KPID Sumbar Dorong Industri Radio Sumbar Bangkit Kembali

54
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Sumbar, Dasrul.

Kondisi radio di Provinsi Sumatera Barat mengalami masa suram. Apalagi sejak pandemi Covid-19 melanda, pembatasan anggaran publikasi dan sosialisasi Pemerintah Daerah  ataupun swasta menyebabkan iklan yang menjadi hidupnya media massa (termasuk radio) semakin sulit diperoleh.

Two Efly, Wartawan Ekonomi Sumbar mengatakan radio akan terus eksis, terutama bagi mereka yang tidak punya banyak waktu untuk membaca berita. Mendengar radio menjadi pilihan untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.

“Pedagang misalnya, mereka tak sempat untuk membaca. Tentunya mereka ingin tetap mendapatkan informasi dari apa yang didengar. Nah, bagaimana radio menyuguhkan konten yang sesuai dan menarik, akan sangat menentukan keberlangsungan siaran radio,” sebut Two Efly di Padang, Selasa (7/6/2022).

Ia mencontohkan, radio bisa masuk ke segmen berita dari Pasar Raya Padang dengan menyuguhkan  informasi perkembangan harga sembako. Bagi pembeli yang akan berbelanja, itu sangat penting. Konten-konten ringan seperti ini diperlukan menyesuaikan kebutuhan informasi dari pendengar.

“Intinya menjaga konten untuk dihantarkan ke telinga pendengarnya. Seperti Radio Elshinta yang eksis di Jakarta karena mengabarkan informasi lalulintas, titik kemacetan dan kebutuhan informasi bagi mereka yang berkendara. Kenapa radio di Padang atau Sumbar tidak mengabarkan hal serupa, sebab radio tidak hanya bisa didengar di mobil, tapi juga dari gadget,” ungkapnya.

Ia menyebutkan core bisnis dari industri media itu harusnya diketahui pemilik radio di Sumbar. Sebab selera masyarakat untuk mendapatkan informasi sudah bergeser.

“Dulu ada istilah, kalau belum baca  koran belum mengetahui  berita. Namun muncul media online yang beritanya bisa diakses dan dibaca dari gadget, ini ikut berdampak ke koran. Sehingga koran dituntut melakukan inovasi agar pasarnya tetap ada,” ungkapnya.

Disampaikannya, radio di Sumbar belum menemukan pasarnya. Mereka malah memaksa pendengarnya mengikuti segmen yang mereka inginkan, bukan yang pendengar inginkan.

“Radio harus mengenali segmennya. Selera pendengar sekarang, dengan yang dulu banyak komunitas radio, tentu berbeda. Begitu kuatnya radio di masa lampau, sehingga ada yang hilang kalau belum mendengar radio,” terangnya.

Jejeng: KPID Sumbar Diminta jadi Motor Penggerak

Jejeng Azwardi, salah seorang pemilik radio di Sumbar menyebutkan radio di Sumbar beberapa tahun terakhir mengalami masa suram. Bahkan akibat pandemi, banyak yang berada di titik nol.

“Lumpuhnya ekonomi akibat Covid-19 menyebabkan semua berdampak, termasuk radio. Semuanya serba susah, kita hidupnya dari iklan. Sementara pemerintah dan swasta melakukan efiensi anggaran untuk sosialisasi,” beber GM Arbes FM ini.

Baca Juga:  Yuliandre Darwis: Banyak Literasi di Padang Bisa Jadi Bahan Konten Kreatif

“Kita berharap setelah pandemi, kondisi kembali pulih. Sebab radio punya segmen sendiri, kita tidak boleh pesimistis menganggap media lainnya saingan,” ujarnya.

Ia menuturkan, radio Arbes FM misalnya saat mati lampu banyak pendengar menelepon. Itu menjadi bukti radio masih didengar. Sehingga relasi masih tetap pasang iklan di Arbes meskipun mereka juga pasang iklan di media sosial atau media lainnya.

“Menyiapkan segmen yang sesuai itu selalu kita sampaikan. Di tingkat nasional, forum diskusi radio itu sering dibahas. Namun di tingkat lokal kita tergolong lambat membahasnya. Harapannya Komisi Penyiaran Indonesia  Daerah (KPID Sumbar) dapat memotori, sebab radio di Sumbar belum kompak,” ujarnya.

Selain itu, ia menyebutkan radio juga dituntut tetap profesional dalam bermedia. Radio Arbes FM yang mulai berdiri sejak 1 Mei 1972, pamornya di nasional sampai sekarang masih bagus, sehingga bagi relasi yang ingin memasang iklan masih menjadikannya pilihan pertama.

“Kita bisa dijual oleh biro iklan, siapa yang lengkap tentu yang dipilih. Manajemen harus kuat. Teman-teman radio mesti bergandengan tangan, tetap hidup, tetap punya pasar. Pemerintah juga ikut mendorong agar radio tetap ada dan didengar,” bebernya.

KPID Sumbar Wacanakan Pertemuan

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumbar Dasrul menyebutkan radio merupakan perusahaan pers yang legal, jangan menjadikan media online, koran atau televisi saingan karena pasarnya berbeda.

“KPID akan mengayomi dan mendorong agar bisnis radio di Sumbar tetap berjalan dan dapat maju dengan edukasi yang diberikan. Dalam waktu dekat kita bakal mengadakan pertemuan dengan para pemilik radio di Sumbar,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, meskipun ada beberapa radio yang hilang namun juga ada muncul yang baru. Saat ini terdapat 88 radio di Sumbar. Terdiri dari LPP 3, swasta 68, LPK 4, radio berbasis blog 8 dan LPK yang dikelola Kominfo 5.

“Rinciannya sebaran radio di Sumbar tersebut, di Padang 31, Padangpariaman 3, Pariaman 2, Padangpanjang 3, Bukitttinggi 8, Tanahdatar 6, Payakumbuh 3, Limapuluh Kota 3,Pasaman Barat 5. Pasaman 1, Kota Solok  2, Kabupaten Solok 2, Solok Selatan 1, Sawahlunto 1, Sijunjung 5, Dharmasraya 4, Pessel 4, Mentawai 1, dan Agam 1 radio,” ujar Dasrul. (*)