Masih Potensi Letusan Abu, Pesawat Diminta Hindari Gunung Kerinci

Pengamatan PVMBG Kementerian ESDM pada pukul 14.28 WIB, Sabtu (11/4). (Foto: Magma ESDM)

Gunung Api Kerinci yang berada di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dan Kerinci Provinsi Jambi, masih level II atau waspada meski terjadi aktivitas hembusan asap dan kegempaan, Sabtu (11/4).

Masyarakat diminta tidak mendekati kawah dalam radius 3 km dan pesawat diminta menghindari jalur di sekitar puncak gunung karena masih memiliki potensi letusan abu.

Berdasarkan pantauan di laman magma Kementerian ESDM, laporan per 24 jam, pada Sabtu (11/4) pukul 00.00-24.00 WIB, cuaca cerah hingga hujan, dan angin sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 23-25 derajat celcius dan kelembaban 67-70%.

Dari pengamatan visual, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna cokelat dengan intensitas sedang tinggi sekitar 50-150 meter dari puncak.

Visual lainnya, terekam noise angin dan rekaman data seismik digital. Sementara data pengamatan kegempaan, terjadi 144 kali gempa hembusan dengan amplitudo 0.5-5 mm, dan lama gempa 10-25 detik. Lalu, sekali gempa tremor menerus dengan amplitudo 0.5-1 mm, dominan 1 mm.

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan Gunung Kerinci tidak mengalami erupsi. Aktivitas vulkanik gunung dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut, merupakan aktivitas pelepasan gas yang ditunjukkan oleh kegempaan dan hembusan kabut asap.

“Tidak ada Gunung Kerinci mengalami erupsi. Kami amati dari pos pengamatan setiap hari 24 jam. Hanya, gunungnya memang mengeluarkan asap. Itu aktivitas yang biasa,” kata Pengamat Gunung Api Kerinci, Rudra Wibowo, Minggu (12/4).

Namun, PVMBG merekomendasikan larangan masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung atau wisatawan mendaki kawah yang ada di puncak gunung dalam radius 3 km. “Kawah aktif dan masyarakat dilarang beraktivitas di dalam radius bahaya,” kata PVMBG.

Selain itu, PVMBG mengimbau pesawat sebaiknya menghindari jalur penerbangan di sekitar gunung karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.(ptr/esg)