Sumbar Terima 4.800 Rapid Test, Prioritas Tenaga Kesehatan

Petugas kesehatan menunjukkan menunjukkan alat rapid test. (Foto: Radar Surabaya)

Pemprov Sumbar menerima sebanyak 4.800 alat rapid test yang dikirimkan pemerintah untuk mendeteksi secara cepat apakah seseorang terpapar virus korona (Covid-19) atau tidak.

Rapid test tersebut akan dibagikan ke rumah sakit yang telah ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Di antaranya RSUP M Djamil Padang, RS Ahmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi, RSUD Pariaman, RSUD Solok, dan RS Universitas Andalas.

“Hari ini kita menerima bantuan alat rapid test dari pusat. Jumlahnya sebanyak 4.800,” kata Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit saat video conference bersama wartawan, Rabu (1/4) siang.

Nasrul mengatakan, untuk teknis penggunaan rapid test diserahkan kepada masing-masing rumah sakit rujukan.

“Seperti diperintahkan presiden, rapid test itu diprioritaskan untuk dokter dan tenaga medis serta keluarganya, lalu masyarakat lanjut usia,” kata Nasrul Abit.

Kegunaan Rapid Test

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah dalam Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, menjelaskan bahwa rapid test atau tes cepat diprioritaskan bagi kontak dekat, seperti keluarga korban dan petugas kesehatan.

Metode rapid test, lanjut Yuri, yang digunakan adalah screening, penapisan secara pendahuluan terhadap adanya kasus positif di masyarakat.

“Oleh karena itu, yang kita periksa untuk cara cepat ini adalah melakukan pemeriksaan antibodinya yang ada di dalam darah sehingga spesimen yang diambil adalah darah, bukan apusan tenggorokan. Diharapkan dengan adanya pemeriksaan ini maka kita bisa menjaring dengan kasar tentunya secara cepat tentang keberadaan kasus positif,” urai Yuri.

Pemeriksaan rapid test yang menggunakan basis pemeriksaan antibodi, menurut Yuri, kalau hasilnya negatif belum bisa memberikan jaminan bahwa yang bersangkutan tidak terinfeksi.

“Bisa saja terinfeksi tetapi pada tahap-tahap awal karena antibodinya belum terbentuk, dibutuhkan waktu antara 6-7 hari untuk terbentuknya antibodi yang kemudian bisa kita identifikasi sebagai positif di dalam pemeriksaan rapid ini,” katanya.

“Jadi bukan melakukan pemeriksaan langsung terhadap virusnya,” kata Yuri, di Grha BNPB, Jakarta, Selasa (24/3) lalu.

Menurut Yuri, kalau memeriksa langsung terhadap virusnya, maka digunakan pemeriksaan berbasis pada antigen. Yakni pemeriksaan dengan swab, dengan apusan, usapan di dinding belakang rongga hidung atau di dinding belakang rongga mulut. “Artinya kalau ditemukan positif, maka diyakini di penderita tersebut ada virusnya,” jelas Yuri.(adk/esg)