Bangun Sumbar, Gamawan Ajak Petik Pelajaran dari Singapura dan Bhutan

91

Pembangunan bukanlah mengambil atau memindahkan sebuah konsep negara atau daerah yang sudah terbukti maju begitu saja. Pasalnya, setiap negara atau daerah memiliki kondisi, situasi, potensi, peluang, tantangan dan hambatan yang berbeda-beda.

Maka, dengan mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki suatu daerah secara tepat dan mengeliminir segala kelemahan bisa membuat pembangunan suatu daerah berjalan sukses.

Hal itu diungkapkan mantan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi saat diundang menghadiri Rapat Istimewa Ulang Tahun ke-75 Sumbar di Gedung DPRD, Kamis (1/10/2020).

Menurutnya, Sumbar bisa memetik pelajaran dari suksesnya pembangunan negara Singapura pada awal kemerdekaan. Seorang Lee Kuan Yew muda yang baru pulang menamatkan sekolahnya di Inggris melakukan analisa sungguh-sungguh tentang bagaimana memajukan negaranya.

Lee belajar dari suksesnya New York sebagai kota bisnis terbesar di dunia, dan Frankfurt sebagai kota perbankan di Eropa. Lalu negara kecil itu merumuskan kebijakan yang dimulai dari industri perbankan dan perdagangan dengan memperbaiki kekurangan dari model-model perbankan serta bisnis negara-negara yang sudah lebih dulu maju.

“Singapura konsisten dengan konsepnya sehingga dia memetik hasil seperti sekarang,” ujarnya pada kesempatan dihadiri Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Dalam pengamatan Gamawan, sejak awal orde baru sampai sekarang Sumbar dengan ibukotanya Padang memang tidaklah segemerlap dan semegah beberapa ibukota provinsi lainnya seperti Medan, Pekanbaru dan Palembang di pulau Sumatera.

“Tapi kita tidak perlu berkecil hati apalagi merasa rendah diri karena bukan kemegahan itulah tujuan dari pembangunan. Apalagi bila kemegahan itu dalam bentuk pusat-pusat perbelanjaan besar, hotel-hotel berbintang lima, perkantoran dengan gedung-gedung tinggi yang bukan dimiliki masyarakat setempat,” ingat mantan Mendagri ini.

Pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel berbintang dan tempat-tempat hiburan berskala besar yang tidak dimiliki oleh masyarakat Sumbar sendiri, katanya dapat mengakibatkan mengalirnya uang kepada pemilik modal di luar daerah. Bahkan, lebih ironis lagi bila bisnis itu bersumber dari pengusaha luar negri sehingga dapat terjadi capital flight.

Dengan kondisi Sumbar seperti sekarang, menurutnya kebijakan pemerintah daerah sudahlah tepat karena apa yang ada saat ini umumnya dimiliki sendiri oleh masyarakat daerah ini sehingga uang tetap beredar di daerah dan dinikmati sendiri oleh masyarakat kita.

“Saya sungguh merasa bangga dan banyak orang luar Sumbar merasa kagum bahwa di daerah ini tidak bertumbuh mini market yang punya jaringan nasional dan internasional. Tapi yang bertumbuh adalah mini market lokal yang dimiliki dan dikelola manajamennya oleh masyarakat Sumbar sendiri,” ungkapnya.

Baca Juga:  Wartawati: Insya Allah Kerja dan Pengabdian Ini Bernilai Ibadah

Baginya, hal Itu bukanlah kebijakan yang diskriminatif, tapi justru kebijakan yang memproteksi usaha ekonomi masyarakat lokal. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia. Agar yang kuat tidak menindas yang lemah dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Itulah sebabnya tingkat kesenjangan ekonomi di Sumbar sejak dulu dalam bentuk giniratio selalu rendah sehingga pernah menjadi provinsi yang tingkat pemerataannya terbaik di Indonesia,” jelasnya.

Untuk masa akan datang, dirinya menyarankan agar pemerintah daerah memberikan kemudahan dan stimulus bagi pengusaha lokal serta mengajak para perantau bermodal kuat berinvestasi di Sumbar.

Dewasa ini, menurut Gamawan, ukuran-ukuran kemajuan suatu bangsa tidak lagi hanya diukur dari income perkapita tapi juga tingkat kebahagiaan rakyatnya atau happiness index.

Dalam hal ini Sumbar bisa belajar dari model pembangunan negara Bhutan yang terletak di kaki pegunungan Himalaya, di antara negara India dan Tiongkok.

Bhutan adalah negara kecil yang sangat menjaga tradisi dan nilai-nilai adat mereka. Sekitar 60 sampai 70% dari lahan mereka yang berbukit-bukit, berlembah dan bergunung mirip dengan Sumbar mereka pelihara kelestarian hutannya. Bahkan, peringatan hari-hari besar yang mereka rayakan selalu ditandai penanaman pohon-pohon untuk memelihara dan melestarikan lingkungan.

Dalam kesehariannya masyarakat Bhutan selalu memakai pakaian lokal, meskipun mereka tidak menutup diri dari kemajuan teknologi dan modernisasi. Namun, kemajuan zaman itu tidak sampai mendegradasi nilai-nilai tradisi mereka.

“Itulah sebabnya Bhutan terpilih sebagai negara dengan index kebahagiaan tertinggi di Asia. Ungkapan yang mengatakan “jalan dialiah urang lalu, cupak diganti urang menggaleh” tidak berlaku di Bhutan. Mereka terus semakin maju dengan income yang memadai, namun tetap dengan nilai dan kepribadianya sendiri,” tukasnya.

Sumbar tentunya tidak ingin maju sekadar maju, atau modern sekadar modern bahkan kaya sekadar kaya. Semua itu harus dalam semangat keimanan yang kokoh agar tetap menjadi diri kita sendiri.

“Kesitulah menurut hemat kami pembangunan masyarakat Sumbar kita arahkan, bukan sekadar meniru-niru kemajuan orang lain, tapi harus bertolak dari nilai-nilai sendiri seperti yang dilakukan Bhutan. Allah itu maha adil. Kita pasti dianugerahi pula kelebihan-kelebihan yang dapat kita optimalisasikan untuk meraih kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Sumbar,” jelasnya.

Karena itu, perlu dicari, digali dan cermati sungguh-sungguh potensi-potensi apa saja yang dapat dikembangkan dan berdayakan. Menurutnya, potensi yang bisa dioptimalkan, yakni pariwisata, pendidikan, tempat berobat, pertanian, dan bidang keagamaan.(esg)