Prokes Ketat Harga Mati, Patuhi Aturan Pemerintah

14
BERSIH-BERSIH: orang petugas Masjid Raya Sumbar membersihkan tikar lantai dua masjid yang akan dijadikan tempat pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan mendatang, Jumat (9/4) lalu. (IST)

Ritual ibadah bulan Ramadhan 1442 Hijriyah tahun 2021 ini hampir dipastikan belum bisa dijalankan secara normal. Belum berakhirnya wabah pandemi Covid-19, masih menjadi ancaman.

Namun, sejumlah kelonggaran sudah dibuat pemerintah salah satunya membolehkan Shalat Tarawih berjamaah di masjid lewat protokol kesehatan (prokes) ketat. Lantas bagaimana langkah antisipatif guna memastikan tidak terjadi penularan Covid-19 selama Ramadhan.

Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar menyebut, MUI Sumbar sudah mengeluarkan Maklumat dan Tausyiah tentang beribadah secara berjamaah di masa pandemi Covid-19. Menurutnya, beribadah secara berjamaah secara normal di masa pandemi tidak akan berdampak apa-apa.

”Jadi MUI Sumbar sudah meminta agar umat kalau shalat berjamaah seperti biasa, shaf lurus dan rapat. Terkecuali, ibadah umum yang tidak menyangkut dengan shaf seperti mendengarkan kajian, itu memang harus menjaga jarak,” ungkapnya.

Bahkan, menurutnya, untuk menghadapi wabah atau bala ini, tidak hanya sekadar ikhtiar medical. Sebagai umat muslim yang beriman, harus ada ikhtiar lain seperti bermunajat dan berdoa, serta meninggalkan kemaksiatan dan meningkatkan ketaatan.

”Bulan Ramadhan tiba, sudah saatnya kita meminta ampun kepada Allah atas dosa yang telah lalu. Meningkatkan doa karena orang berpuasa itu doanya mustajab. Termasuk saat melaksanakan shalat malam, witir, bertadarus Al-Quran itu saat beribadah dimana doa mustajabah,” terangnya.

Namun perkara protokol kesehatan mesti harus tetap dijalankan. Tidak ada halangan orang melaksanakan ibadah dengan menjalankan protokol kesehatan. Masyarakat dan umat sudah tahu terkait hal ini.

”Kemungkinan tertular saat beribadah itu kecil. Tapi, bukan berarti kita mengabaikan protokol kesehatan pula karena terkadang jamaah bersin ketika shalat dan berbagai macam. Untuk itu, dipakai masker untuk menghindari jangan jadi penularan. Jadi, jaga protokol kesehatan dengan disiplin,” ucapnya.

Selain itu, MUI Sumbar berharap agar penggunaan waktu pemberian ceramah dimanfaatkan secara efektif. Pesan yang akan disampaikan kepada jamaah tersampaikan tapi durasinya jangan terlalu lama. ”Yang penting efektivitas yang perlu diperhatikan,” ujar Gusrizal.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumbar Prof Duski Samad mengimbau, pengurus masjid atau mushala di tingkat lini lapangan memedomani Tausyiah dan Maklumat MUI Sumbar, imbauan DMI Sumbar, edaran pemerintah daerah dan Kementerian Agama RI.

”Intinya, menerapkan protokol kesehatan secara serius. Salah satu yang kita minta dalam surat edaran, pengurus masjid atau mushala membuat satuan tugas,” kata Duski kepada Padang Ekspres, kemarin (11/4).

Selain itu, terus memberikan edukasi kepada masyarakat bila seandainya masyarakat mengalami gejala sakit atau mengalami sakit, agar menahan diri untuk datang melakukan ibadah di masjid atau mushala. Namun, melakukan ibadah di rumah.

”Khusus untuk masjid atau mushala yang lokasinya berada di kawasan mobilitas orang dan barang, sediakan hand sanitizer, tikar atau karpet untuk shalat tidak usah digelar atau dikembangkan. Kalau pun dikembangkan, secara terjadwal dibersihkan dan dilakukan disinfeksi,” ujarnya.

Termasuk, mengedukasi masyarakat untuk disiplin memakai masker selama berada di area masjid atau mushala. Pasalnya, rasa aman dan nyaman timbul dari kehati-hatian dan kesadaran bahwa pandemi Covid-19 ini adalah masalah bersama yang harus diselesaikan secara bersama pula.

”Kuncinya kesadaran, terlebih kesadaran masyarakat untuk disiplin mengikuti prokes. Dengan begitu, ibadah shalat berjamaah bisa berjalan dengan baik dan kesehatan bisa tetap terjaga. Ramadhan karim, Ramadhan mulia, jangan terciderai dengan perilaku yang gegabah dan tidak disiplin,” ungkap Duski.

Untuk itu, Ketua MUI Kota Padang ini menambahkan, ikhtiar dan kehati-hatian menjadi hal yang wajib karena menyangkut kepentingan bersama. Meskin shaf sholat kembali lurus dan rapat, tidak lagi berjarak, namun masyarakat harus tetap memakai masker.

”Kurangi berdiskusi dan bercerita dengan orang lain, sebab penyebarannya itu lewat droplet. Ketika orang bersin dan berbicara. Jadi sekali lagi, masyarakat sebenarnya sudah tahu, tapi saling mengingatkan. Menjaga diri sekaligus menjaga orang lain,” tuturnya.

Terpisah, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumbar, Shofwan Karim mengatakan, pihaknya mendukung apa yang telah diputuskan oleh Pemprov Sumbar untuk membolehkan atau mengizinkan pelaksanaan Shalat Tarawih di masjid dan musala. Soal pelaksanaannya, Muhammadiyah juga sudah memiliki petunjuk teknis (Juknis) yang secara umum sama dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah.

Baca Juga:  Kepala Kanwil DJPb Sumbar Serahkan Aset Kepada KPKNL Padang

”Terpenting, masyarakat jangan menjadi euforia berlebihan ketika Shalat Tarawih di masjid dan musala diperbolehkan lagi. Ingat, terapkan prokes Covid-19 ketat lantaran masih berada di tengah pandemi Covid-19,” kata Shofwan.

Shofwan mengungkapkan, cara meningkatkan dan mengoptimalkan ibadah Ramadhan mesti sesuai keadaan saat ini. Kemudian, Shalat Tarawih bukanlah satu-satunya ibadah yang bisa dilakukan karena banyak ibadah lainnya yang bisa dilaksanakan dengan tetap memperhatikan prokes Covid-19. ’Sehingga, banyak ibadah yang bisa dilakukan oleh umat Islam selama bulan Ramadhan ini,” ujarnya.

Lebih lanjut Shofwan menyampaikan, pihaknya juga mendukung penuh program vaksinasi Covid-19 bagi garin maupun penceramah yang melakukan tausyiah atau ceramah selama bulan Ramadhan ini.

”Warga Muhammadiyah sudah ada yang memulai program vaksinasi tersebut. Nah dengan adanya kebijakan dari pemerintah untuk vaksinasi garin dan penceramah, tentu hal itu bertujuan agar pelaksanaan ibadah bisa lebih aman dan nyaman,” jelas Shofwan.

Sementara itu, Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumbar, Suleman Tanjung kepada Padang Ekspres mengatakan, agar pelaksanaan ibadah selama Ramadhan berjalan aman di tengah pandemi Covid-19, maka prokes Covid-19 menjadi hal utama yang harus diterapkan. Kondisi tersebut bisa dicontoh saat pelaksanaan Shalat Jumat, di mana banyak jamaah yang menerapkan prokes Covid-19. Sehingga, selama ini berjalan dengan aman dan nyaman.

Untuk pelaksanaan kegiatan atau ibadah lainnya selama bulan Ramadhan, pihaknya lebih menganjurkan kepada masyarakat untuk menghindari kegiatan yang tidak wajib dilakukan dan bersifat menimbulkan keramaian seperti acara buka bersama. ”Ya, untuk buka bersama agar tidak dilakukan dulu. Saat ini lebih baik fokus kepada kegiatan yang lebih positif dan dapat meningkatkan amal ibadah di bulan Ramadhan,” ungkapnya.

Khusus pelaksanaan Shalat Tarawih, pihaknya menyarankan kepada warga Nahdliyyin untuk melaksanakan di rumah saja. Namun kepada masyarakat luas, pihaknya mengimbau agar pelaksanaan tetap memperhatikan prokes Covid-19. ”Ya mudah-mudahan ibadah kita selama bulan Ramadhan nanti diberikan kelancaran dan keamanan oleh Allah SWT, sehingga kita semua bisa meningkatkan amal ibadah selama bulan Ramadhan,” tukas Suleman.

Pemprov Keluarkan SE
Pemprov Sumbar sendiri sudah membuat Surat Edaran (SE). Kini, menunggu tanda tangan dari gubernur. Kabiro Bina Mental dan Kesra Setprov Sumbar, Syaifullah kepada Padang Ekspres, kemarin (11/4) mengatakan, aturan atau imbauan yang terdapat dalam SE itu hampir sama isinya dengan Maklumlat dan Taushiyah MUI Sumbar tentang pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan selama pandemi Covid-19.

”Nah SE Gubernur itu kan sebelumnya menunggu keputusan dari MUI Provinsi Sumbar sebagai pedoman dan referensi kami. Keputusan MUI telah keluar kemarin, dan saat ini SE hanya menunggu tanda tangan Gubernur,” katanya. Dia menambahkan, salah satu tata cara pelaksanaan ibadah selama Ramadhan di antaranya, pelaksanaan ibadah Shalat Tarawih diperbolehkan untuk merapatkan shaf shalat.

Untuk pelaksanaan ibadah Shalat Tarawih berjamaah di masjid dan musala tahun ini, shaf salat boleh dirapatkan asalkan masyarakat atau jamaah wajib menggunakan masker. ”Namun ketika belum Shalat Tarawih, atau ketika ceramah, disarankan kepada masyarakat untuk tetap menjaga jarak atau menerapkan physical distancing sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19,” tuturnya.

Kepada masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah Shalat Tarawih berjamaah, disarankan untuk membawa sajadah sendiri dari rumah agar selama pelaksanaan ibadah berjalan dengan aman dan lancar. Lebih lanjut Syaifullah menyampaikan, saat dai atau penceramah sedang berceramah, maka jamaah untuk menjaga jarak karena saat aktivitas berceramah, antara penceramah dan jamaah posisinya saling berhadapan.

Disarankan kepada dai atau penceramah ketika menyampaikan ceramah langsung ke poin atau inti ceramah. Sehingga meskipun waktunya singkat, namun pesan yang disampaikan bisa diterima jamaah. Jika nantinya SE Gubernur dan Maklumlat MUI Sumbar sudah dikeluarkan, pengurus masjid dan musala, serta masyarakat diminta untuk mematuhi dan melaksanakannya agar pelaksanaan ibadah selama Ramadhan. (i/a)

Previous articleMikoriza, Solusi Optimal Serapan Hara Esensial pada Tanah Ultisol 
Next articleTangkapan Besar Meningkat di Tengah Pandemi, Kartel Sulit Pakai Kurir