Sumbar Tembus 3.160 Kasus Positif, Cegah Klaster Keluarga Covid-19

Jajaran Polsek Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya membagikan masker kepada masyarakat dan pengendara yang melintas di depan mapolsek tersebut. (IST)

Kasus positif Covid-19 di Sumbar terus mengalami penambahan. Orang lanjut usia (lansia), balita dan pelajar rentan terinfeksi wabah tersebut. Jumat (11/9) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumbar merilis, sebanyak 33 warga Sumbar positif terinfeksi Covid-19.

Dari kasus baru itu, belasan lansia terkonfirmasi positif. Mereka ada yang terpapar setelah melakukan perjalanan dari luar Sumbar, seperti Jakarta dan terpapar karena kasus positif lainnya.

Ke-33 kasus baru itu sebarannya yakni di Kota Padang 14 orang, Kota Payakumbuh 3 orang, Kota Bukittinggi 2 orang. Kemudian Kabupaten Dharmasraya 4 orang, Kabupaten Agam 9 orang dan Kabupaten Limapuluh Kota 1 orang.

“Jadi total 3.160 orang yang telah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 di Sumbar,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumbar, Jasman Rizal.
Dari total tersebut, dirawat di berbagai rumah sakit sebanyak 237 orang, isolasi mandiri 968 orang, isolasi daerah 46 orang. Isolasi di BPSDM 35 orang, dan isolasi PPSDM 76 orang. Sementara untuk pasien meninggal dunia saat ini berjumlah 63 orang.

“Hari ini, (kemarin, red) juga dinyatakan 50 orang sembuh. Jadi total sembuh sudah 1.735 orang. Satu orang di antaranya balita satu tahun,  dan dua anak-anak usia 6 dan 8 tahun,” ujarnya.

Jasman menyebut, anak-anak itu terpapar dari lingkungan keluarga. Keluarga mereka kontak dengan pasien positif, sehingga virus menular. “Untuk itu, kami mengimbau agar masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan. Sehingga laju penyebaran virus bisa ditekan. Patuhi protokol kesehatan berarti ikut mencegah penyebaran virus di lingkungan keluarga,” pungkasnya.

Hingga Jumat, Kota Padang masih berstatus zona merah yang tinggi resiko penyebaran Covid-19. Sementara itu, Kota Bukittinggi, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Padangpariaman, Kabupaten Agam dan Kota Pariaman berstatus zona oranye penyebaran virus. Dan 13 daerah lainnya berstatus zona kuning yang memiliki risiko rendah penyebaran virus.

Empat Guru Positif Covid-19
Sementara itu, kemarin (11/9), sebanyak empat guru berstatus aparatur sipil negara (ASN) di Dharmasraya terkonfirmasi positif Covid-19. Ke empat pasien tersebut positif itu masing-masing R, 57, laki-laki , alamat Kecamatan Sitiung. Kemudian Y, 54, perempuan warga Sungai Rumbai. Selanjutnya S, 43, perempuan warga Kecamatan Koto Besar dan R, 49, warga Kecamatan Koto Baru.

“Dengan demikian sudah 58 warga Dharmasraya positif Covid-19 dan 37 orang di antaranya dinyatakan sembuh,” sebut Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Dharmasraya, Rahmadian.

Baca Juga:  Genius Bertemu Benny Utama, Fakhrizal Sambangi Purnawirawan

Kepala Dinas Pendidikan Mardius mengatakan, kendati ada guru di beberapa sekolah terkonfirmasi positif Covid-19,  proses belajar mengajar tetap berlanjut. Tentu saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Sementara bagi guru yang positif tersebut tidak diperbolehkan melakukan aktivitas, karena harus isolasi mandiri atau karantina. Di samping itu juga dilakukan tracking kepada mereka merasa yang kontak dengan pasien tersebut.

Menurut Mardius setidaknya sekitar 75 persen sekolah di Dharmasraya sudah melakukan PBM tatap muka. Ia berharap tidak ada lagi warga  positif Covid-19, termasuk para pendidik di daerah itu.

Terbitkan Perwako
Di sisi lain, Pemko Solok menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwako) Solok Nomor 40 Tahun 2020 Tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan. Hal ini ditujukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 di daerah itu.

Perwako juga untuk menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakkan Hukum Protokol Kesehatan dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Peraturan Kepala Daerah Dalam Rangka Penerapan Disiplin dan Penegakkan Hukum Protokol Kesehatan.

“Perwako ini dilahirkan bertujuan untuk meningkatkan antisipasi perkembangan eskalasi penyebaran Covid-19 serta memperkuat upaya penanganan kesehatan akibat Covid-19,” ujar Kabag Humas dan Prokol Pimpinan Pemko Solok, Nurzal Gustim.

Perwako tersebut terbit untuk menjamin pelaksanaan protokol kesehatan dalam usaha pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tengah-tengah masyarakat dan menjamin kepastian dalam penegakan disiplin protokol kesehatan dalam masa pandemi.

Sesuai arahan Sekko Solok,  Perwako tersebut perlu sosialisasi yang masif mulai hingga tanggal 20 September 2020. Pada 21 September Pemko Solok sudah memasuki tahap monitoring dan evaluasi.

“Ruang lingkup perwako diantaranya; pelaksanaan protokol kesehatan, monitoring dan evaluasi serta sanksi. Setiap orang, pelaku usaha, pengelola, penyelenggara atau penanggung jawab tempat dan fasilitas umum wajib melaksanakan dan mematuhi protokol kesehatan,” tegasnya.

Nurzal juga menyatakan, konsekuensi dari pelanggaran tersebut dalam Perwako telah diatur. Yakni diikuti dengan adanya sanksi, baik untuk perorangan, pelaku usaha, pengelola, penyelenggara atau penanggung jawab tempat atau fasilitas umum sebagaimana yang diatur, mulai dari kerja sosial, denda, teguran, peringatan tertulis, penghentian sementara atau tetap kegiatan.

“Untuk itu perlu keseriusan kita bersama untuk melaksanakan sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat meliputi penggunaan masker, menjaga jaga jarak, mencuci tangan pakai sabun,” pungkasnya. (wni/ita/f)