Jika Disiplin, Pandemi Covid-19 di Sumbar Diprediksi Berakhir Juni

Pakar Epidemiologi Universitas Andalas Defriman Djafri. (Foto: IST)

Pakar Epidemiologi Universitas Andalas Defriman Djafri memperkirakan pandemi virus korona (Covid-19) di Sumbar akan berakhir pada akhir Juni 2020.

Namun, bila tak ada intevensi dan masyarakat tidak disiplin mematuhi aturan dalam mencegah penularan, maka kasus Covid-19 di Sumbar justru bisa melonjak.

“Prediksi saya, Covid-19 di Sumbar, akan berakhir pada akhir Juni,” ungkap Defriman yang juga Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas, Sabtu (2/5/2020).

Dia menjelaskan, prediksi tersebut didapat dari estimasi di dalam pertimbangan parameter secara default, yang dihitung sejak kasus awal dilaporkan pada 26 Maret 2020 lalu, dengan 5 kasus.

“Kami coba simulasikan dengan pemodelan SIR istilahnya dalam epidemiologi. Kita menghitung laju dari orang yang rentan (susceptible) ke terinfeksi (infected), ke sembuh (recovered),” terangnya.

Laju ketika dari rentan ke terinfeksi itu, sambung Defriman, dibagi dengan laju antara orang yang telah terinfeksi dan orang yang sembuh. Hasilnya akan dibagi lagi berdasarkan waktunya, maka akan didapatkan estimasi tersebut.

“Nah dari pertimbangan itu ada istilahnya basic reproduction number atau R0-nya itu kita kondisikan dengan masa inkubasi 14 hari, dengan kontak reproduksinya adalah 2,5 kapabilitas,” paparnya.

Itu bisa menginfeksi dari 1 orang menjadi 2 orang. Lalu, 2 orang tersebut akan bisa menginfeksi 2 orang lagi. Begitu seterusnya dengan sifat ganda.

“Dari estimasi kami dari awal ternyata benar. Rata-rata terinfeksi 4 orang per hari. Itu kita ambil berdasarkan pemodelan SIR. Kalau berdasarkan dari lab itu kita ga bisa melihat nilai hariannya karena ada hasil pemeriksaan yang delay,” sebutnya.

Lebih lanjut, doktor bidang Epidemiology dari Prince of Songkla University, Thailand ini memprediksi, puncak kasus positif Covid-19 di Sumbar akan mencapai 350 ribu kasus dan itu terjadi pada 21 Mei atau saat masa Lebaran Idul Fitri.

“Tapi perlu dicatat, itu kondisi jika tanpa intervensi. Tentu bisa saja over estimate atau under estimate. Estimasinya bisa saja tidak sampai segitu karena sudah ada imbauan jarak jarak dan menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar),” katanya.

Namun sebaliknya, jika tidak ada perubahan perilaku masyarakat secara bersama-sama mencegah penularan, maka angka kasus Covid-19 di Sumbar bisa lebih dari 350 ribu.

Defriman mencontohkan, misal, 35 kasus positif Covid-19 di Pasar Raya Padang yang diduga telah melakukan kontak dengan 1000 orang.

“Bayangkan, 1 orang bisa menginfeksi kemungkinan 1.000 orang. Itu baru satu klaster penularan, kalau ada 350 titik penularan seperti itu di Sumbar, maka sudah sampai 350 ribu orang terinfeksi positif Covid-19,” jelasnya.

Setelah mencapai puncak pada masa Lebaran, diprediksi angka kasus positif Covid-19 di Sumbar akan menurun hingga mencapai nol kasus pada akhir Juni.

“Tapi ini tergantung dari intervensi dan kedisiplinan masyarakat dalam perilaku pencegahan Covid-19. Seperti mengikuti imbauan untuk psychal distance, dan menerapkan PSBB dengan kondisi yang sangat disiplin,” tukas dosen lulusan S1 dan S2 Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi Universitas Indonesia ini. (esg)