17 Daerah Rawan Covid-19

42
ilustrasi. (net)

Penyebaran Covid-19 terus mengalami lonjakan. Senin (12/10), data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumbar terdapat penambahan 175 warga Sumbar positif Covid-19. Satu orang meninggal dunia sehingga total meninggal berjumlah 181 orang.

Sebelumnya Minggu (11/10) kasus terkonfirmasi positif bertambah sebanyak 341 orang. Tiga orang di antaranya meningga dunia. Saat ini tidak ada kabupaten kota yang berstatus zona hijau (bebas dari penyebaran virus, red). Selain itu, cuma dua daerah yang berstatus zona kuning (berisiko rendah penyebaran virus, red). Sementara 14 daerah berstatus zona oranye (berisiko sedang penyebaran virus, red) dan tiga daerah berstatus zona merah (berisiko tinggi penyebaran virus).

Penyebaran virus korona yang tidak terkendalikan di kabupaten kota, membuat pemerintah daerah setempat mulai mengambil kebijakan-kebijakan baru. Seperti Pemko Pariaman yang menunda pemberian rekomendasi izin keramaian atau baralek. Hal itu bertujuan agar Kota Pariaman keluar dari zona merah.

“Untuk sementara waktu kami tunda pemberian izin keramaian terkait penyelenggaraan kegiatan sosial budaya di masyarakat seperti baralek. Hal ini karena Kota Pariaman saat ini berada di zona merah,” ujar Kasat Pol PP Pariaman Elfis Candra kepada Padang Ekspres kemarin.

Elfis berharap warga Kota Pariaman bersabar dengan kondisi saat ini. Dan tetap meningkatkan protokol kesehatan sehingga Kota Pariaman bisa kondusif dan keluar dari zona merah.

“Kegiatan baralek itu sudah lama dipersiapkan dan orang sudah diundang dan mereka mengurusnya pada saat Pariaman masih zona oranye, jadi kita pahami, tidak bisa ditunda. Namun kami harap warga proaktif menerapkan protokol kesehatan jika tidak dipenuhi mohon maaf satgas akan bertindak,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Syahrul menyebut untuk Senin (12/10) kembali terjadi penambahan pasien Covid 19 di Kota Pariaman. “Ketiganya merupakan pasien yang dirawat, dua orang di RSUD Sadikin Pariaman satu orang lagi di RSUD Pariaman. Mereka dirawat karena ada penyakit sebelumnya dan kemudian di test ternyata positif,” ujarnya.

Dengan demikian total jumlah kasus Covid-19 di Kota Pariaman mencapai 279 kasus dan tujuh orang meninggal dunia. Mereka yang meninggal dunia memiliki penyakit penyerta.
Selain itu, Pemko Pariaman juga kembali memberlakukan bekerja dari rumah bagi ASN.

Baca Juga:  Masyarakat Harapkan Jalan, Mualim Jawab dengan Program Sumbar AksesĀ 

Penetapan bekerja dari rumah atau WFH itu disebutkan oleh Plt Wali Kota Pariaman Mardison Mahyudin saat rapat koordinasi Covid-19 di Kota Pariaman. “Kebijakan WFH ini bagian dari upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Semoga Kota Pariaman bisa segera keluar dari zona merah,” ujarnya.

Mardison mengingatkan ketentuan selama WFH bagi ASN tidak boleh melakukan perjalanan keluar daerah, dan berada dalam pemantauan.

Doa Tolak Bala
Sementara itu terus meningkatnya kasus positif Covid-19 di Kota Pariaman membuat warga Taluak Pariaman Selatan menggelar doa tolak bala. Kegiatan tolak bala merupakan kegiatan tahunan dari Desa Taluak.

Untuk pelaksanaannya dilakukan secara gotong royong baik laki-laki ataupun perempuan sehingga terlihat kekompakan masyarakat di Desa Taluak. Kegiatan doa tolak bala di Desa Taluak akan dilaksanakan selama tiga hari. Adapun kegiatan yang dilakukan berdzikir sambil berjalan mengelilingi Desa Taluak secara bersama baik.

“Semoga saja dengan telah dilaksanakannya doa tolak bala ini, masyarakat di Desa Taluak khususnya di Kota Pariaman terhindar dari seluruh musibah dan penyakit,” harap Kepala Desa Taluak Ismet Zuhri.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jasman Rizal tidak menampik penyebaran Covid-19 di kabupaten kota mengalami peningkatan. “Dengan penambahan 175 warga positif kemarin, sampai saat ini total sudah 8.874 warga Sumbar positif Covid-19,” ujarnya.

Saat ini, untuk mencegah penyebaran, daerah sudah bisa merujuk ke penerapan Perda Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang mengikat masyarakat untuk patuh protokol kesehatan.

Katanya dalam memutus rantai penyebaran virus, yang dibutuhkan adalah kesadaran masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan. Jika saja masyarakat tidak abai dan tidak menganggap sepele wabah tersebut, dipastikan laju penyebaran bisa dihentikan. “Untuk itu kami meminta masyarakat agar berperan dalam mencegah penyebaran virus,” pungkasnya.(wni/nia)