Meski menawarkan pemandangan spektakuler, jumlah pengunjung di lokasi ini masih terpantau sepi pada musim libur Lebaran.
Objek wisata ini berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Solok dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
Akses menuju lokasi melalui jalan beraspal yang lebar, meski terdapat tanjakan tajam dan belokan di sepanjang perjalanan.
Akses dan Panorama Alam
Sepanjang perjalanan menuju Batu Patah Payo, wisatawan disuguhi pemandangan desa hijau dengan hamparan sawah luas dan pepohonan rindang. Suasana alam semakin terasa dengan kicauan burung yang menemani perjalanan.
Memasuki kawasan wisata, pengunjung akan menemukan penanda berupa papan bertuliskan “Agrowisata Batu Patah Payo”.
Di awal jalur, permukiman warga masih jarang, namun semakin mendekati lokasi, rumah-rumah mulai terlihat.
Berada di ketinggian sekitar 840 meter di atas permukaan laut, kawasan ini menyajikan lanskap Kota Solok dari atas.
Deretan atap rumah tampak rapat, sementara jalan raya terlihat kecil dari kejauhan, dengan latar pegunungan yang tertutup kabut.
Pengunjung Nilai Potensi Besar
Salah seorang pengunjung, Dania, mengaku terkesan dengan suasana tenang di lokasi tersebut meski baru pertama kali berkunjung.
Ia menyebut, kondisi bunga krisan yang menjadi salah satu daya tarik belum berkembang optimal. “Tanamannya baru tumbuh, green house-nya malah mirip semak liar,” ujarnya.
Selain itu, fasilitas di kawasan wisata juga dinilai belum terkelola maksimal, terlihat dari kondisi tanaman dan minimnya jumlah pengunjung.
Meski demikian, Dania tetap menikmati panorama dari menara pengamatan yang tersedia di lokasi. Ia menilai pemandangan dari ketinggian menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
“Capek jalannya, tapi view-nya luar biasa, lelah pun sirna,” katanya.
Imbauan Keselamatan
Pengunjung diimbau untuk memastikan kondisi kendaraan, terutama rem dan bahan bakar, sebelum menuju lokasi guna menghindari risiko di perjalanan.
Batu Patah Payo dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam di Kota Solok, terutama jika didukung pengelolaan yang lebih optimal.(*)
Editor : Hendra Efison