Waspada Gempa Susulan, Hindari Kawasan Perbukitan dan Bangunan Rusak

50

Hasil monitoring BMKG hingga pukul 10.06 WIB menunjukkan telah terjadi 15 kali aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar 4,2, setelah gempa magnitudo 6,1 di Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar, Jumat (25/2/2022).

“Gempa utama dengan magnitudo 6,1 didahului satu kali kejadian gempabumi pendahuluan (foreshock) dengan magnitudo 5,2,” ujar Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono lewat akun Twitternya.

Gempa ini dirasakan di daerah Pasaman dengan skala intensitas V-VIMMI, di Agam, Bukitttinggi, dan Padang Panjang intensitas IV MMI, di Padang, Payakumbuh, Aek Godang, dan Gunung Sitoli III MMI, di Pesisir Selatan, Rantau Parapat, Nias Selatan, dan Bangkinang II MMI.

Gempa juga menimbulkan kerusakan pada banyak rumah di Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat, seperti yang sudah diestimasi oleh peta model guncangan gempa (shakemap) BMKG beberapa saat setelah gempa.

Menurutnya, gempa darat di Pasaman ini merupakan gempa tipe II, yaitu jenis gempa yang diawali Gempa Pembuka (foreshocks), kemudian terjadi Gempa Utama (mainshock), dan diikuti serangkaian Gempa Susulan (aftershocks).

Baca Juga:  Dispora Sumbar Cari 1 Kader Pemuda Daerah Ikuti Program PPAN 2022

Mekanisme sumber gempa Pasaman baik gempa pembuka dan gempa utama sama-sama mekanisme geser menganan (strike-slip dextral).

Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas Sesar Sumatera.

Daryono mengimbau masyarakat mewaspadai daerah perbukitan karena gempa tersebut dapat memicu ketidakstabilan lereng perbukitan. “Jika hujan dapat terjadi longsoran dan runtuhan batu, apabila terjadi gempa susulan signifikan,” ingat Daryono.

Selain itu, rumah yang sudah rusak meskipun ringan sebaiknya tidak ditempati dulu karena jika ada gempa susulan signifikan dapat terjadi kerusakan lebih parah dan membahayakan penghuninya.(esg)