Bejattt…. Mamak Cabuli Keponakan 4 Tahun!!!

44
TIDAK BERKUTIK: Pelaku percobaan pencabulan diamankan di Mapolres Pariaman, Minggu (5/6).

Predator anak masih berkeliaran di mana-mana. Tak terkecuali keluarga dekat sendiri. Karena itu pengawasan terhadap anak di bawah umur harus terus ditingkatkan.

Di Sijunjung, seorang pria paruh baya berinisial N, 56,  warga Jorong Kototuo, Nagari Lubuktarok, Kecamatan Lubuktarok, ditangkap Tim Gabungan Reskrim Polsek Lubuktarok – Opsnal Sat Reskim Polres Sijunjung atas dugaan kasus pencabulan anak di bawah umur, Minggu (5/6).

Di hadapan penyidik, pelaku mengaku khilaf dan akan bertobat. Ironisnya, pelaku justru merupakan berstatus mamak (paman) korban, dan selama ini sekaligus menjadi orangtua asuh bagi korban, hingga sudah dianggap bak ayah sendiri oleh korban. Namun entah dirasuki setan apa,  perbuatan terkutuk itu tega-teganya dilakukan pelaku terhadap korban yang telah yatim piatu.

Kasat Reskrim Polres Sijunjung AKP Abdul Kadir Jainali mengungkapkan, perbuatan tersebut diduga sudah dilakukan pelaku sejak korban berusia 11 tahun atau masih duduk di bangku kelas V SD. Kini korban sudah berusia 15 tahun.

Kedua orangtua korban telah meninggal dunia, hingga pelaku berinisiatif untuk menjadi orangtua asuh korban. Niat baik tersebut turut didukung segenap sanak famili dan anggota keluarga lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu pelaku malah punya itikad buruk mencabuli keponankannya itu. Tiap kali minta dilayani, korban nyaris tidak kuasa untuk menolaknya. Sewaktu-waktu pelaku juga mengancam korban bila keinginannya tidak dipenuhi.

“Awalnya, dalam keadaan rumah sedang sepi, hanya ada korban dan pelaku, pelaku mencabuli korban dengan iming iming diberi uang Rp20 ribu. Waktu itu korban masih  kelas V SD,” ujar Abdul Kadir Jailani kepada Padang Ekspres, Senin (6/6).

Karena ketagihan, perbuatan bejat tersebut diam-diam terus berulang, hingga korban saat ini telah berusia 15 tahun. Misteri kelam ini pun nyaris tertutup rapat, dan tidak seorang pun yang mengetahuinya.  Korban tak berani bersuara karena berada di bawah ancaman pelaku.

Aksi bejat ini akhirnya terungkap saat salah seorang anggota keluarga korban yang merantau di Palembang pulang ke kampung halaman, dan melihat ada yang aneh pada perilaku korban.  Korban sering pulang malam, dan di rumah selalu tampak murung sendirian.

Merasa penasaran melihat perilaku korban,  ia lantas mencoba menanyakan apa sesungguhnya yang telah terjadi. Setelah digali informasi dari korban, pihak keluarga spontan kaget atas pengakuan korban.

Kemudian pihak keluarga membawa korban ke Kantor Polsek Lubuktarok dan secara resmi melaporkan kasus asusila yang telah menimpa korban. Seiring itu dilakukan visum ke rumah sakit, dan proses penyelidikan.

Berdasarkan hasil interogasi dan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak, akhirnya Tim Penyidik Lolsek Lubuktarok berasama Polres Sijunjung melakukan proses penangkapan terhadap pelaku, N, Minggu (5/6).  Pelaku ditangkap tanpa perlawanan.

Kanit PPA, Aipda Anton Sudarta, menyebut, menurut pegakuan korban, ia diduga telah dicabuli pamannya berkali-kali,  bahkan korban sudah tidak ingat lagi sudah berapa kali. Aksi kejahatan terjadi semenjak korban kelas V SD, usia sekitar 11 tahun.

Sedangkan berdasarkan pengakuan pelaku, terlanjur melakukan perbuatan itu tujuh kali. Pelaku kini mengaku menyesal dan ingin bertobat. Untuk kepentingan proses penyelidikan lebih lanjut, penyidik Polres Sijunjung telah mengamankan sejumlah barang bukti (BB).

Di antaranya, 1 helai alas kasur berwarna biru, 1 helai celana berwarna biru muda milik korban, 1 helai celana berwarna abu-abu milik pelaku, 1 helai baju berwarna hitam milik korban, 1 helai celana dalam berwarna merah jambu milik korban,  serta 1 helai baju berwarna coklat milik pelaku.

Baca Juga:  Gebu Minang Jawa Timur Gelar Pertandingan Domino Spesial HUT ke-77 RI 

Atas perbuatannya, pelaku dapat dikenakan pasal 76 d jo Pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang, dengan acaman hukuman minimal 5 tahun penjara, maksimal 15 tahun penjara.

Saat ini katanya, di Polres Sijunjung ada tujuh kasus yang sedang ditangani pihaknya. Yakni enam kasus pesetubuhan anak di bawah umur yang mejadi korban anak dalam rentang umur 11 hingga 15 tahun. Satu kasus pemerkosaan tehadap seorang perempuan masuk dalam kategori dewasa.

Terkait masih tingginya kasus pencabulan di Kabupaten Sijunjung, para orangtua dihimbau agar selalu waspada, serta proaktif mengawasi gaya pergaulan kalangan anak-anak dan remaja.

Nyaris Diperkosa

Seorang anak perempuan di Desa Sungaipasak Kota Pariaman juga hampir jadi korban pemerkosaan seorang pria. Korban sempat diseret ke semak-semak namun kemudian korban menggigit tangan pelaku dan berhasil lepas dari pelaku.

Percobaan pancabulan ini terjadi Sabtu (4/6) di pinggir jalan di Desa Sungai Pasak Pariaman Timur. Saat itu pelaku OS, 24, berdomisili di Batangkabung Pariaman Timur berada di Sungaipasak hendak menggali pasir. Pelaku yang berjalan menuju sungai untuk mengambil pasir melihat korban A,9, berjalan menuju sekolahnya.

Entah apa yang meracuni otak pelaku, melihat A, dia langsung menarik tangan korban dan menyumpal mulut korban dengan kain yang biasa ia gunakan untuk mengelap keringat saat bekerja.

Pelaku kemudian berusaha menyeret korban hingga ke semak-semak. Korban pun melawan, ia kemudian bisa membuang kain yang menyumpal mulutnya. Korban berteriak dan menggigit tangan pelaku hingga kemudian pelaku melepaskan korban. Korban pun berlari ke rumahnya dengan sangat ketakutan.

“Begitu mendapat laporan dugaan percobaan pencabulan dari orangtua korban, tim langsung bergerak. Pelaku kemudian berhasil diamankan sekitar pukul 22. 00, Minggu (5/6),” ujar Kasat Reskrim Polres Pariaman AKP Muhammad Arvi kepada Padang Ekspres di ruang kerjanya, kemarin (6/6).

Pengakuan pelaku, ia melakukan hal tersebut karena sudah empat hari ditinggalkan istrinya. Kondisi tersebut yang kemudian mendorongnya melakukan aksi bejat kepada pelajar yang kebetulan lewat di depannya. Kebejatan pelaku ini dalam percobaan pencabulan terhadap anak terancam hukuman di atas lima tahun penjara.

Arvi mengingatkan orangtua untuk terus meningkatkan pengawasan terhadap anak, kapanpun dan dimanapun, baik anak perempuan maupun laki-laki.  Apalagi kasus pencabulan terhadap anak di wilayah hukum Polres Pariaman (Kota Pariaman dan sebagian wilayah Kabupaten Padangpariaman) cukup tinggi.

Hingga saat ini mulai Januari hingga Juni sudah 8 kasus yang ditangani oleh Polres Pariaman. Enam kasus diantaranya, pelaku merupakan orang yang dikenal korban bahkan beberapa diantaranya pelaku adalah kerabat korban.

“Korban dibawah umur adalah anak perempuan dan anak laki-laki. Untuk itu orangtua terus tingkatkan kewaspadaan, awasi pergaulan anak-anak kita,” ujarnya. (atn/nia)