Aqua: Tingkatkan Kedermawanan pada Masa Covid-19

94

Di masa pandemi virus korona (Covid-19) dan new normal atau kenormalan baru, masyarakat mesti meningkatkan bantuan dengan tulus dan ikhlas kepada sesama.

Sebagai makhluk sosial, manusia harus saling membantu. Pemberian bantuan tersebut mesti harus tepat sasaran.

Hal tersebut diungkapkan Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana saat Webinar Komunikasi Kedermawanan dalam Menanggulangi Dampak Covid-19, Rabu malam (3/6/2020).

“Mulailah dari lingkungan terkecil yakni RT dan saudara-saudara terdekat. Pemberian bantuan tidak harus banyak, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing,” ungkapnya.

Pada webinar yang diselenggarakan Jurnal Ranah Komunikasi bekerja sama dengan Unand dan diikuti ratusan peserta ini, Aqua Dwipayana menyarankan agar masyarakat melakukan kederwananan dengan menerapkan REACH plus A. Yakni Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble, dan Action.

“Respect artinya harus menghormati orang lain. Empathy atau selalu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan audible maksudnya dapat didengar atau dipahami dengan baik,” terangnya.

Selanjutnya, masyarakat mesti menggunakan kalimat sederhana secara terbuka (clarity) dan humble yang berarti rendah hati dan tidak sombong, ketika memberikan bantuan saat masa pandemi Covid-19 dan kenormalan baru.

“Nah, terpenting itu adalah action atau melaksanakan aksi nyata. Jika reach seperti yang saya jelaskan tadi itu dilakukan tanpa aksi nyata, maka tidak akan berarti apa-apa,” katanya.

Aqua Dwipayana menegaskan bahwa kedermawanan agar selalu disyiarkan. Tujuannya mengajak sebanyak-banyaknya orang melakukan hal serupa bahkan lebih. “Ini merupakan dakwah,” tukasnya dalam webinar yang juga menghadirkan dua narasumber lain yaitu Direktur Humas dan Protokoler Unikom Dr Desayu Eka Surya dan Penggerak Kawal Covid-19 Sumbar Sari Lenggogeni PhD.

Direktur Humas dan Protokoler Unikom Dr Desayu Eka Surya menyampaikan, Indonesia merupakan negara paling dermawan berdasarkan survei lembaga amal Charities Aid Foundation dalam laporan Word Giving Indeks 2018.

Hal ini, kata Desayu, terlihat dari budaya Indonesia seperti bergotong-royong, solidaritas, tradisi jimpitan, dan nilai-nilai yang mengajarkan pentingnya beramal. “Budaya inilah yang memunculkan aksi filantropi atau kedermawanan,” ujarnya.

Menurutnya, langkah strategi dan kontinu untuk menguatkan sikap dermawan adalah, masyarakat Indonesia mesti melakukan edukasi dan sosialisasi tentang urgensi sikap kedermawanan dalam meraih kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.

Selain itu memperluas pemanfaatan dana kedermawanan, tidak hanya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif dan sesaat, namun juga jangka panjang dan berkelanjutan.

“Kerja sama dengan berbagai pihak agar terasa ringan dan menjadi kegiatan bersama. Lalu juga memperkuat peran dan manfaat badan atau lembaga yang bergerak di bidang kedermawanan,” jelasnya.

“PR kita adalah instrospeksi diri, buat keputusan, susun rencana, implementasikan, pikirkan dan rasakan, serta kembangkan,” tukas Desayu. (i)