Hari Ini Sumbar Masuk Zona Oranye akibat Pembatasan dan Prokes Lemah

313

Peningkatan positivity rate (PR) kasus Covid-19 di Sumbar menjadi 16 persen, ternyata juga diiringi bertambahnya jumlah daerah yang masuk zona oranye.

Hari ini (18/4/2021) pada Minggu ke-58 pandemi Covid-19, dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, sebanyak satu kabupaten statusnya zona merah, 13 zona oranye dan 5 zona kuning.

“Meningkat dari minggu sebelumnya, dari 9 daerah ke 13 daerah. Sumbar zona oranye. Belum pernah terjadi zona oranye lebih banyak dari zona Kuning di Sumbar,” ujar Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Sumbar Jasman Rizal, Minggu (18/4/2021).

Sementara itu, berdasarkan hasil perhitungan 15 indikator data onset Minggu ini Kabupaten Limapuluh Kota masih berada di zona merah skornya 1,71. Turun dari minggu sebelumnya 1,80. Artinya, kondisi kabupaten ini bertambah buruk dalam penanganan Covid-19. “Ini adalah minggu kedua Limapuluh Kota masuk zona merah,” tegasnya.

Sesuai Perda Sumbar Nomor 6 tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru, bahwa daerah yang berada di zona merah, agar secara ketat menerapkan protokol kesehatan (prokes), termasuk melarang sekolah tatap muka dan semua aktivitas yang melibatkan orang banyak  (antisipasi kerumunan).

Sedangkan daerah zona oranye atau risiko sedang adalah Kota Pariaman (skor 2,40), Kabupaten Tanahdatar (skor 2,39), Pesisir Selatan (skor 2,39), Dharmasraya (skor 2,38), Kota Payakumbuh (skor 2,31), Kabupaten Padangpariaman (skor 2,30), Pasaman Barat (skor 2,22), Pasaman (skor 2,18), Agam (skor 2,10), Solok Selatan (skor 2,09), Kota Sawahlunto (skor 1,95), Kabupaten Solok (skor 1,95) dan Kepulauan Mentawai (skor 1,92)

Yang paling rendah skornya pada minggu ini adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Setelah lebih satu tahun Kabupaten Kepulauan Mentawai tanpa kasus meninggal dunia, maka pada minggu ke-58 ini telah ada warganya yang meninggal dunia akibat Covid-19. Artinya tidak ada lagi daerah Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat yang bebas dari kematian,” kata Jasman dalam laporannya.

Sedangkan daerah zona kuning atau risiko rendah adalah Kota Padangpanjang (skor 2,54), Kabupaten Sijunjung (skor 2,50), Kota Bukittinggi (skor 2,48), Kota Solok (skor 2,44) dan Padang (skor 2,44).

Kota Padangpanjang menjadi yang terbaik minggu ini dengan skor tertinggi 2,54. Mencatatkan skor terbaik dalam penanganan covid-19 (sesuai indikator kesehatan masyarakat)

“Semakin tinggi skor, semakin baik pengendalian penyebaran Covid-19 di daerah tersebut,” kata Jasman.

Peningkatan kasus positif, menurut Jasman didominasi di daerah perkampungan. Di daerah perkotaan justru kasus covid-19 menurun.

Sampai minggu ke 58, warga Sumbar yang telah terinfeksi Covid-19 sebanyak 33.933 orang. Recovery Rate (tingkat kesembuhan) 93,35%, atau sembuh 31.678 dari 33.933 orang yang terinfeksi. “Ini capaian kesembuhan tertinggi secara nasional,” katanya.

Sementara pasien meninggal dunia akibat Covid-19, totalnya 741 orang dari 33.933 yang terinfeksi (2,18%).

Kasus Aktif sebanyak 1.514 orang (4,46%) dari 33.933 orang,  pasien dirawat di RS Rujukan 375 orang (1,11%) dan isolasi mandiri 1.063 orang (3,13%) serta Isolasi dikarantina Kab/Kota 76 orang (0,22%).

Baca Juga:  Gempa Magnitudo 5,1 Goyang Mentawai, Terasa hingga Padang

“Tingkat hunian rumah sakit (ruangan khusus rujukan pasien Covid-19) adalah 33,69%. Secara keseluruhan, kasus Covid-19 di Sumbar pada Minggu ke-58 meningkat,” kata Jasman

Kondisi tersebut perlu perhatian Satgas. Kecenderungan kasus meningkat ini akan mengkhawatirkan karena pengawasan terhadap orang datang di bandara dan pembatasan sudah sangat longgar.

“Penerapan protokol kesehatan yang mengacu Perda Nomor 6 Tahun 2020 juga sangat longgar,” tandasnya.

Solusi dari Dr Andani

Sebelumnya, Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Dr Andani Eka Putra mengungkapkan, hari ini positivity rate 16% pertama terjadi di Sumbar sejak pandemi melanda Maret 2020.

“Untuk pertama kali positivity rate (PR) di Sumbar tembus angka 16%, dari yang biasa 5-8%. Ini artinya ada 16 orang positif dari setiap 100 orang yang diperiksa. Angka ini terbesar di Sumbar sejak era pandemi,” ungkap Andani Eka Putra di GWA Kawal Covid-19 Sumbar, Minggu (18/4/2021).

Peningkatan PR itu terjadi karena beberapa hal, di antaranya dalam bulan Ramadhan ini ada kebiasaan buka bersama, penerapan protokol kesehatan lemah dan capaian vaksinasi umum masih rendah.

“Akumulasi ini berisiko besar bagi kita di Sumatera Barat jika tidak kita antisipasi sebaik-baiknya,” ingatnya.

Andani mengusulkan beberapa solusi kepada gubernur, bupati dan wali kota di Sumbar. “Saat ini rasanya tidak perlu retorika protokol,” tegasnya.

Adapun solusi yang diberikan Andani adalah, mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja kantoran selalu memakai masker. “Kantor swasta yang tidak patuh akan diminta tutup,” katanya.

Kemudian, rumah makan diminta benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Misalnya, satu meja untuk buka puasa hanya diisi 1/2 kapasitas. “Tidak patuh akan ditutup,” tandasnya.

Untuk aktivitas di masjid, Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Penanganan Covid-19 itu meminta agar Satgas Masjid diperkuat. Pengurus masjid yang tidak menerapkan protokol kesehatan diberikan sanksi.

Andani juga mengingatkan terkait tracing. Rasio idealnya 1:15-20. Ini harus dipastikan berjalan. Apalagi ada kebijakan babinsa dan babinkamtibmas. Selanjutnya, penguatan satgas desa dan shelter desa untuk isolasi. “Masih banyak yang lain, tapi perlu dikawal semua proses itu berjalan atau tidak,” ujarnya.

Saat kunjungan ke Sumbar beberapa hari lalu, Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo juga mengingatkan bahwa menghadapi mudik Lebaran, pemprov perlu melakukan kontrol untuk mengawasi warga pendatang yang masuk Sumbar. Agar bencana non-alam pandemi Covid-19 bisa tertangani maksimal.

“Pemerintah daerah hingga ke wali nagari tak boleh lengah, penerapan prokes harga mati. Jangan tunggu hingga rumah sakit penuh lagi. Nakes kita yang tinggal sedikit ikut terpapar. Jangan egois, walau Lebaran sekali setahun, tapi saat ini situasi pandemi. Perantau mohon bersabar,” imbau Doni yang juga Ketua Satgas Nasional Penanganan Covid-19.(rel/GWA)

Previous articlePariyanto: Pisew Mampu Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
Next articleSMK SMAK Padang Beri Pelatihan Pembuatan POC Darsa Rupawan