3.684 UMKM Terdampak Covid-19

Tim Direktorat Binmas Polda Sumbar menyosialisasikan kewajiban menggunakan masker di Pasar Raya Padang, kemarin. (IST)

Sebanyak 3.684 dari 7.117 usaha mikro kecil menengah (UMKM) terancam gulung tikar karena terdampak pandemi virus korona (covid-19). Sebagian besar UMKM tersebut sudah tutup dan tidak berjualan. Sementara yang survive (bertahan, red) penghasilannya juga mengalami penurunan drastis.

Rincian 3.684 UMKM yang terdampak tersebut tersebar di 4 kecamatan di Kota Pariaman. Untuk Kecamatan Pariaman Utara dari total 1.505 UMKM yang ada, terdampak sebanyak 1.209 UMKM. Kecamatan Pariaman Timur dari total 1.300 UMKM, yang terdampak 844 UMKM. Kecamatan Pariaman Selatan dari total 1.443 UMKM, terdampak sebanyak 778 UMKM. Sedangkan di Kecamatan Pariaman Tengah total 2.869 UMKM yang terdampak sebanyak 853 UMKM.

“Saat ini Dinas Perindagkop & UKM Kota Pariaman berusaha untuk membantu pelaku usaha tersebut dengan berbagai upaya. Tentunya dengan mengikuti arahan dan bantuan dari pemerintah tentang stimulus terhadap UMKM di Indonesia yang terdampak virus korona,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pariaman Gusniyeti Zaunit.

Saat ini, sebut Gusniyeti, pihaknya juga terus memberdayakan UMKM yang masih aktif untuk melakukan pembuatan APD bagi tim medis dan gugus tugas penanganan Covid-19. “Sudah ada beberapa UMKM yang membuat APD pesanan dari beberapa dinas untuk tenaga medis dan tim gugus tugas yang ada di posko-posko tanggap darurat,” ujarnya.
Ia berharap UMKM yang terdampak  mengambil peluang  untuk terus bertahan di tengah ekonomi masyarakat yang turun saat ini.

Relokasi Anggaran
Sementara itu, dalam penanganan maksimal pandemi Covid-19, Pemko Padangpanjang menyiapkan dana sekitar Rp13 miliar. Anggaran itu berasal dari relokasi anggaran dengan memangkas sejumlah kegiatan pada organisasi perangkat daerah (OPD).

“Relokasi anggaran yang dilakukan tersebut, penggunaan nantinya teruntuk bagi penanganan kesehatan masyarakat dan tindakan preventif terkait dengan pandemik virus korona. Selain itu juga guna menyikapi dampak sosial dan ekonomi daerah yang ditimbulkan kebijakan dalam pencegahan penyebaran virus di Padangpanjang,” ujar

Sekretaris Kota (Sekko) Padangpanjang, Sonny Budaya Putra, usai meninjau pos pemantauan akses masuk kendaraan di ger bang kota Padangpanjang-Bukittinggi Selasa (7/4). Selain ketersediaan dana tanggap bencana, pemko juga telah melakukan pengumpulan zakat dan sedekah Aparatur Sipil Negara (ASN). “Total anggaran dihimpun ditambah support dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Padangpanjang mencapai Rp 520 juta,” tuturnya.

Untuk merealisikan relokasi anggaran sekitar Rp 13 milliar tersebut hingga saat ini masih menunggu petunjuk dar Pemprov Sumbar. Karena itu, Pemko Padangpanjang masih bertumpu pada dana tanggap becana dengan serapan telah mencapai Rp 570 juta untuk kebutuhan untuk kebutuhan alat pelindung diri (APD) serta bahan disinfektan. “Sedangkan dana hasil pengumpulan infak dan sedekah ASN serta anggaran Baznas telah kita kucurkan dalam bentuk bantuan sembako sebanyak 3.480 paket. Total setiap paket Rp151.000 berisikan 10 kilogram beras, 1 liter minyak goreng dan 1 kilogram gula pasir,” jelas Sonny yang juga Ketua Umum Gugus Tugas PPVC Kota Padangpanjang.

Untuk sasaran bantuan sosial ekonomi Padangpanjang Peduli tersebut bakal dilakukan pengembangan. Kebijakan penanganan becana Covid-19 diakuinya juga berdampak terhadap masyarakat di kalangan ekonomi menengah ke bawah. Karena itu saat ini jajaran Pemko Padangpanjang berkoordinasi guna memetakan sasaran penerima bantuan tahapan berikutnya.

“Tahap pertama yang kita bagikan pada Sabtu (4/4) lalu, selain warga yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Kesejahteraan Sosial (DTKS), 15 persen penerima lainnya merupakan masyarakat kita yang tidak masuk dalam data tersebut. Ini yang kita tengah diskusikan bersama jajaran kecamatan dan Dinas Sosial, sasaran penerima selain DTKS,” pungkas Sonny. (nia/wrd)