Perusahaan Diminta Tidak Semena-Mena

12
SIDAK: Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan didampingi Kapolres dan sejumlah pejabat lainnya saat melakukan sidak ke salah satu perusahaan sawit di daerah itu.(IST)

Menyikapi anjloknya harga sawit, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sijunjung, Muhadiris, mendatangi dua pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) di Kecamatam Kamangbaru, Kabupaten Sijunjung, Senin (16/5).

Kunjungan juga menyikapi terjadinya penumpukan dan antrean truk di jalan menuju pabrik. Perusahaan yang dikunjungi adalah PT Kemilau Permata Sawit (KPS) di Nagari Muarotakung, dan PT Bina Pratama Sakato Jaya Kiliranjao, Kenagarian Kunangan Parit Rantang (Kunpar).

Turut hadir Kepala Disperindagkop, Yulizar, Plt Kepala Dinas Kominfo, David Rinaldo, Kasatpol PP, Syuhril, Camat Kamangbaru, Nasrudin,  perwakilan dinas pertanian, serta wali nagari, Iswadi, perwakilan ninik mamak, Dt. Bagindo Sutan.

Muhadiris, di hadapan Mill Manager PT.KPS M. Syahit Syar didampingi Kepala Tata Usaha, Nofti Hidayat beserta sejumlah jajaran lingkup Pemkab Sijunjung menuturkan, sejak sepekan terakhir, tepatnya sehabis Lebaran Idul Fitri 1443 H, keluhan masyarakat petani sawit semakin tak terkendali, menyusul harga TBS anjlok cukup parah.

Harga sebelumnya yang bertengger di kisaran Rp3.800 mengalami terjun bebas ke level Rp1.600 perkilogram. Seiring keluarnya kebijakan pemerintah (secara nasional) tentang pelarangan ekspor CPO ke luar negeri. Karena itu harga jual kelapa sawit di tingkat petani anjlok, parah.

Di PT KPS sendiri diinformasikan harga beli TBS melalui pihak ketiga (penyedia jasa DO,red) tiap hari bahkan berubah-ubah, dan penurunan harga bisa terjadi 2 kali dalam sehari. Sehingga masyarakat tani hingga pengusaha penyedia jasa transportasi dan jasa DO mengalami kerugian besar mencapai ratusan juta rupiah.

Persoalan lain, terjadinya penumpukan dan antrean panjang truk pengangkut TBS di jalan utama menuju PT KPS Muarotakung sejak empat hari terakhir.  Diantaranya bahkan ada yang mengaku harus bermalam di jalan demi menunggu giliran masuk pabrik.

“Sebelum Idul Fitri Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan penyetopan ekspor CPO ke luar negeri. Seiring waktu harga TBS mendadak jatuh, selanjutnya sehabis Lebaran menyusul muncul gejolak demi gejolak di tengah ekonomi sekarang yang kian susah,” tukas Muhadiris di hadapan pihak managemen PT KPS Muarotakung.

Selain itu, penumpukan truk dan antrean panjang terjadi di jalan menuju pabrik KPS. Bahkan ada sopir yang terpaksa bermalam di jalanan. Masyarakat berencana akan menggelar aksi demo ke Gedung DPRD dan Kantor Bupati Sijunjung.

Mestinya pihak perusahan tetap bisa membuat kebijakan memberlakukan standar harga secara wajar, dan turun naiknya jangan tiap sebentar. Harga terlku rendah sama artinya membunuh kalangan petani.

Menyikapi hal tersebut, Mill Manager PT KPS M Syahit Syar menyebut, ketetapan harga beli TBS menjadi kewenangan manajemen di Padang, sementara pihak perusahaan hanya menjalankan saja.

Soal antrean kendaraan (truk), disebabkan kendaraan masuk mengalami over kapasitas, dari sebelumnya berkisar 150 unit melonjak mencapai 400 per hari.  Total produksi CPO meningkat drastis hingga membuat alat penampungan CPO senantiasa penuh.

Kendaraan masuk ke pabrik sebagian kini berasal dari luar daerah, bahkan luar provinsi Sumatera Barat. Lantaran sejumlah pabrik pengolahan CPO banyak yang tutup, maka stok ramai-ramai dibawa ke PT KPS.

Baca Juga:  Enam Kapolres Dimutasi!!! Satake Bayu Pindah ke Polda Bali!

Sementara Visiting Engginger PT Bina Pratama Sakato Jaya, Adi Susanto, didampingo Kepala Kantor, Budi menuturkan, pihaknya menetapkan harga beli TBS Rp1.600 per kilogram. Kemarin (Senin, red) terpaksa tutup karena hari libur, tanggal merah.

“Harga TBS terakhir, hari Minggu (15/5) adalah Rp1.895. Untuk perubahannya menjadi kewenangan manajemen diatas,  perusahaan daerah hanya menjalankan saja,” ujarnya pula. Terkait suplai bahan baku, PT Bina Pratama mengutamakan hasil panen buah inti (plasma), untuk pembelian TBS luar hanya bisa maksimal 90 truk sehari.

Untuk stabilnya suplai stok lokal diharapkannya Pemkab Sijunjung ikut membantu membuatkan regulasi agar prduk luar provinsi tidak masuk ke PT Bina Pratama. Sebab dengan masuknya stok dari luar mengakibatkan pabrik Bina Pratama kebanjiran bahan baku.
Sidak

Sementara itu, di Dharmasraya, menindaklanjuti anjloknya harga TBS sawit, Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan bersama Kapolres Dharmasraya, AKBP Nurhadiansyah didampingi Kepala Dinas Pertanian, Darisman, dan beberapa OPD langsung melakukan sidak ke beberapa perusahaan kelapa sawit yang ada di Dharmasraya.

Seperti di perusahaan PT Dharmasraya Lestari (DL) dan PT DSL. Di dua perusahaan tersebut ternyata harga TBS berfariasi dan terlihat juga antrean kendaraan menunggu bongkar sawit terlihat antre.

Di PT DL rombongan sidak di terima Manager Operasional Parlindungan Rangkuti dan lainnya. Kepada pihak perusahaan bupati menegaskan agar pihak perusahaan memprioritaskan membeli buah sawit yang berasal dari petani Dharmasraya dengan harga yang pantas.

“Tolong perusahaan jangan sampai menutup dan tidak menampung sawit petani Dharmasraya, prioritaskan buah sawit petani Dharmasraya. Jika itu yang dilakukan perusahaan, saya akan mengambil tindakan tegas. Bisa saja saya akan cabut izin usaha pengelolaan hasil perkebunan perusahaan anda, beberapa hari ini akan saya pantau,” jelasnya.

Terkait persoalan rendahnya harga buah sawit, bupati juga mendesak perusahaan untuk tidak menentukan harga sekehendak hati, tetapi harus menyesuaikan harga CPO dunia.
“Jangan perusahaan membuat rakyat saya sengsara dan jangan sampai rakyat saya tidak makan karena murahnya harga sawit. Tolong itu diperhatikan, kalau tidak saya cabut izin anda,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, perusahaan DL dan DSL di hadapan Bupati berjanji akan tetap menampung TBS petani sawit Dharmasraya dan tidak akan melakukan penutupan. “Hingga sampai saat ini, kami belum pernah melakukan penutupan. TBS milik petani tetap kita tampung, sesuai kemampuan kapasitas perusahaan perhari,” ungkap Manager PT DSL Juanan didampingi KTU dan Humas Wahyu Sinaga.

Mengenai harga, kata Wahyu Sinaga, pihaknya membeli dengan harga Rp 2.035 per kilogram. “Harga kita hari ini Rp 2.035,” tegasnya. Perusahaan juga berjanji di hadapan Bupati akan memprioritaskan TBS petani sawit Dharmasraya, dibandingkan TBS petani dari luar daerah.  “Kita akan prioritaskan TBS petani sawit Dharmasraya,” ucapnya. (atn/ita)