Hakim Mandai, Putra Pasaman yang Terus Bermusik di Tengah Pandemi Covid-19

322

Banyak putra Pasaman berkiprah di blantika musik tanah air. Salah seorang di antaranya, Marhakim, putra Sundatar Kabupaten Pasaman ini telah banyak menciptakan lagu-lagu Minang.

Berawal dari hobby waktu di SMEA Lubuk Sikaping (sekarang SMK Negeri 1 Lubuk Sikaping). “Sejak remaja saya sudah senang bernyanyi dan main gitar. Bermodalkan sebuah gitar, saya belajar sendiri memainkannya, sampai pada akhirnya saya berhasil menciptakan lagu,” ujar Marhakim yang beken dengan nama Hakim Mandai ini, mengawali pembicaraan.

Setelah tamat SMEA tahun 1990, ia melanjutkan pendidikan ke IKIP Padang (UNP sekarang). Ketika masa kuliah, Hakim Mandai aktif dalam kegiatan pentas musik di Kota Padang. Ia juga terlibat di FPIPS Galaswara. kampus merah GOR IKIP Padang.

Ia menyebut beberapa kenangan saat di kampus merah IKIP Padang. “Saat wisuda sarjana IKIP tahun 1990, saya sudah ikut Vocal Grup FPIPS, membawakan lagu “Ini Rindu” Farid Hardja & Lucky Resha. Lanjut Wisuda tahun 1991 membawakan lagu “Nona Manis” Anci Larici. Tahun berikutnya kami membawakan lagu Minang “Nan Tido Manahan Hati” ciptaan Agus Taher. Dan tahun 1994 tampil lagi membawakan lagu “Lenyai” Ciptaan Alm Nedi Gampo,” kenangnya.

Di tahun 1994 itu juga, Hakim Mandai wisuda khusus PDU 1994. Digelar acara pentas Seni di GOR Labor IKIP, ia membawakan lagu “Kasiak Tujuah Muaro”.

Usai menyelesaikan pendidikan di IKIP Padang, tahun 1995 ia hijrah ke Bekasi – Jawa Barat. Berada di perantauan maka semakin senang dengan lagu-lagu Minang dan berniat untuk rekaman.

Baca Juga:  Dilema Tol Sumbar, Masih Ada Pemilik tak Sabar Tunggu Ganti Rugi

“Menciptakan lagu sendiri baru terwujud pada tahun 2006 dengan judul lagu, Bialah Denai Bajalan, selanjutnya lagu Seso Ulah Rasian, Rintang Parasaian, Hujan Aia Mato,” ungkap Hakim Mandai.

Lantas, lagu-lagu tersebut masuk dapur rekaman. Pada album pertamanya itu, ia bersama istrinya, Fitria, membawakan lagu ciptaan RE Odong 3 lagu, lagu ciptaan Syahrial Tanangok 3 lagu.

Tahun 2010 kembali membuat album membawakan lagu Nedi Gampo (Lenyai, Sapayuang Bajauah hati dan Ulah Limbubu, RE Odong (Takuik Upek Caraco, Sabana Padiah dan Indak Manyimpan Dandam), Eka Putra (Angan Nan Tarangguik, Bukan Datuak Maringgih, dan Garam Usah di Pahujan. “Ditambah dengan lagu joget la.la..la, saya ganti liriknya dengan judul Ratok Anak Pasaman,” ceritanya.

Saat pandemi covid 19, telah membuat aktifitas Hakim Mandai yang sehari-hari adalah Dosen tetap di STMIK Bani Saleh Kota Bekasi Jawa Barat, kembali menciptakan lagu tentang kerinduan seorang anak yang tidak bisa pulang kampung akibat dari aturan PSBB, dengan judul “Corona Menyisiah Angan”.

Lagu ini tidak lagi berupa album karena pandemi tapi sudah bentuk single yang diupload di yootube. Tahun 2021 ini kembali menciptakan 2 judul, juga masih tentang corona.

“Kehilangan Ayah” (April 2021), menceritakan ketika Ayah saya meninggal di saat pandemi. dan “Indak Buliah Pulang Kampuang” (Juni 2021). Lagu-lagu tersebut dapat dilihat dan didengar di channel YouTube “Hakim Mandai Channel.”

Kini usia Hakim Mandai telah 50 tahunan. “Di usia saya yang sudah 50-an ini saya punya obsesi menjadi seorang produser,” tuturnya optimistis. (*)