Dua Tenaga Kesehatan Positif Covid 19

26
Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solsel melakukan sosialisasi penerapan fase normal baru di Pasar Padangaro. (Foto: Arditono-Padang Ekspres)

Pasar masih menjadi penyumbang terbanyak dalam penyebaran Covid-19 di Sumbar. Minggu (14/6/2020), dua orang tenaga kesehatan terkonfimasi positif Covid-19.

Seorang dari mereka tertular setelah melakukan kontak di Pasar Raya Padang. Saat ini keduanya sedang menjalani isolasi mandiri.

Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Sumbar, Jasman Rizal mengatakan, dari 1.625 sampel swab yang diperiksa dari berbagai rumah sakit di Sumbar oleh Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Wilayah II Baso, terkonfirmasi 7 warga positif Covid-19 dan semuanya berasal Kota Padang.

Dari 7 warga itu, tiga di antaranya tertular di Pasar Raya Padang salah satunya merupakan tenaga kesehatan. Menurutnya pada fase normal baru, masyarakat harus tetap mengutamakan protokol kesehatan sehingga penyebaran virus bisa dicegah.

Ia menambahkan, hingga kemarin, total 681 orang warga Sumbar terinfeksi Covid-19. Warga yang sembuh bertambah 12 orang, sehingga total sembuh menjadi 423 orang dan meninggal bertambah 1 orang lagi, sehingga total meninggal 30 orang.

Tak Patuh Protokol Kesehatan
Sementara itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solsel meninjau sejumlah pasar tradisional di daerah itu. Dalam kesempatan itu, gugus tugas juga menyosialisasikan aturan selama fase normal baru.

“Kami ingin memastikan agar pengunjung dan pedagang tetap perhatikan protokol kesehatan. Bila betul-betul aman, maka tahap selanjutnya Solsel bisa berpindah ke zona hijau atau lebih aman,” terang Kepala BPBD Solok Selatan Richi Amran, Minggu (14/6/2020).

Ia meminta pedagang mengingatkan pengunjung cuci tangan sebelum pulang dari pasar. Untuk itu perlu kesadaran semua pihak mencegah penyebaran wabah tersebut.

“Intinya bila tidak ingin Covid-19 menyebar di pasar, caranya patuhi prokol kesehatan,” ujar Richi.

Dari hasil sosialisasi Covid-19 di lapangan, terutama di Pasar Padangaro dan Muaralabuh, pihaknya banyak warga yang tidak mematuhi aturan, seperti tidak memakai masker.

“Yang jelas kita berikan imbauan, jangan sampai ketidakpatuhan memicu penularan,” tuturnya.
Salmi Wati, pedagang sayuran mengaku, kadang pakai masker dan kadang tidak. Bahkan pengunjung katanya, banyak tidak memakai masker ke pasar.

Hasil Swab 72 Satgas Negatif
Di sisi lain, Pemerintah Kota Pariaman bernafas lega. Hasil swab 72 orang Satgas Covid-19 dinyatakan negatif. Meski begitu warga tetap diimbau disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Alhamdulillah hasil swab seluruh petugas yang tergabung di Satgas Covid-19, negatif. Pengambilan swab ini kami lakukan mengingat potensi petugas tertular cukup tinggi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Syahrul.

Dengan demikian hingga saat ini di Kota Pariaman tidak ada berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) begitu juga dengan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dengan kondisi ini Kementrian Kesehatan sebut Syahrul menetapkan Pariaman saat ini berada berstatus zona kuning bersama dengan Kota Solok. Sedangkan daerah lainnya di Sumbar masuk dalam zona merah.

Untuk Kota Pariaman, pertengahan April kemarin sempat ada 1  kasus positif dan dinyatakan negatif setelah menjalani isolasi selama 11 hari di Bapelkes Padang. Hingga saat ini itu merupakan kasus pertama dan terakhir di Kota Pariaman.

Meski demikian, Syahrul menyebut upaya pencegahan penularan terus dilakukan. Dalam waktu dekat seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas termasuk bidan desa juga akan menjalani pemeriksaan swab.

Sebab mereka rentan terpapar karena berhadapan dengan banyak pasien setiap harinya. “Pengambilan swab akan dilakukan secara bertahap di masing-masing puskesmas yang ada di Kota Pariaman,” ujarnya.

Untuk kawasan ramai dan rentan penularan, juga terus dilakukan pengawasan seperti di objek wisata, pasar dan masjid. Wajib mengikuti protokol kesehatan ini merupakan salah satu upaya pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran.

“Tenaga medis selalu berjaga di tiga kawasan ramai tersebut, melakukan pemeriksaan suhu dan mengingatkan untuk menggunakan masker,” ujarnya.

Tim di puskemas juga selalu melakukan sosialisasi ke masyarakat dan desa-desa tentang pemahaman fase normal baru. Ada kecendrungan warga menganggap normal baru bebas sebebasnya sehingga ada yang mulai enggan menggunakan masker. Untuk itu ia mengimbau tetap disiplin mentaati aturan protokol kesehatan. (wni/tno/nia)