Pedagang Ternak Waspada, Penyakit Mulut dan Kuku Ditemukan di Sijunjung

40

Pemeriksaan hewan ternak oleh Disnak Sumbar di Pasar Ternak Palangki, Sijunjung.

Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar, drh. Erinaldi, menyatakan empat ekor ternak sapi yang ada di Pasar Ternak Palangki, Sijunjung terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK).

“Sebelumnya kita mendapatkan informasi pada 12 Mei 2022 bahwa empat ekor sapi di pasar ternak Palangki, Sijunjung terjangkit PMK. Hasilnya laboratoriumnya tadi baru keluar yang membenarkan ternak tersebut positif PMK,” ujar Erinaldi, Jumat (13/5/2022).

Saat ini empat sapi ternak tersebut diisolasi di Pasar Ternak Palangki tersebut, dan tidak diperbolehkan keluar.

“Esok, pasar ternak tersebut di tutup untuk sementara waktu, karena pasar ternak merupakan titik penyebaran. Selain itu, ke empat ekor ternak sapi tersebut dilakukan isolasi di pasar ternak tersebut,” tambahnya.

Erinaldi menambahkan juga, ke empat ekor sapi tersebut berasal dari Riau. “Kita men-tracking asal sapi. Sapi didatangkan dari Riau. Tracking terus dilakukan, dan menunjukkan sapi berasal dari Tamiang, Aceh,” tambahnya.

Saat ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar telah melakukan koordinasi dengan Polda Sumbar untuk melakukan pengetatan sapi yang datang dari luar Provinsi Sumbar.

“Seluruh kendaraan yang membawa ternak akan diperiksa, dan ditanya kelengkapan surat asal ternak. Pemerkosaan akan dilakukan di delapan titik pintu masuk Sumbar, seperti di Rao, Pasaman, Rimbo Data, Payakumbuh, Gunung Medan, Dharmasraya,” paparnya.

PMK sendiri merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh Apthovirus. Umumnya, penyakit ini menyerang hewan berkuku genap atau belah seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi, dan beberapa jenis hewan liar seperti jerapah dan gajah.

Baca Juga:  Untuk Seribu Kasus Stok Obat Aman, Belum Ada Sapi Terpapar PMK Yang Sembuh

Sebelumnya, Gubernur Sumbar mengeluarkan Surat Edaran setelah ditetapkannya beberapa kabupaten di Jawa Timur dan Aceh Tamiang, Aceh sebagai daerah wabah PMK, oleh menteri Pertanian RI.

Surat Edaran (SE) no 559/ED/GSB 2022 tentang pengendalian dan penanggulangan terhadap ancaman masuk dan penyebarnya penyakit mulut dan kuku (food and disease)/(PMK) di Sumbar.

Dalam SE yang diterbitkan pada 12 Mei 2022 tersebut, melarang jual beli ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, dan domba) dari wilayah yang sedang terjangkit kasus PMK.

Selain itu, SE tersebut membentuk gugus tugas penanganan wabah PMK sesuai kewenangan dengan melibatkan instansi, akademisi, pakar, maupun pihak lain.

Dikutip dari berbagai sumber, gejala PMK pada sapi biasanya akan terlihat lebih jelas dibandingkan hewan lain.

Berikut di antaranya:

– hipersaliva atau produksi air liur berlebih;
– pincang;
– pembengkakan kelenjar submandibular;
– sering berbaring;
– nafsu makan menurun;
– lepuh pada mulut dan teracak kaki;
– suhu tubuh sekitar 40-41 derajat Celcius;
– produksi susu pada sapi perah menurun drastis.

Lesi pada mulut sapi mulanya akan bewarna putih dan berisi cairan. Lambat laun, lesi berkembang hingga mencapai ukuran diameter 3 cm.

Sejumlah lesi tersebut kemudian bergabung menjadi satu dan membentuk lepuhan yang besar. Lepuhan yang pecah akan meninggalkan bekas luka.

Selain pada mulut, lesi juga akan muncul pada kaki. Hal ini membuat sapi merasa kesakitan dan sulit untuk berdiri, apalagi berjalan. Lesi juga akan ditemukan pada bagian puting dan ambing. Pada sapi betina, lepuhan ini akan menurunkan produksi laktasi. (*)