Hikmah dari Tersangkutnya Bus Gracias di Kelok 44: Perlebar Jalan!

14940
Di kelok ampek puluah ampek
Denai bamulo barangkek
Tinggalah kampuang sanak sudaro

Denai barangkek ka tanah Jao

BEGITULAH petikan lirik lagu ”Kelok 44” yang pernah dipopulerkan artis senior Elly Kasim. Lagu ini jelas sarat makna sekaligus membuat jalur Kelok 44 mendunia. Nah, sepekan terakhir, Kelok 44 kembali tenar dan viral di dunia maya. Menyusul tersangkutnya bus berbadan jumbo Gracias asal Bandung di Kelok 44. Proses evakuasi bus bernomor polisi D 7644 AS itu berlangsung sangat dramatis hingga memakan waktu 17 jam.

Kejadian ini jelas sangat menyita perhatian. Bahkan, menjadi pemandangan langka bus pariwisata berukuran besar menjajal Kelok 44. Terlepas

apakah akibat adanya kesalah￾an sopir bus menggunakan Google Map atau tidak, kejadian ini secara tidak langsung bisa menjadi ajang promosi pula bagi objek wisata Kabupaten Agam, khususnya Danau Maninjau.


Di samping itu, mendesak dilakukan pembenahan Danau Maninjau secara menyeluruh, tentunya juga harus diikuti pembenahan infrastrutruktur jalan ke lokasi dalam hal ini Kelok 44.

”Jalur Kelok 44 ini sangat ekstrem. Memiliki tikungan tajam dan sempit. Jadi memang sudah selayaknya diperlebar, seperti jalur pendakian Sitinjau Laut,” kata Omrizal, salah seorang warga Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjungraya, di kaki pendakian Kelok 44 itu, kemarin (11/6/2021).

Kondisi tersebut menjadikan Kelok 44 jalur rawan kecelakaan dan langganan macet. Kawasan itu juga punya potensi bencana yang tinggi berupa tanah longsor.

Parahnya, tambah dia, apabila bencana menimpa badan jalannya. Sudah lah sempit kemudian longsor. Musibah amblasnya jalan di Kelok 10 pasca-diguyur hujan lebat, Minggu (26/7/2020) lalu, misalnya. Akibatnya, jalur penghubung Maninjau-Matur menuju Bukittinggi tersebut, ditutup sementara waktu untuk kendaraan roda empat.

”Semua ini, seharusnya menjadi tolok ukur dan alasan bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan dan melakukan peningkatan jalur Kelok 44,” tuturnya.

Andri Antoni, salah se￾orang sopir damtruk yang kerap melintas di Kelok 44 juga menimpali hal sama. Menurutnya, jika memperlebar jalur itu belum bisa dalam waktu cepat, paling tidak memperbanyak pemasangan rambu-rambu pemberitahuan. Karena katanya, kejadian terjebak￾nya bus jumbo itu diawali ketidaktahuan sopir bus.

”Kalau pelebaran jalan mungkin akan butuh biaya besar dan perencanaan matang. Termasuk butuh kajian terukur, sebab perlu mengikis bukit-bukitnya. Solusi cepatnya ada, perbanyak rambu-rambu,” sebut dia.

Minimnya keberadaan rambu-rambu atau tanda-tanda kriteria kendaraan yang bisa melewati jalur Kelok 44 itu, juga disorot Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPRD Agam, Zulhefi.

Menurutnya, rambu-rambu ini penting agar tidak lagi bus besar yang terjebak di jalur itu ke

depannya. ”Sejauh ini masih minim. Saya ke Lubukbasung melewati Maninjau tidak ada melihat tanda-tanda yang bisa memberikan sinyal kepada pengemudi mobil besar untuk tidak lewat jalur itu. Karena diakui jalur itu tidak memungkinkan untuk dilalui mobil berukuran besar,” katanya.

Ia mendorong pemerintah daerah, khususnya dinas terkait proaktif menyikapi hal itu. Tidak hanya di Kelok 44, namun juga di jalur-jalur sempit yang harus segera diantisipasi dengan memasang rambu-rambu agar bisa memberikan kenyamanan dan keamanan bagi turis-turis domestik maupun mancanegara yang datang ke Agam.

Zulhefi juga ingin agar pemerintah daerah lebih menjemput bola program pembangunan ke pusat. Salah satunya, pembangunan sektor wisata karena Kabupaten Agam memiliki destinasi wisata nasional seperti Danau Maninjau. ”Itu harus segera dan intens dijemput. Jadi, nantinya akan saling terkait pembangunan faktor faktor pendukung pariwisata yakni aksesibilitas. Kelok 44 itu seharusnya sudah bisa jadi jalan nasional,” harapnya.

Salah satu rambu-rambu lalu lintas di Kelok 44. (Foto. dok: Heri Sugiarto/Padek).

Dia juga mengajak Bupati Agam agar segera melaksanakan program pariwisata yang digemborkannya untuk kawasan Maninjau.

Senada, Wakil Ketua DPRD Agam Suharman mengatakan, untuk memajukan pariwisata dan perekonomian di Agam,  sudah selayaknya jalur Maninjau ke Matur dapat dilalui bus besar.

Apalagi, keberadaan Danau Maninjau sebagai salah satu kawasan strategis nasional.

Setidaknya, keindahan Maninjau dan perbukitan sekitarnya baik itu Ambun Pagi, Puncak Lawang, juga sekeliling Maninjau memiliki potensi besar jika disusun menjadi sebuah desain terintegrasi.

Baca Juga:  5.942 Kendaraan Putar Balik, PPKM Diperpanjang

Dengan demikian, penataan dan pengembangan potensi ekonomi dan pariwisata dapat dilakukan secara terukur dan terarah. ”Makanya, kita mesti memiliki grand design yang komprehensif. Sehingga, keindahan Maninjau dapat dinikmati secara maksimal dan berbagai potensi yang dapat dikembangkan memberi dampak positif bagi masyarakat, khususnya Maninjau, serta daerah sekitarnya secara ekonomi,” katanya.

Kabid Lalu Lintas Dishub Agam Apriwandi mengatakan, rambu-rambu peringatan sebenarnya sudah ada, seperti di Simpang Gudang maupun di Padanglua. Hanya saja yang di Padanglua udah dicopot oorang tak dikenal.

Berkaca dari kkejadianini, ia meminta setiap kendaraan yang lewat di Kelok 44 maksimal panjangnya 9 meter, tak boleh melebihi itu.

Sebelumnya, Bupati Agam Andri Warman mengatakan, sektor ekonomi dan pariwisata merupakan bidang yang akan menjadi perhatian serius.

Dirinya punya salah satu planning program kepariwisataan dengan merencanakan pembangunan destinasi buatan kereta gantung dari Lawang ke Danau Maninjau. ”Kami ingin bawa pariwisata Agam dikenal di Indonesia termasuk luar negeri. Kita punya potensi itu, mengapa tidak dikembangkan. Faktor-faktor yang mendukung rencana program ini akan kami uupayakan,” katanya.

Termasuk, juga bakal merumuskan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan keterpaduan tata ruang wilayah dan mitigasi bencana. Salah satunya, peningkatan jalan di Kelok 44 yang mmerupakan wilayah rawan.

DPRD Sumbar Dukung

Terkait wacana pelebaran jalan sepanjang kelok 44, DPRD Sumbar juga mendukung upaya itu. Karena, dilihat dari berbagai faktor seperti ekonomi dan wisata. Pelebaran itu akan memberikan dampak positif.

”Selama berdampak positif, kita setuju saja. Tentu rencana ini perlu kajian lebih mendalam. Apalagi akan menelan biaya yang besar. Konstruksi jalan akan berbeda karena berada di perbukitan,” kata Wakil Ketua DPRD Sumbar, Suwirpen Suib.

Dia menyakini, rencana pelebaran itu berdampak positif bagi ekonomi dan pariwisata Agam.

Belum lagi, tambah dia, jalan berkelok dan biayanya berbeda dengan jalan lurus dan datar. Menurutnya, hal ini layak dikaji. ”Anggaran bisa kita minta bantu pada pemerintah pusat. Jika dibebankan sepenuhnya pada APBD akan berat,” katanya.

Pesona wisata di salah satu titik jalur Kelok 44., Agam. (Foto. dok: Heri Sugiarto/Padek).

Suwirpen juga menambahkan sisi sektor pariwisata. Bus yang lebih besar bisa lancar melewati jalan kelok 44 ini.

Dengan begitu, grup wisata juga bisa menyiapkan paket lebih murah karena akses membawa wisatawan bisa dihemat.

Selama ini tentu dengan mobil yang berkapasitas kecil, sehingga biaya angkut penumpange lebih besar disediakan pelaku pariwisata ”Bus besar tak bisa llewat Jika paket busnya dibuat bolak-balik biaya akan besar,” katanya.

Jika dilakukan pelebaran, dia mengingatkan, unsur wisata ketika melewati Kelok 44 ini tetap ada. Artinya, jangan dianggap ini sekadar perjalanan saja. Selama ini wisatawan yang melewati jalur ini, terkesan dengan rute dan keindahan pemandangan ketika me￾lewati rute ini.

Sebelumnya, anggota DPRD Sumbar dari dapil Agam-Bukittinggi Rafdinal jjuga menyambut baik jika ada rencana pelebaran jalan Kelok 44 ini.

Dari sektor ekonomi, ddiyakininya bisa membuat transportasi barang dan jasa akan lebih lancar. Mobil yang melewati jalan ini masih terbatas ukurannya. Jika diperlebar, bisa mobil yang lebih besar lewat. Barang lebih banyak terbawa nantinya. Juga dampak ekonomi yang dirasakan warga sekitar.

”Dengan ramainya bus lewat, masyarakat sekitar bisa membuat usaha seperti warung atau lainnya.

Paling tidak bisa menjual barang atau makanan,” ujar dia.

Sebagaimana diberitakan, bus Gracias dari Bandung terjebak di Kelok 44, Jumat (4/6/2021) lalu. Waktu itu, sopir bus yang diketahui belum pernah menjajal jalur Kelok 44 ini, salah menggunakan Google Map.

Akibatnya, arus lalu lintas di Kelok 44 tersendat. Barulah, Kamis (10/6), jalur kembali lancar setelah bus berhasil dievakuasi. Bus ini tercatat satu-satunya bus berbadan besar melewati jalur Kelok 44 yang dikenal curam dan sangat ekstrem. (Putra susanto/ Padang Ekspres)