BPBD Perkuat Mitigasi dan Tanggap Darurat Bencana Alam dan Non-Alam

128

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat memiliki tugas dan fungsi penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Secara garis besar, meliputi prabencana, artinya tidak sedang terjadi bencana. Kemudian, meliputi potensi bencana, artinya menyiapkan kesiap-siagaan. Dan terakhir tanggap darurat.

Untuk tahun 2021, BPBD masih tetap memperkuat penanganan bencana alam yang dipicu cuaca ekstrem seperti banjir dan longsor serta mitigasi bencana gempa dengan melakukan simulasi peringatan dini.

Di samping itu, juga fokus dalam menyiapkan logistik untuk penanganan bencana nonalam Covid-19. Apalagi saat ini vaksin baru sampai ke Indonesia sebanyak 1,2 juta dan pandemi diperkirakan belum berakhir.

“Kesiapsiagaan misalnya, mitigasi dan peringatan dini bencana akan tetap jadi fokus kita di 2021. Apalagi diketahui daerah Sumbar rawan bencana. Sedangkan tanggap darurat dimulai dengan pengkajian secara cepat terhadap lokasi, kerusakan, sumberdaya, dan fungsi-fungsi pelayanan umum,” jelas Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Sumbar, Erman Rahman, Jumat (11/12/2020).

Berdasarkan kondisi aktual saat ini, kata Erman, sarana dan prasarana yang dimiliki dan yang dibutuhkan untuk menunjang tugas dan fungsi BPBD Sumbar, belumlah memadai. Terlebih lagi BPBD Sumbar belum memiliki gedung kantor sendiri–masih menempati gedung kantor milik instansi lain.

Namun yang terpenting, dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi BPBD Sumbar pada saat tanggap darurat, sangat dibutuhkan ketersediaan peralatan, dan logistik stock opname yang siap sedia.

“Diharapkan dalam periode lima tahun ke depan, pembangunan gedung kantor BPBD Sumbar dapat dilaksanakan, serta penyediaan peralatan, dan logistik stock opname dapat dimasukkan dalam kebijakan anggaran setiap tahunnya,” kata mantan Pjs Bupati Tanahdatar ini.

Pihaknya harus selalu siap siaga dan tanggap dalam penanggulangan bencana di 19 kabupaten dan kota di Sumbar. Apalagi daerah ini diketahui rawan bencana.

Penanggulangan bencana yang menjadi prioritas di Sumatera Barat antara lain; bencana akibat cuaca ekstrim, banjir, letusan gunung api, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, gempa bumi dan tsunami,

Pemerintah daerah dan masyarakat telah menyadari potensi bencana luar biasa tersebut, dan sejumlah langkah yang merupakan bagian dari mitigasi bencana telah dilakukan dengan dukungan berbagai pihak.

Pengadaan dan pemasangan sejumlah peralatan moderen terkait penanggulangan bencana telah dilakukan, beragam media visual dan elektronik telah dibuat dan disosialisasikan kepada penduduk di kawasan yang terancam bencana, termasuk kepada komunitas pendidikan. “Jalur juga evakuasi telah ditetapkan, latihan evakuasi telah diadakan berkali-kali, dan lain sebagainya,” katanya.

Masa Pandemi

Tahun 2020, sebagai bagian dari Tim Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumbar, BPBD Sumbar juga fokus dalam menyiapkan logistik penanganan bencana nonalam, yakni merebaknya virus corona (Covid-19).

“Kita di BPBD Sumbar juga dituntut siap dalam penyediaan alat perlindungan diri (APD) bagi tenaga kesehatan, disinfektan, dan sanitizer untuk penanganan Covid-19. Seluruh bantuan sudah tersalurkan ke seluruh rumah sakit rujukan dan masyarakat Sumbar,” katanya.

Untuk tahun 2021 nanti, BPBD juga akan fokus ke sana. Semoga pandemi ini cepat berakhir.

Baca Juga:  Pelunasan Biaya Haji Ditenggat 20 Mei, CJH Segera Konfirmasi Pelunasan

“Kita rutin ekspose kepada media ketika logistik tiba dan dibagikan. Hal itu sebagai wujud komitmen kami untuk transparan dalam penanggulangan bencana. Saat menerima dan menyerahkan bantuan kita ajak media sebagai wujud transparansi karena yang kita gunakan itu adalah anggaran negara,” katanya.

Di masa pandemi Covid-19, BPBD Sumbar juga dihadapkan pada sejumlah peristiwa bencana seperti banjir bandang dan longsor. Seperti banjir di Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

”Bencana alam di Agam, BPBD menerjunkan personel ke lokasi untuk proses evakuasi dan penanganan bencana,” ujar Erman Rahman.

Banjir di Mentawai Mei lalu, yang merendam rumah ratusan KK, BPBD Sumbar juga menyalurkan bantuan logistik. ”Banjir Mentawai membuat ratusan KK mengungsi dan BPBD menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji,” ujarnya.

BPBD Sumbar Maret lalu juga melakukan simulasi tanggap darurat menghadapi gempa megathtrust. Dalam simulasi itu, helikopter bantuan BNPB bakal difungsikan.

Kinerja BPBD Sumbar itu mendapat apresiasi dari Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit. Apresiasi juga datang dari Kejaksaan Tinggi Sumbar, dan BPKP selaku pemberi pengawasan dalam setiap pengadaan logistik yang dilakukan BPBD.

Pada 22 Oktober lalu, BPBD Sumbar ke Kabupaten Kepulauan Mentawai, untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat dalam melakukan langkah mitigasi gempa dan tsunami. Hal itu dilakukan karena seringnya terjadi gempa akhir-akhir ini di daerah tersebut.

Seperti diketahui, gempa bumi 5,6 M terjadi di Mentawai, 19 Oktober 2020.

Data BMKG, sejak 10-19 Oktober 2020 terjadi 10 kali gempa di area episentrum megathrust Mentawai, dengan kekuatan di bawah 6,0 dan yang paling tinggi magnitudo 5,8.

“Kita juga memberikan dukungan bantuan untuk pencarian warga yang hilang beberapa waktu lalu di Agam serta berbagai bencana lainnya di kabupaten dan kota,” katanya.

Cegah Banjir Bandang

Musim hujan yang terjadi di penghujung tahun ini, juga menjadi perhatian BPBD Sumbar. Untuk mengantisipasi dampak banjir dan banjir bandang, dilakukan susur sungai di Kabupaten Solok Selatan, dan Kabupaten Solok.

Tim susur sungai bergerak pada 16-20 Oktober 2020 di Sungai Batang Bangko Janiah, Kecamatan Pauh Duo, Nagari Pekonina dan Nagari Pekonina Persiapan, Kabupaten Solok Selatan.

Sedangkan pembersihan hulu sungai di Kabupaten Solok dilakukan di Sungai Batang Laweh, Kecamatan Payung Sekaki.

Tim Pembersihan hulu sungai Batang Bangko Janiah dilepas di depan Pos Kerinci (gerbang masuk area Supreme Energy), atau 20 km arah selatan Muaro Labuah. Dari sana, tim beranggotakan 70 orang itu memulai kegiatan pembersihan limbah hutan pada sepanjang 1,5 kilometer aliran sungai.

“Kegiatan itu untuk mengantisipasi banjir bandang di Kabupaten Solok Selatan. Tim yang diturunkan antara lain berisikan TNI/Polri, PMI, Tagana, masyarakat siaga bencana dan masyarakat peduli sungai,” ujar Erman Rahman melalui Kasubid Kesiapsiagaan, Ilham Wahab.(idr)