Terminal Senilai Rp70 Miliar di Anak Air masih Sepi. Apa Masalahnya?

123
Suasana di dalam gedung Terminal Anak Air Kota Padang. (Foto: Official Padang TV News)

Resmi beroperasi sejak 23 Desember 2021, Terminal ‘Tipe A’ Anak Air Padang hingga kini masih sepi aktivitas. Satu-satunya terminal bus di Kota Padang, pengganti Terminal Air Pacah itu dibangun Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan senilai Rp70 Miliar. Banyak pertanyaan terhadap fenomena ini. Ada apa, dan apa masalahnya?

Dari beberapa sudut pandang sopir bus yang masih mangkal di tepi jalan menyatakan, Pemerintah harus mengeluarkan regulasi untuk PO Bus agar mereka semua harus masuk ke terminal.

Jasman, sopir bus AKDP yang mangkal di depan Stasiun Tabing mengatakan, regulasi atau pengaturan yang masih belum jelas dari pemerintah, menyebabkan mereka tidak masuk ke terminal. Jasman merasa dirugikan.

“Kita menginginkan kejelasan regulasi dari Pemerintah bahwa setiap bus, baik dari arah Selatan maupun Utara, wajib masuk ke terminal untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Saat ini yang disuruh masuk ke terminal hanya bus dari arah utara saja, Pariaman, Padangpariaman, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh. Lalu bagaimana dengan yang dari arah Selatan? Tentu mereka lebih leluasa mencari penumpang,”ujar Jasman.

Jasman juga mengatakan, angkot juga harus diwajibkan masuk ke terminal agar bisa mengambil penumpang dari Pasar Raya Padang yang ingin keluar daerah dengan barang bawaan yang banyak. Jadi tidak hanya mengandalkan penumpang Trans Padang saja.

“Target penumpang bus AKDP salah satunya adalah masyarakat luar daerah yang berbelanja barang dagangan di Pasar Raya. Mereka ini membawa barang banyak sekali. Tidak memungkinkan membawa barang banyak, menggunakan bus Trans Padang. Tentu angkot yang lebih dekat jaraknya dengan mereka. Sedangkan angkot belum dibolehkan masuk ke Terminal Anak Aia itu. Kami berharap hal ini dipertimbangkan,”ungkap Jasman.

Baca Juga:  Wamen Pahala Dorong PT PIM Bangun Ketahanan Pangan dan Ketahanan Energi

Hal yang sama juga diutarakan oleh Ood, pengurus PO Bus AKDP. Ia mengatakan jika mereka masuk terminal, penumpang langganannya akan disikat oleh travel-travel ilegal yang tidak diregulasikan masuk terminal.

“Tujuan kita ngetem di tepi jalan seperti ini, salah satunya agar gampang dijangkau masyarakat. Jika kita masuk terminal, apakah Pemerintah mau menjamin para penumpang kami tidak hilang di jalan? Apalagi banyak travel-travel tanpa izin yang bisa mengambil penumpang langsung di depan rumah. Tentu jika mereka tidak diberantas, masuk terminal sama saja dengan bunuh diri,” ujar Ood berapi-api.

Kepada Padang Ekspres, kedua orang ini juga menilai posisi/letak Terminal Anak Air sangat tidak strategis, dikarenakan terlalu jauh di pinggiran kota. “Jika letaknya seperti di bekas bandara lama (Bandara Tabing), itu bisa diperhitungkan keberadaan terminalnya, karena kawasan Tabing berada tepat di pertengahan kota. Terminal yang sekarang itu jauh di pinggir kota, penumpang kami pun berpikir panjang untuk turun di sana,” ucap Ood yang diamini Jasman.

Mereka yakin, jika semua hal yang diharapkan para sopir dan pengelola bus diwujudkan maka, seluruh sopir AKAP dan AKDP akan masuk ke terminal dengan sendirinya. “Nantinya pasti semua bus akan hadir ke terminal untuk mengambil dan menurunkan penumpang,” timpal Jasman. (cr1)