CERPEN GURU: GURU HONOR SAMPAI TUA

220
Oleh: Lili Yartati Spd Kepala TK Kuntum Mekar Baso-Agam

Tek Tiah Guru, kini sudah 55 tahun lebih. Separuh hidupnya ia abdikan sebagai guru honor di kampungnya Mekarsari. Tek Tiah tak pernah diangkat menjadi PNS. Sampai kini.

Ia hanya dijanji-janjikan saja untuk segera diangkat menjadi PNS. Tapi itu tak membuat semangat tek Tiah patah dalam mengajar.

Ya, tek Tiah. Nama aslinya Tiasni. Tapi orang sekampung memanggilnya Tek Tiah Guru.
Walaupun hanya dengan gaji Rp 300 ribu sebulan namun Tek Tiah tetap terus pergi mengajar.

Sebenranya anak-anak Tek Tiah sudah melarangnya untuk mengajar karena dianggap membuang-buang waktu saja. Apalagi, anak-anaknya sudah pada besar-besar dan sudah bekerja pula. Dua anaknya menggalas di Pkenbaru. Si bungsu baru diterima menjadi PNS.

“Sudahlah Mak, berhenti sajalah amak lagi. Untuk apa juga amak harus pergi mengajar. Bukankah amak sudah tua?” kata Ridwan anak Tek Tiah yang baru diangkat menjadi PNS.

“Kalau Amak berhenti mengajar, siapa yang akan menjadi pengganti Amak. Sekolah tempat Amak mengajar itu kurang guru. Tak ada orang yang mau mengajar di kampong kita ini. Apalagi, kampong kita ini tersuruk. Jalan masuk ke kampong kita ini saja masih jalan tanah. Belum bisa masuk mobil. Belum sampai hati Amak meninggalkan anak murid Amak”, jawab Tek Tiah.

Biasanya, sepulang mengajar kegiatan Tek Tiah adalah ke lading. Tek Tiah juga menanam cabe rawit. Hasil dari cabe rawit itulah yang menghidupkan anak-anaknya. Suami Tek Tiah meninggal sejak anak-anak mereka masih bocah-bocah.Sejak, anaknya yang paling tua masih kelas satu SMP dan si bungsu masih belum sekolah.

Begitulah tek Tiah. Walau gajinya sebagai guru honor sungguh tak sangat mencukupi, namun Tek Tiah menutupinya dengan berladang. Kadang tek Tiah mengambil upah menggarap sawah orang.

Selain itu Tek Tiah juga memelihara beberapa ekor sapi. Dari hasil berladang dan beternak, tek Tiah menghidupi anak-anaknya hingga sudah besar-besar dan menjadi orang.

Sudah seminggu Tek Tiah tak mengajar. Dua hari yang lalu kepala sekolah tempat tek Tiah mengajar pergi menjenguk Tek Tiah. Sementara, anak bungsu Tek Tiah si Ridwan, sudah pula kembali ke kota untuk bekerja sebagai PNS. Tek Tiah tinggal sendiri di rumah sederhana itu.

Baca Juga:  Peduli Iklim Dunia, Indosat-GSMA Kolaborasikan Digitalisasi Konservasi Mangrove

Dulu, 15 tahun yang lalu tek Tiah pernah dijanjikan akan diangkat menjadi PNS.Tapi entah mengapa, janji itu hanya tinggal janji saja. Sampai kini Tek Tiah tak pernah diangkat-angkat menjadi PNS. Walau begitu, Tek Tiah tetap pergi mengajar.

Ia tak mengharapkan gaji dari mengajar. Ia hanya merasa kasihan kepada anak muridnya. Yang membuat Tek Tiah terus bertahan adalah rasa tanggung jawab morilnya. Kini Tek Tiah terbaring lesu di kamar sederhananya yang atapnya sudah banyak pula yang tiris. Kalau hari hujan, Tek Tiah menampung air dengan ember.

Kini sakit Tek Tiah sudah berangsur pulih walau ia belum kuat untuk mengajar. Badannya masih belum stabil-stabil amat. Namun, Tek Tiah masih bisa dan sanggup mencabut rumput di pekarangan rumahnya.

Tiba-tiba dari kejauahan Tek Tiah melihat ada rombongan menuju ke arahnya. Sepertinya rombongan pejabat. Makin lama rombongan itu makin mendekat.

“ Buk…”, salah seorang di antara rombongan itu langsung menyalami Tek Tiah.

“Lupa Ibuk sama saya. Saya Radit…” ujar orang itu. Tek Tiah masih tampak berpikir-pikir.

“Ohya, Radit…radit…ibu ingat” ujar tek Tiah dengan sangat bahagianya.

“Ibuk ingat sama saya? Saya Wati”, ujar yang lain.

“Saya Doni”

“Saya Ridho!”

“Ibuk tahu ndak Buk, Radit kini jadi Bupati Buk. Bahkan Bupati termuda….!”

Terpana Tek Tiah mendengarnya. “Sungguh Radit?” tanya Tek Tiah. Radit mengangguk sambil merangkul Buk Gurunya ini.

Kemudian tanpa diberi aba-aba, serentak rombongan itu menyanyikan lagu Himne guru seraya mengucapkan selamat Hari Guru kepada tek Tiah.

Di ujung perjumpaan itu, Radit menyerahkan sebuah kunci kepada Tek Tiah.

“ Ibu, terimalah ini Buk?” ujar radit seraya menyerahkan sebuah kunci.

“Kunci apa ini Nak?” tanya Tek Tiah.

Radit tersenyum.

“ Buk, ini kunci rumah untuk ibuk!”

Mendengar itu menetes air mata haru Tek Kiah.

“ Kami bersama-sama beriyur-iyur untuk membelikan ibuk rumah. Dan ini sedikit dari kami untuk masa tua Ibuk”, ujar radit seraya memberikan sebuah amplop berisi cek dengan nilainya sungguh sangat besar.

“ Selamat hari guru Buk !” Tek Kiah dan muridnya saling berangkulan!(*)

Oleh: Lili Yartati Spd (kepala TK Kuntum Mekar Baso-Agam)