Inilah Sisi Lain Pembangunan Tol Trase Padang di Nagari Kasang

343
Tuntas 2022: Pengerjaan tol trase Padang - Kepala Hilalang sepanjang 36 km ditargetkan selesai 2022. Saat ini sepanjang 4,2 km mulai dari titik nol By Pass, sebagian sudah rampung pembangunan strukturnya. (Foto ist)

Pembangunan tol Trase Padang – Kepala Hilalang terus berlanjut. Perlahan tapi pasti, proyek pembangunan strategis ini terus menunjukkan grafik peningkatan pengerjaan fisik. Sejauh mana gambaran kondisi pembangunan tol dengan panjang 36 km lebih tersebut?

Jumat (11/9/2020) lalu, bersama sejumlah kru media, Padang Ekspres menelusuri pembangunan tol di titik Kenagarian Kasang, Kecamatan Batanganai. Sejumlah alat berat terlihat beraktifitas di sepanjang ruas yang dikerjakan. Setidaknya ada sepanjang 4,2 km yang tengah finalisasi pembangunan fisiknya.

Sejak pembangunan diawali land clearing oleh Presiden RI, Joko Widodo pada 2017, progress pembangunan memang terbilang lamban jika dibanding dengan tol trase daerah lain. Salahsatu persoalan utama adalah pembebasan lahan yang membutuhkan penyelesaian secara komprehensif.

Sumbar yang sebagian besar tatanan Minang, untuk penguasaan atau kepemilikan lahan memang berbeda dibanding daerah lain. Tak hanya sebatas sertifikat dari BPN sebagai barang bukti sah kepemilikan secara de jure/hukum. Namun kepemilikan lahan adat, pusako tinggi atau pusako randah menjadi sesuatu yang diakui secara de jure.

Memang ada sedikit kerumitan penyelesaian baik pusako tinggi, pusako randah ataupun lahan pribadi. Namun bukan berarti ini akan menjadi halangan untuk melanjutkan pembangunan di ranah Minang. Melainkan persoalan tersebut sudah mampu terselesaikan dengan baik.

Komponen masyarakat Kasang misalnya. Di mana warga terus memperlihatkan dukungannya terhadap pembangunan megaproyek tersebut. Itu ditunjukan dengan dukungannya dalam hal penyelesaian lahan, yang kini dapat dilaksanakan dengan bijak, dan memenuhi aspirasi masyarakat dari sisi harga.

Wali Nagari Kasang, Daman Huri menyebut, masyarakat mendukung pembangunan jalan tol, sebagai proyek strategis nasional. Ini tak hanya memperlancar dan mempercepat akses transportasi, namun pembangunan tol juga tetap memperhatikan masyarakat lokal.

“Kalau ada yang menyebut masyarakat tidak mendukung, itu tidak benar. Hanya saja, karena untuk pembangunan tol terjadi pengalihan fungsi lahan dari lahan pertanian, pemukiman dan sebagainya menjadi jalur tol, ini tentunya perlu pergantian yang seimbang dengan memenuhi rasa keadilan masyarakat,” ujarnya.

Tapi , apa yang menjadi keinginan masyarakat ini, kini juga sudah terakomodir dengan baik. Itu terlihat dengan terus dikebutnya pekerjaan tol tersebut. Sehingga pembangunannya secara keseluruhan dapat selesai hingga akhir 2022.

Bendahara Kerapatan Adat Nagari (KAN), Ispendi Dt Majo Basa juga tidak menampik besarnya dukungan masyarakat untuk penyelesaian proyek nasional tersebut. Sebagai nagari adat dengan kultur yang spesifik, dia berharap apapun bentuk pembangunan, termasuk industri yang ada di Kasang, agar memperhatikan kearifan lokal.

“Kami niniak mamak mendukung pembangunan nagari, yang diharapkan membawa multiplier effect bagi anak kamanakan kami. Justru itu, kami harapkan perhatikan kearifan lokal, dengan melibatkan masyarakat adat sesuai alua jo patuik,” ujarnya.

Dt Majo Basa meyakini bahwa proses pembangunan tol di titik nol yang melintasi Nagari Kasang secara umum tak ada kendala, dan tidak ada yang akan menghadang. Namun pengalaman di Kasang diharapkan menjadi pembelajaran bagi para pengambil kebijakan ke depan. “Tak ada kusut yang tak bisa diselesaikan, tak ada keruh yang tak bisa dijernihkan, sepanjang itu dimusyawarahkan,” kata Ispendi Dt Majo Basa.

Baca Juga:  Munas Gebu Minang Dibuka, Fadly: Momentum Perkuat Sinergi Ranah Rantau

Dukungan positif dari masyarakat ini, tentu akan menjadi bekal berharga bagi PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) selaku pelaksana pekerjaan dalam mempercepat proses pembangunan fisik. Dan tidak tertutup kemungkinan pembangunannya dapat diselesaikan tepat waktu.

Ketua LPM Kasang, Marten menambahkan bahwa pembangunan Nagari Kasang hingga kini, tetap diimbangi dengan pemberdayaan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam. Tentunya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Salahsatu yang dikembangkan adalah pariwisata alam, mengingat Kasang memiliki aliran sungai yang masih terjaga plasma nutfah-nya. Bahkan batu-batu di dalam sungai masih terjaga, sebagai tempat bernaungnya habitat ikan lokal.

“Tol bagi kami sebuah sarana yang diharapkan memberi kontribusi bagi masyarakat nagari. Jangka panjang kami melihat, dengan akses yang terbuka lebar, akan menjadikan wisata Kasang sebagai primadona. Karena, hanya beberapa menit dari Bandara Internasional Minangkabau atau ibu kota provinsi, orang sudah sampai di lokasi wisata,” katanya berpromosi.

Diakui, dia bersama perangkat nagari, ninik mamak dan unsur masyarakat lainnya juga terus membenahi kesiapan, sehingga dalam waktu dekat siap menerima tamu wisatawan. Kenyamanan, keasrian dan keamanan menjadi jaminan di Kasang atas tujuan wisatawan.

Kasang memang nagari yang istimewa, dengan penduduk padat dan terbanyak di Padangpariaman. Berpenduduk lebih dari 15.000 jiwa, Kasang memiliki tatanan sosial budaya yang cukup unik. Penduduk yang bisa disebut penduduk asli, terletak di arah perbukitan, jumlahnya kurang dari 50 persen total penduduk. Di sanalah enam suku menetap. Korong yang ada mencerminkan nama suku setempat. Misalnya korong Jambak, maka mayoritas diisi kaum suku Jambak dan begitu juga suku-suku lainnya.

Meski dilintasi modernisasi dan daerah penyangga batas Padangpariaman dengan Kota Padang, penduduk di kawasan perbukitan tetap menjaga kearifan lokal dan keasrian alam. Aliran sungai yang melintasi nagari Kasang masih terlihat terjaga. Airnya bersih, gemercik air yang mengalir di atas bebatuan yang masih ”perawan” menghasilkan bunyi khas, dengan dinding tebing yang cukup curam di kiri kanan aliran sungai.

Tak berlebihan kiranya, jika kearifan lokal dan aset wisata alam yang ada saat ini, suatu saat akan menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat. Keistimewa Kasang bukan karena geografisnya yang berbatasan dengan Kota Padang saja, melainkan, ia menjadi titik nol pembangunan, sekaligus Pintu gerbang Tol Padang-Pekanbaru. Tentu jika proyek strategis ini tuntas, wisatawan akan menjadikan Kasang sebagai salahsatu alternatif wisata alam. Satu lagi, tak cukup 10 menit dari Bandara Minangkabau, pengunjung sudah bisa menghirup udara segar di alam Kasang.

Kini pembangunan Tol Sirip Padang-Sicincin hingga saat ini masih dikebut. Dengan capaian tersebut, jalan bebas hambatan ini ditargetkan dapat beroperasi Desember 2022.

Jalan Tol Padang-Kepala Hilalang merupakan ruas dari Jalan Tol Pekanbaru-Padang yang dibangun sepanjang 254 kilometer, dan merupakan bagian dari pengembangan besar Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) sepanjang 2.878 kilometer. JTTS terdiri dari koridor utama dan pendukung yang membentang dari Lampung hingga Aceh sebagai koridor utama beserta jalan pendukung (sirip). Jika ini tuntas, keberadaannya akan memberikan multiplier effect yang besar, terutama dalam mempercepat arus barang dan orang. (zul)