Kada Mesti Bangun Granddesign Lingkungan

ilustrasi. (net)

Isril Berd
Guru Besar Fateta Unand / Ketua Forum DAS Padang

Banjir lagi, longsor lagi. Kalau begini terus kita dicekam bencana tentu keselamatan dan keterpurukan kesejahteraan akan terpapar terus menerus, di samping pandemi Covid-19 masih merarah terus dengan semakin banyak orang terpapar positif. Salahkah kalau masyarakat mengimbau untuk mencari dan memilih penjabat pengelola provinsi, kabupaten maupun kota orang mengerti, paham dan peduli tentang biofisik dan lingkungan Sumbar dan daerah kabupaten dan kota ini? Bukan hanya totalitas memburu Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa peduli menjaga dan memelihara biofisik sosekbud daerah ini.

Karena, kini calon kepala daerah (cakada) sudah ada, tentu kita tidak lagi dalam tahapan mencari. Tapi, kita kini dihadapkan kepada harus memilih. Pilihan kita sangat terbatas dari calon yang sudah ada tersebut dan siapa di antaranya yang paham dan mengerti, serta punya kemauan meperhatikan dan memelihara, serta berbuat untuk memulihkannya biofisik daerah ini. Adakah granddesign pengelolaan lingkungan dan pembangunan daerah ini untuk kesejahteraan masyarakat dalam program program yang mereka usung.

Banjir dan longsor yang terjadi akhir-akhir ini fenomena bencana alam sangat mecekam dan menakutkan. Di mana-mana khusnya di Padang, kemarin banjir menggenangi jalan utama seperti layaknya sebuah sungai. Sebut saja, Jalan Khatib Sulaiman, Raden Saleh, Adinegoro, Airtawar, Tunggulhitam, Gunungpangilun dan lain-lainnya, kawasan pemukiman digenangi banjir maupun daerah lainnya, juga kawasan yang sejak dulunya seperti itu.

Penyebab utamanya adalah intesitas hujan yang tinggi. Di samping itu, juga dampak rusaknya hulu-hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat penebangan hutan, pembukaan kebun-kebun baru, perladangan, eksploitasi bahan tambang dan bahan galian, maupun pembukaan jalan baru dan lain-lainnya. Longsor bagian dari gerakan tanah yang menyebabkan berpindah atau bergesernya massa tanah dari daerah berenergi potensial tinggi ke daerah dengan berenergi potensial rendah.

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Bahaya longsor terjadi dalam waktu cepat, bahkan mungkin secara tiba-tiba. Batuan/ tanah longsor contoh yang spektakuler dari proses geologi yang merupakan perpindahan masa batuan, regolit dan tanah dari tempat tinggi ke tempat rendah karena gaya gravitasi.

Setelah batuan lapuk, gaya gravitasi menarik material hasil pelapukan ke tempat lebih rendah. Meskipun gravitasi faktor utama terjadinya mass wasting, namun juga ada beberapa faktor lain yang berpengaruh terhadap terjadinya proses tersebut. Air salah satu dari faktor-faktor yang sangat menentukan. Apabila pori-pori tanah terisi oleh air, maka gaya kohesi antar material semakin lemah, sehingga memungkinkan partikel-partikel tersebut dengan mudah untuk bergerak dan bergeser, serta lepas.

Proses terjadinya tanah longsor lebih jauh dapat juga dijelaskan bahwa air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah, sehingga dapat terjadi jatuhan atau luncuran batuan apabila air meresap dalam retakan saat hujan. Atau, apabila terjadi getaran pada lereng ataupun tiupan angin menggoyang pepohonan yang tumbuh diatas lahan tersebut dan menimbulkan getaran sampai kepangkal pohon.

Baca Juga:  Pesan-pesan Keselamatan Jalan di Halte Kota Padang. Apa Isi Pesannya?

Gaya goyangan ini akan memicu lepasnya lapisan tanah yang sudah jenuh air akibat curah hujan tersebut, seperti yang pernah terjadi di Bukit Tui, Bukit Lantiak, tebing-tebing jalan di Lubukbangku, Kelok 44, Lembah Anai, dan minggu ini longsor di Sitinjau Lawik dan Kelok Jariang Painan, Pesisir Selatan.

Bencana alam longsor dapat diakibatkan oleh faktor alamiah dan faktor non alamiah. Faktor alamiah penyebab terjadinya longsor adalah; 1) Kondisi geologi yaitu adanya jalur-jalur patahan dan rengkahan batuan yang mengakibatkan kondisi lereng mempunyai kemiringan >30 % dan tumpukan tanah liat berpasir di atas batuan kedap air berupa andesit dan breksi andesit; 2) Kondisi curah hujan yang cukup tinggi setiap tahunnya; Dan 3) sistem hidrologi pada daerah lereng. Faktor non alamiah adalah; 1) Pembukaan hutan secara sembarangan; 2) Penanaman jenis tanaman yang terlalu berat dengan jarak tanam yang terlalu rapat; 3) Pemotongan tebing/lereng untuk jalan dan pemukiman secara tidak teratur.

Banyak kondisi di alam ini yang menyebabkan keadaan banjir dan longsor tersebut terjadi, seperti sungai yang menggerus dinding lembah meander sungai dengan water hammernya, dan ombak dengan hantaman gelombangnya terjadi abarasi yang mengikis bagian dasar dari tebing pantai. Manusia mengeksploitasi hutan dan lahan juga dapat menyebabkan kemiringan lereng yang menjadi semakin besar sehingga dapat mengakibatkan terjadinya mass wasting, longsor tersebut.

Dari informasi BMKG bulan Juli, Agus, September diketahui cuaca ekstrem selalau melanda Sumbar dengan jumlah curah hujan yang cukup besar melebihi rata curah hujan yan pada umumnya itu mengakibatkan terjadi banjir dan longsor sangat luar biasa kedahsatannya.
Bahaya longsor dapat dikurangi dengan menghindarkan pembangunan pada lereng curam dan daerah rawan longsor, atau dengan memantapkan lereng. Pemantapan tanah melalui; (1) Penutupan longsor dengan membran impermeabel; 2) Menjauhkan air permukaan dari longsor; (3) Mengeringkan air tanah jauh dari longsor; Dan (4) meminimumkan irigasi permukaan.

Sedangkan untuk mitigasi banjir harus dilakukan secara holistik baik melakukan normalisasi sungai, pembuatan embung-embung di hulu DAS, rebaoisasi, dan hilir DAS terutama idaerah pemukiman dibuat waduk-waduk retensi, sumur-sumur resapan, biopori, perbaikan dan penambahan saluran drainase yang cukup seimbang guna mengatasi banjir.

Oleh karena itu, kita menginginkan kepala daerah yang punya grand design tentang pengelolaan lingkungan biofisik dan sosekbud, serta mengangkat potensi daerah ini di bidang pertanian pangan dan non pangan, pariwisata, dan pendidikan. Dan, tentu harus didukung oleh kondisi bebas banjir dan longsor tidak terjadi berkepanjangan di mana mana di negeri kita ini, dan masyarakat merasa nyaman, serta sejahtera kehidupannya. Semoga. (*)