tema “Gotong Royong Menyatu, Kepedulian untuk Sesama”.
Seluruh hasil malamang yang diproduksi dalam kegiatan tersebut disalurkan kepada masyarakat Kota Solok yang terdampak bencana alam.
Wali Kota Solok, Dr. Ramadhani Kirana Putra, SE, MM, menyampaikan bahwa tradisi malamang merupakan warisan budaya leluhur Minangkabau yang sarat nilai kebersamaan dan spiritualitas.
Proses malamang melibatkan banyak pihak, mulai dari persiapan bahan, pembersihan bambu, hingga pembakaran.
“Dalam malamang, bambu menjadi simbol pemersatu, sedangkan api melambangkan semangat kebersamaan yang terus menyala,” ujar Ramadhani, Selasa (16/12/2025).
Ia menegaskan, Festival Malamang tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial budaya, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan.
Melalui festival ini, pemerintah daerah ingin menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, terutama bagi warga yang terdampak bencana.
Menurutnya, budaya harus terus dihidupkan sebagai kekuatan sosial yang relevan dengan kondisi saat ini.
Nilai gotong royong yang terkandung dalam tradisi malamang dinilai selaras dengan semangat masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber kekuatan untuk saling menguatkan, terutama di masa sulit,” kata Wali Kota.
Pemerintah Kota Solok berharap Festival Malamang dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai agenda budaya daerah, sekaligus menjadi sarana mempererat persatuan dan solidaritas masyarakat.
“Semoga kebersamaan hari ini membawa keberkahan, dan Kota Solok senantiasa dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tutup Ramadhani.(CR8/Dila K)
Editor : Hendra Efison