Mengelola Stres saat Korona

Tekanan stres saat pandemi korona (Covid-19) semakin meningkat di kalangan masyarakat dua bulan ini. Banyak berita mengerikan tentang persebaran virus korona yang semakin merata di seluruh dunia tanpa memandang kelas sosial dan ekonomi, kenaikan jumlah korban yang meninggal, banyaknya dokter dan tenaga kesehatan yang ikut terinfeksi dan bahkan beberapa meninggal, sampai banyaknya penderita korona yang dikonfirmasi positif meski tidak menunjukkan gejala sakit. Belum lagi dampak sosial akibat pandemi ini. Bisnis pariwisata sangat terpuruk akibat banyaknya lockdown dan physical distancing. Omzet para pelaku bisnis ritel menurun drastis karena masyarakat enggan bertransaksi. Harga saham dan mata uang merosot tajam, Juga, banyak buruh maupun karyawan yang mulai khawatir perusahaan mereka akan bangkrut sehingga di-PHK. Semua situasi ini sering membuat kita menghela napas sambil bergumam, ’’Sampai kapan?’’

Atkinson dalam bukunya menjelaskan, stres akan meningkat kala seseorang merasa gagal menerka kapan suatu peristiwa akan terjadi dan tidak mampu mengontrol waktu kapan kejadian itu akan berakhir. Panic buying yang terjadi di beberapa kota besar membuktikan fenomena stres di masyarakat yang ’’berjaga-jaga’’ secara berlebihan untuk menghadapi situasi buruk yang tidak bisa mereka terka waktunya dan sulit diprediksi kapan akan berakhir. Bahkan, yang lebih ekstrem, seorang warga Korsel di Solo dan seorang laki-laki di India nekat bunuh diri karena merasa dirinya positif korona. Tragisnya, ada pula seorang perawat yang positif korona di Italia yang mengakhiri hidupnya karena khawatir menginfeksi orang lain.

Belum adanya kepastian kapan vaksin korona akan ditemukan dan diedarkan, bahkan diberitakan masih memerlukan waktu 12–18 bulan lagi untuk suatu vaksin dapat diedarkan secara resmi, membuat masyarakat semakin merasa stres dan waswas dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Stres yang berlebihan perlu dikendalikan melalui dua cara yang banyak dikenal di kalangan psikologi. Yaitu, emotion focused-coping dan problem focused-coping. Emotion focused-coping merupakan cara pengendalian stres melalui pengelolaan emosi yang tidak berfokus langsung pada penyelesaian masalahnya. Sebaliknya, problem focused-coping adalah upaya pengendalian stres dengan berfokus langsung pada penyelesaian masalahnya. Dalam mengendalikan stres di tengah pandemi korona ini, masyarakat perlu mengupayakan dua coping tersebut.

Menyadari Karunia

Emosi yang berlebihan akibat stres bisa membawa dampak yang lebih mengerikan daripada sumber stres itu sendiri. Apalagi jika sumber stresnya adalah pandemi korona, yang tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat. Karena itu, setiap orang perlu mengelola emosinya dengan baik supaya kehidupannya tetap berjalan dengan produktif dan efektif. Salah satu cara pengelolaan emosi di kala stres adalah merestrukturisasi kembali pikiran-pikiran negatif kita. Yaitu, mengubah cara pandang seseorang yang dulu hanya melulu negatif menjadi lebih positif terhadap suatu peristiwa. Alih-alih hanya terpaku pada berita-berita buruk, masyarakat juga perlu menyadari ’’karunia’’ atau hal-hal positif di balik pandemi korona sambil tetap waspada dan mengikuti anjuran-anjuran dari pemerintah.

Salah satu ’’karunia’’ yang dapat kita lihat adalah kualitas udara yang lebih baik. Sejak banyak pengusaha dan pekerja yang terpaksa work from home (WFH), dilaporkan bahwa polusi berkurang dan kualitas udara di Tiongkok, New York, Jakarta, serta di berbagai kota besar lainnya menjadi lebih baik. Saat Italia mengalami lockdown, air kanal Venesia menjadi lebih jernih. Bahkan, muncul lumba-lumba. Marshall Burke, ekonom sumber daya lingkungan dari Stanford University, menduga, berkurangnya polusi dan meningkatnya kualitas udara di tengah wabah korona dapat menyehatkan dan menyelamatkan nyawa populasi di bumi, seakan wabah korona dapat ’’diatasi’’ oleh efek positif wabah korona itu sendiri.

Work-life balanced juga dapat menjadi ’’karunia’’ tersendiri bagi banyak pekerja yang harus menyelesaikan tugas-tugasnya dari rumah (WFH). Kesempatan untuk mengatur waktu kerjanya sendiri membuat banyak pekerja lebih merasa lebih fleksibel dalam mengelola kualitas hidup. Bagi pekerja yang sudah berkeluarga, WFH juga menjadi kesempatan untuk mempererat relasi dengan pasangan dan anak-anak di rumah. Meskipun masih ada tantangan-tantangan di balik WFH, para pekerja harus lebih melihat sisi positifnya, khususnya dalam meningkatkan work-life balance yang dapat meredakan stres. Masih banyak ’’karunia’’ yang dapat dipikirkan masyarakat sebagai emotion focused-coping. Perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih sehat, peningkatan kepedulian terhadap sesama, dan peluang perdamaian antarnegara besar di dunia (yang sebelumnya bermusuhan) demi memerangi korona menjadi beberapa karunia yang dapat dipikirkan untuk meredakan stres di tengah-tengah pandemi ini.

Terus Berkarya

Stres yang dikendalikan dengan emotion focused-coping tidak akan bertahan lama karena sumber permasalahannya, pandemi korona, belum hilang sampai saat ini. Masyarakat perlu mengupayakan pengelolaan stres yang berfokus pada permasalahannya (problem focused-coping). Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan masyarakat awam yang bukan tenaga kesehatan? Banyak yang bisa dilakukan masyarakat awam untuk membantu menyelesaikan pandemi Covid-19 ini. Berhubung saat ini sebagian besar masyarakat memiliki problem atau sumber stres yang sama, yaitu pandemi korona, dalam menyelesaikan masalah tersebut, diperlukan kekompakan dan kerja sama untuk mengalahkan musuh bersama itu.

Physical distancing yang terus-menerus dianjurkan pemerintah merupakan salah satu kunci penghambat persebaran virus. Mulai membatasi diri sendiri keluar rumah, sedapat mungkin bekerja atau belajar dari rumah, sudah merupakan ’’karya’’ nyata yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi problem korona. Lebih jauh, masyarakat juga bisa berkarya dengan mengajak keluarga, rekan kerja, tetangga, dan kerabat lain untuk sebisa-bisanya melakukan physical distancing, baik melalui media sosial maupun platform-platform lain. Karya yang sederhana itu akan berdampak besar jika dilakukan sebagian besar masyarakat.

Tetap bekerja dengan tenang di tengah-tengah wabah korona juga menjadi karya nyata untuk mengendalikan stres. Layanan masyarakat dan pendidikan tetap harus berjalan dengan baik di tengah-tengah wabah korona sehingga setiap pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan anjuran pemerintah dapat menjadi karya yang bernilai dalam meredakan ketegangan. Setiap karya kita dapat menjadi susunan-susunan batu bata yang berharga untuk membendung problem yang sebenarnya, pandemi korona. Belajar mensyukuri ’’karunia’’ dan tetap berkarya di tengah stres korona. (*)

Jimmy E. Kurniawan – Dekan Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya