Suku Bunga Rendah Dukung Pemulihan

30
ilustrasi. (JawaPos.com)

Pemerintah berharap tren rendahnya tingkat suku bunga kredit perbankan terus berlanjut. Sebab, hal itu dinilai bakal mendukung penguatan kinerja perbankan pasca pandemi korona.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah melihat, sejauh ini Bank Indonesia (BI) sudah cukup agresif menurunkan suku bunga acuan. Namun sayangnya, suku bunga kredit tidak ikut turun signifikan. “Langkah pemerintah sampai memaksa bank BUMN menurunkan bunganya, itu supaya bank-bank swasta mengikuti,” kata Piter, pada akhir pekan.

Namun demikian, lanjut Piter, suku bunga kredit di perbankan belum turun signifikan. Hal ini lantaran masih rendahnya permintaan kredit di masyarakat. “Masyarakat masih menahan konsumsi,” imbuhnya.

Kondisi itu, menurutnya, membuat biaya operasional perbankan relatif tinggi. Jika biaya operasional masih tinggi, hasrat bank untuk menurunkan suku bunga kredit jadi tidak efisien.

Menanggapi soal itu, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Haru Koesmahargyo mengaku, pihaknya telah menurunkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) sampai dengan 75 basis poin (bps). Bukan itu saja, BRI juga proaktif memberikan penurunan suku bunga dalam rangka restrukturisasi Covid-19 pada kisaran 200-400 bps.” Bunga deposito kami sudah turun 175 bps,” sebutnya.

Menurut Haru, perbankan dalam transmisi untuk penurunan bunga deposito dan kredit, akan disesuaikan dengan maturity-nya. Namun umumnya, penurunan suku bunga kredit akan sedikit lebih lambat transmisinya dibandingkan dengan penurunan suku bunga deposito.

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza menambahkan, pihaknya sedang menyiapkan program khusus terkait penurunan bunga kredit. “Kami sedang menyiapkan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan bunga yang kompetitif dan menarik,” ungkap Aestika.

Baca Juga:  UMKM Sulit Ekspor Produk, Butuh Percaya Diri Bersaing di Pasar Global

Sebelumnya, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo menyoroti tren rendahnya bunga kredit akibat terpangkasnya cost of fund dan melimpahnya likuiditas perbankan. Menurutnya, tren bunga rendah itu dampak dari minimnya permintaan kredit masyarakat akibat pandemi Covid-19.

Tiko-sapaan akrab kartika berharap, tren tersebut terus berlanjut hingga era pandemi Covid-19 usai. “Nanti konsolidasi perbankan semakin baik pasca Covid-19. Dan, diharapkan suku bunga kredit bisa ada di kisaran di bawah 10 persen,” ucapnya. Dia melihat, perbankan di Indonesia tidak terlalu signifikan terdampak pandemi Covid-19. Meski diakuinya, pendapatan bank merosot.

Dia meramal kinerja perbankan Indonesia akan melambung, pasca pandemi korona. “Ada istilahnya Nike Shoot Recovery. Meski di 2020 dan 2021 ini ada penurunan, namun akan meningkatnya lagi cukup tajam. Jadi, pergerakannya seperti lambang Nike (lambang merek sepatu-red),” ungkapnya.

Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini meramal, penurunan pendapatan bank berakhir pada 2021. Menurutnya, penurunan itu wajar sebab, selama pandemi, bank lebih banyak melakukan restrukturisasi kredit. Sehingga, terjadi penurunan pendapatan pokok dan bunga.

“Namun pasca Covid-19, perbankan akan menjadi sektor yang cepat rebound. Karena likuiditas perbankan cukup gemuk. Itu menunjukkan bahwa daya beli masyarakat cukup besar,” ujarnya.

Seperti diketahui, BI menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen pada 19 November 2020. (dwi/jpg)

Previous articleRem Blong, Tronton Terjun ke Jurang
Next articleGratiskan Vaksin untuk Peserta Kompetisi