Pelaku Pariwisata Terdampak, Ini Aspirasi Terbuka Asita ke Presiden dan Menparekraf

Menyikapi kondisi ekonomi dan pariwisata yang terdampak pandemi global virus korona (Covid-19) saat ini, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Sumbar menyampaikan aspirasi terbuka kepada Presiden RI Jokowi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Bupati san Wali Kota hingga Kepala Dinas Pariwisata dan kepala dinas (kadis) terkait lainnya.

Di awal paparannya, Ketua Asita Sumbar Ian Hanafiah mempertanyakan apakah profesi orang-orang yang bekerja di sektor pariwisata, mulai dari usaha biro perjalanan wisata, hingga tukang parkir di objek wisata terpikirkan atau masuk dalam daftar penerima bantuan yang disiapkan pemerintah pusat dan daerah.

Rincian profesi yang dimaksudnya terdiri dari biro perjalanan wisata, karyawan biro perjalanan wisata,  pemandu wisatawan, sopir dan kernet bus pariwisata, sopir mobil rental pariwisata, orang yang membawa perahu dan boat di objek wisat, tukang foto amatir, juru parkir, penjaga pintu masuk objek wisata, karyawan dan pelayan hotel serta katering, pelayan rumah makan dan restoran yang sudah banyak tutup, pengelola objek wisata, usaha penjual oleh-oleh yang umumnya UMKM serta karyawannya.

Pasalnya, kata Ian, dari paparan yang disampaikan pemerintah fokus penerima bantuan pada tukang ojek online, buruh, sopir dan karyawan pabrik.

“Coba kita lihat profesi yang kami sebutkan di atas, secara nyata pendapatan mereka karena terdampak Covid 19 menjadi Rp 0 atau tidak ada sama sekali,” jelas Ian.

Bayangkan, sambung Ian, berapa banyak jadwal para pelaku pariwisata yang batal karena adanya Covid-19. Belum tahu sampai kapan pandemi akan berakhir.

Maka, Ian mengusulkan pemerintah, pemprov, pemkab dan pemko membantu nasib orang-orang yang bekerja di sektor pariwisata yang jumlahnya mencapai ribuan jiwa.

“Penghasilannya jadi 0%, dan mereka juga punya keluarga, anak dan istri yang perlu untuk dinafkahi,” kata Ian seraya menyampaikan agar pemerintah ingat juga jasa-jasa mereka yang selama ini ikut bekerja membawa devisa bagi negara di sektor pariwisata.

Ketika dihubungi, Ian mengungkapkan bahwa pemerintah selama ini menyebutkan bahwa sektor pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar kedua negara. Okeh karena itu, perhatikan semua orang yang bergerak di sektor itu karena sekarang terdampak oleh pandemi Covid-19.

“Kami harapkan agar pemerintah membantu mereka,” kata Ian, Selasa (14/4).

Menurut Ian, perusahaan yang tergabung di Asita Sumbar saja, jumlahnya 240 dengan karyawan sekitar 1.200 orang. Lalu ada juga bus pariwisata sebanyak sekitar 150 dengan junlah sopir dan kernet sekitar 300 orang. Belum lagi travel pariwisata yang mobil kecil.

“Jadi, sopir bus, sopir mobil kecil sama rental itu bisa sampai 1.000 lebih. Itu baru untuk perusahaan travel agent saja. Belum lagi tour guide, dan bidang lainnya yang saya sebutkan di aspirasi kami itu,” katanya.

Bantuan dalam bentuk kartu prakerja yang digulirkan pemerintah saat ini, kata Ian, bagus untuk orang-orang yang sudah kena PHK dan menganggur. Namun, lanjutnya, tidak cocok bagi sebagian besar mereka yang bekerja di sektor pariwisata yang kehilangan penghasilan pada masa pandemi.

“Para pekerja mulai dari hotel, travel, restoran, pemandu pariwisata, dan lain-lain itu mereka yang sudah ahli di bidangnya. Mereka dirumahkan dan itu relatif dan bisa saja di-PHK. Nah, sekarang mereka dirumahkan dan tidak ada penghasilan. Mereka butuh makan sehari-hari selama tidak beraktivitas sejak pandemi, bukan pelatihan,” jelas Ian.

Bantuan jangka pendek yang dibutuhkan bisa berbentuk sembako.

“Mana mungkin orang butuh makan diberikan pelatihan. Kalau pelatihan kartu prakerja  itu bantuan jangka panjang kalau mereka benar-benar sudah tidak bekerja,” katanya.(esg/idr)