Kenakalan Remaja Marak, Mulyadi: Perlu Pendekatan Agama dan Adat 

79

Calon Gubernur Sumbar Mulyadi ingin menjawab kekhawatiran masyarakat Sumbar tentang maraknya kenakalan remaja berupa narkoba hingga yang paling ekstrem Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Mulyadi mengatakan hal seperti itu tidak pernah terpikir sebelumnya.

Anggota DPR RI tiga periode ini mengatakan sebagai provinsi yang punya landasan agama pada kehidupan masyarakatnya, tidak seharusnya hal itu terjadi. Dia menginginkan Sumbar menjadi provinsi yang dilimpahan keberkahan.

“Kalau enggak ada keberkahan bakal banyak permasalahan yang muncul seperti yang kita dengar saat ini banyak muncul LGBT, narkoba, dan permasalahan lainnya. Padahal kita terkenal dengan masyarakat yang agamis,” kata Mulyadi di Tilatang Kamang, Jumat (23/10/2020).

Pria kelahiran Bukittinggi ini menilai persoalan tersebut muncul karena nilai-nilai agama tidak lagi menjadi landasan dalam kehidupan, terutama anak-anak muda. Sehingga menganggap budaya dan nilai-nilai luar tersebut sebagai hal yang biasa.

“Artinya agama tidak lagi menjadi landasan yang kuat, sehingga banyak yang terjerumus ke hal-hal yang tidak sesuai dengan agama, adat dan budaya kita,” ucapnya.

Untuk menangkal hal tersebut, Mulyadi ingin Pilgub Sumbar sebagai momentum perubahan. Dia dan Ali Mukhni ingin memperkuat nilai-nilai agama di tengah masyarakat dengan membantu para guru mengaji, guru agama, hafiz dan hafizah dalam bentuk tunjangan kehormatan.

Baca Juga:  Komisi III DPRD Sumbar Bahas Kejahatan Skimming dengan Direksi Bank Nagari

Mulyadi berpikir, jika ekonomi para pengajar agama sudah terjamin, para pemuka agama dan guru bisa fokus dalam menjalankan tugas menanamkan nilai-nilai agama.

“Jangan sampai para pemuka agama kita, guru ngaji kita terkendala soal ekonomi. Maka dari itu untuk Sumbar Berkah kita juga menyediakan program tunjangan kehormatan bagi pemuka agama hingga hafiz/hafizah,” ucapnya.

Untuk memperkuat nilai-nilai agama, Mulyadi juga telah mencanangkan revitalisasi pesantren. Pesantren-pesantren harus menjadi tempat penanaman nilai-nilai agama yang nyaman untuk belajar.

Lebih lanjut, peran dari tokoh adat, alim ulama, hingga cadiak pandai juga harus dimaksimalkan. Menurut figur yang dikenal sebagai tokoh percepatan Jembatan Kelok 9 ini, memimpin Sumbar harus dengan semangat kebersamaan. Dia mengatakan gubernur tidak bisa menyelesaikan semua persoalan dengan pendekatan pemerintahan.

“Gubernur itu bukan Superman, yang bisa melakukan apapun. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan pemerintah, tapi bisa dilakukan oleh niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai yang telah terbukti ratusan tahun lalu. Kekuatan itu harus kita berdayakan,” tutup Mulyadi. (idr)