Para Niniak Mamak dan Pemuda Mandeh Kukuh Jaga Nama Puncak Paku

333

Keputusan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan yang akan mengubah nama “Puncak Paku” menjadi “Puncak Jokowi” ternyata masih menuai kontroversi di masyarakat, khususnya kawasan wisata Mandeh, Sei Nyalo, Kecamatan Koto XI Tarusan.

Bahkan, kini di media sosial muncul tagar #savepuncakpaku di masyarakat sebagai ungkapan penolakan demi menjaga histori penamaan “Puncak Paku” yang memiliki latar pemandangan laut biru dan perbukitan tak kalah dengan Raja Ampat.

Niniak mamak Nagari Sei Nyalo Mudiak Aia Nafril Dt Bandaro Sati Nan Mudo mengatakan seharusnya pemerintah daerah sebelum mengambil kebijakan bermusyawarah dengan masyarakat dan niniak mamak serta pemuda nagari.

Dengan begitu, jadi tahu dengan sejarah kenapa puncak tersebut waktu itu diberi nama Puncak Paku.

“Sebelum kawasan Mandeh terbuka seperti sekarang, puncak itu sejak dulunya sudah diberi nama “Puncak Paku” oleh nenek moyang kami di sini. Nah, setelah Mandeh terbuka, nama itulah yang diceritakan ke para wisatawan saat mereka berkunjung dan berfoto-foto di sana,” kata Nafril.

Diakuinya, memang Presiden Jokowi dan pemerintah kabupaten berperan besar dalam membuka akses dan melengkapi fasilitas di Mandeh sehingga usaha masyarakat di sektor pariwisata menggeliat.

Begitu juga peran dari tokoh masyarakat dan para pegiat pariwisata di ranah dan rantau yang ikut membantu dan memberdayakan masyarakat.

“Masyarakat sangat apresiasi dan berterima kasih atas perhatian tersebut. Namun, janganlah penghargaan kita berikan dengan mengganti nama puncak itu. Kita tempatkan lah nama beliau pada lokasi yang tepat lewat musyawarah di nagari,” harapnya.

Tokoh Masyarakat Sei Nyalo Mudiak Aia Erizal Dt Rajo Lelo menambahkan bahwa agar polemik ini tidak berkepanjangan, maka ada baiknya pemda dan masyarakat nagari bermusyawarah untuk penghargaan yang terbaik bagi Presiden Jokowi. “Namun, bukan mengganti nama Puncak Paku yang sudah ada dan memiliki nilai historis itu,” imbuhnya.

Menurutnya hal yang perlu jadi perhatian adalah, menambah fasilitas penunjang di area Puncak Paku itu sehingga memudahkan wisatawan mengabadikan momen ketika berkunjung ke kawasan Mandeh. “Sensasinya bakal makin bagus dan wisatawan makin banyak berkunjung ke Puncak Paku,” ujarnya.

Baca Juga:  Ada Andre di Balik Penambahan Kuota Premium dan Solar Subsidi Sumbar

Hal senada diungkapkan Ketua Pemuda Sei Nyalo Hadi Nof. “Sebagai anak nagari, kami akan terus menjaga nama puncak itu walau apapun yang akan terjadi. Itu sejarah dan kearifan nagari yang tidak bisa diganggu siapapun,” tegasnya.

Hadi mengatakan, penghargaan terhadap Presiden Jokowi memang layak diberikan, namun pada lokasi yang tepat lewat musyawarah pemda bersama niniak mamak dan pemuda di nagari.

Hadi yakin, masyarakat nagari sepakat untuk itu karena nyata merasakan dampak ekonomi dari terbukanya kawasan wisata  Mandeh. Namun, bukan dengan mengubah nama “Puncak Paku” yang sudah terkenal dan mendunia itu.

“Kita berharap pemerintah daerah mengkaji kembali usulan perubahan nama itu. Apalagi saat ini sudah ada beberapa usulan dari masyarakat. Misalnya, pemberian untuk nama jalan, nama monumen atau anjungan dengan nama Bapak Presiden di rest area Puncak Paku,” jelas Hadi.

Sejarah Puncak Paku

Sebelumnya, Sejarawan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Dr Siti Fatimah memahami penolakan dari masyarakat terhadap usulan perubahan nama itu.

Menurutnya usulan mengubah nama itu keputusan yang kacau dan tidak mengacu pada sejarah. Bahkan, kata Siti Fatimah, penamaan di lokasi tersebut justru bisa merendahkan nama Jokowi.

Nama “Puncak Paku” diberikan ketika itu berdasarkan sejarah. “Dulu di sepanjang jalan Mandeh dekat puncak itu, tidak bisa dilewati karena penuh dengan paku ransam. Tempat yang banyak paku ransam ya ada di puncak itu. Makanya diberi nama “Puncak Paku”,” jelas Siti Fatimah.

Dekan FIS UNP yang sudah lima tahun meneliti di kawasan wisata Mandeh ini menjelaskan bahwa paku rancam adalah sejenis paku liar. Banyak tumbuh di sana karena sesuai dengan alam dan tekstur tanahnya. “Hanya itu (paku rancam) yang bisa tumbuh di sekitar puncak itu,” imbuhnya.

Meski demikian, kalau memang pemerintah kabupaten Pesisir Selatan ingin memberikan nama Jokowi juga, lebih tepatnya di sekitar pantai dekat Jokowi meresmikan Kawasan Wisata Terpadu Bahari (KWBT) Mandeh tahun 2015.(elf/esg)

Previous articleSandiaga Minta Andre Rosiade Bantu Pengembangan Pariwisata Sawahlunto
Next articleSurau Tuo Taram, Sarat Cerita Keramat, Simpan Al Quran Tulisan Tangan