Bupati-Wako Diminta Swab Massal, Buka Isolasi, Tambah Kapasitas RS

55

Untuk percepatan pengendalian dan penghentian penyebaran Covid-19 yang meningkat, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah pada Sabtu (22/5/2021) menyurati bupati dan wali kota agar melakukan swab test PCR secara massal.

“Memperbanyak swab test PCR kepada semua kelompok masyarakat dengan cara massal. Misalnya, kelompok guru-guru, kelompok pejabat, ASN, TNI, Polri dan lain-lain,” kata Mahyeldi dalam surat bernomor 360/265/Umum-2021 yang bersifat segera itu.

Kemudian, bupati dan wali kota diminta melakukan pengawasan ketat terhadap orang baru masuk ke daerahnya. Melibatkan semua stakeholder terkait, termasuk institusi informal di masing-masing daerah.

Menyikapi banyaknya pasien Covid-19 diagnosa ringan atau orang ttanpa gejala (OTG), gubernur meminta bupati dan wali kota sesegera mungkin mengaktifkan atau membuka kembali tempat isolasi mandiri.

“Terkoordinir di daerahnya masing-masing, mengacu pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan,” kata Mahyeldi dalam surat yang ditembuskannya kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) dan Forkompinda Sumbar.

Sebagai antisipasi kemungkinan pertambahan kasus positif Covid-19 di Sumbar, mantan wali kota Padang ini mengharapkan kabupaten dan kota merawat pasien diagnosa sedang di rumah sakit daerahnya masing-masing.

Sedangkan pasien Covid-19 yang diagnosa berat, dapat dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19 daerah lain, setelah terlebih dahulu berkoordinasi dengan rumah sakit tujuan.

Sementara bagi pasien Covid-19 diagnosa ringan, diharapkannya agar isolasi mandiri, baik di rumah masing-masing dengan pengawasan ketat atau di tempat yang telah disediakan pemkab dan pemko.

Antisipasi kedua adalah, menambah kapasitas tempat tidur untuk pelayanan pasien Covid-19 berdasarkan zonasi. Untuk zona merah, mengkonversi 40% dari total tempat tidur (25% ICU), zona oranye mengkonversi 35% dari total tempat tidur (25% ICU), zona kuning mengkonversi 30% dari total tempat tidur (20% ICU) dan zona hijau mengkonversi 25% dari total tempat tidur (15% ICU).

Berdasarkan data onset pekan ke-62 yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Sumbar, Sabtu (22/5/2021), jumlah warga positif Covid-19 cenderung meningkat.

Positivity rate (PR) atau perbandingan jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan, meningkat dibandingkan pekan lalu. Masih melebihi 5% standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Kecenderungan PR meningkat. Pada minggu ke-62 sebesar 9,24, meningkat dari minggu sebelumnya di 8,96,” ungkap Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Sumbar Jasman Rizal, Sabtu (23/5/2021) malam.

Warga yang meninggal akibat terinfeksi virus korona juga meningkat. Totalnya sudah mencapai 878 orang dari 40.111 orang terinfeksi sejak pandemi terjadi (2,19%).

Baca Juga:  Pedagang Ternak Waspada, Penyakit Mulut dan Kuku Ditemukan di Sijunjung

Berdasarkan data harian Satgas pada Sabtu (22/5/2021), terjadi penambahan 302 orang warga Sumbar positif terinfeksi Covid-19, dan meninggal dunia sebanyak 8 orang.

Sedangkan tingkat kesembuhan, total 38.218 orang dari 41.916 orang terinfeksi (91,18%). Pada Sabtu (22/5/2021) warga terinfeksi yang sembuh bertambah 284 orang.

Masukan Pakar

Sebelumnya, Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr Andani Eka Putra menyampaikan sejumlah masukan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya.

“Mari kita mendorong dan membantu pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, yaitu mengaktifkan tempat isolasi, satgas, siapkan rumah sakit,  termasuk ruang isolasi intensif dengan ventilator,” ujarnya di GWA Kawal Covid-19 Sumbar.

Selain itu, katanya aktifkan kembali tempat isolasi, seperti BPSDM, Baso, Asrama Haji serta kabupaten dan kota. Kemudian percepatan berdirinya posko nagari dan satgas nagari. “Bukan di atas kertas, tapi real. Lengkap dengan indikator kinerjanya dan pertahanankan upaya penegakan hukum,” tambahnya.

Kemudian, lanjut Andani, awasi penambahan tempat tidur di RS sesuai surat gubernur dan tingkatkan tempat tidur ICU dengan ventilator. “Banyak ventilator yang belum digunakan secara optimal,” tandasnya.

Epidemiolog Universitas Andalas Defriman Djafri juga menyarankan langkah pengendalian untuk menekan lonjakan kasus positif dan kematian yang meningkat.

Yakni, melakukan testing dan pelacakan riwayat kontak secara masif dalam mendeteksi secara dini dan memutus mata rantai penularan.

“Ini yang saat ini sudah mulai jumlahnya tidak konsisten, seperti tahun sebelumnya, cenderung menurun. Dan ada narasi, no test, no case., yes test, yes case,” jelasnya.

Langkah kedua, menganalisis data kasus saat ini secara komprehensif agar gambaran dan severitas kasus telihat secara jelas. Agar langkah-langkah dan upaya pengendalian tepat dilakukan.

“Tidak ada lagi narasi mengkambinghitamkan atau membanding-bangdingkan aspek-aspek yang dipertimbangkan, tapi tidak adil dalam implementasi kebijakan pengendalian. Semuanya harus dijawab dengan data jika kita ingin mengurai,” tambahnya.

Ketiga, Defriman menyarankan agar menggerakan mesin sosial dan  satgas nagari dalam mengontrol penerapan prokes di masing-masing wilayah.

“Perlu lagi menyamakan persepsi dan diskusi terkait potensi risiko serta upaya pengendalian bersama-sama pemerintah, ninik mamak, alim ulama, tokoh masyarakat, akademisi, praktisi, pelaku usaha, NGO dan media,” ajaknya.(idr)