Pembangunan Flyover Sitinjaulauik, tak Bisa Ditawar-tawar Lagi

32
Kendaraan melewati belokan menanjak tajam di Jalur Sitinjaulauik, Padang, Jumat (16/4) lalu. Selain rawan kecelakaan, jalur penghubung Kota Padang dengan Kabupaten Solok ini rawan longsor dan banjir. (IST)

Untuk kesekian kalinya, sejumlah kecelakaan beruntun terjadi di kawasan Sitinjaulauik. Teranyar, tabrakan beruntun melibatkan enam kendaraan terjadi pada Kamis (15/4) lalu. Selain menyebabkan kerugian materil sampai ratusan juta, kecelakaan nahas ini menyebabkan seorang ibu bersama anaknya tewas. Apakah ini pertanda standar keamanan di kawasan itu semakin mengkhawatirkan. Dan, sudah masanya dicarikan solusi dengan pembangunan flyover?

Jelas bukan kali ini saja kasus kecelakaan maut terjadi di jalur paling ekstrem di Sumbar itu. Bahkan, bagi seorang sopir berpengalaman pun, jalur ini tetap diwaspadai. Pasalnya, penyebab kecelakaan bukan hanya akibat faktor kendaraan, namun juga faktor alam seperti hujan. Biasanya bila hujan lebat terjadi, sopir truk atau kendaraan berat lainnya, lebih memilih mengurungkan niatnya untuk melewati jalur ini. Mengingat, risiko yang dihadapi semakin bertambah.

Data yang didapatkan Padang Ekspres dari Unit Laka Satlantas Polresta Padang selama 4 bulan terakhir dari Januari sampai April 2021, sedikitnya terjadi 10 kali kecelakaan di sepanjang jalur Sitinjaulauik ini. Semua ini tak terlepas, beratnya medan yang harus dilewati. Di samping naik-turun dan berkelok, ruas jalan sepanjang 15 km ini juga terdapat turunan curam. Bahkan, tanjakan Sitinjaulauik sangat curam dengan kemiringan 45 derajat.

”Dalam empat bulan terakhir ini, sedikitnya ada sekitar 10 kali mobil/ truk mengalami kecelakaan. Apakah itu, masuk jurang, menabrak tebing maupun terbalik,” ujar Kasat Lantas Polresta Padang Kompol Sukur Hendri Saputra kepada Padang Ekspres, pekan lalu.

Kompol Sukur menyebutkan, pihaknya tidak tinggal diam menyikapi kondisi ini. Mulai memasang imbauan di sejumlah titik, melakukan patroli rutin di kawasan tersebut, termasuk mengingatkan sopir yang kebetulan sedang istirahat di rumah makan sepanjang jalur ini. Intinya, agar berhati-hati melewati jalur ini. Terutama, melewati tanjakan Panorama I dan II.

”Kita pun menempatkan petugas keamanan jalan raya (PKJR) selama 24 jam untuk membantu menyetop kendaraan dari arah berlawanan ketika ada truk atau bus melintas dari bawah. Kami mengimbau penguna jalan yang melewati kawasan Sitinjaulauik ini lebih berhati hati, baik menurun maupun mendaki. Kalau cuaca tidak menentu, cari warung untuk berhenti istirahat sampai komdisi jalan benar benar aman,” ungkapnya.

Edison, 57, sopir mobil tangki air yang sudah 17 tahun melewati ruas jalan itu mengakui bahwa jalur Sitinjaulauik rawan kecelakaan lalu lintas. ”Medan jalan Sitinjaulauik sangat berbeda dengan lainnya. Bila tak hati-hati, bisa celaka. Tak sedikit kecelakaan terjadi di rute ini,” kata Edison kepada Padang Ekspres, Minggu (18/4) lalu.

Menurut dia, sopir truk atau bus yang melewati jalur Sitinjaulauik yang berasal dari luar daerah, harus membuat pertimbangan sebelumnya melewati jalur tersebut. ”Pokoknya, jika baru pertama kali sopir truk bermuatan barang atau bus penumpang yang melewati jalur Sitinjaulauik, maka boleh diperkirakan 90 persen pasti akan kena, kalau tidak gesit,” tuturnya.

Jika hujan datang, tambah dia, jalur Sitinjaulauik sangat berbahaya sekali kalau dilewati. mobil yang dikemudikan sering hilang kendali saat menanjak atau berada di turunan. Bahkan, dia pernah mengalami hal tersebut. Waktu itu, mobilnya berputar balik (spin) di tanjakan naik akibat hujan. ”Sejak saat itu, saya selalu berhati-hati ketika melewati jalur itu,” ucap dia.

Yosritzal PhD selaku Ketua Pusat Transportasi Unand menilai, selama ini permasalahan utama yang dihadapi setiap pengendara di Sitinjaulauik adalah keselamatan saat berkendara.

Selain kondisi tebing mudah longsor, tikungan dan tanjakan terjal, ditambah kondisi jalan tidak merata membuat jalanan sangat berbahaya terutama bagi jenis kendaraan bermuatan berat. Kendaraan jenis tersebut memiliki potensi dan risiko kecelakaan dan menimbulkan kemacetan pada ruas jalan.

”Tentulah, hal ini membuat kondisinya sangat berbahaya. Salah satu upaya jangka pendek yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan ini adalah, membuat rambu-rambu, drainase jalan, dan membuat lajur pelarian di sisi tebing untuk setiap kendaraan yang mengalami rem blong. Sehingga, kecepatan kendaraan tersebut berkurang. Namun, alternatif tersebut tidak bisa dipertahankan dalam kurun waktu jangka panjang,” ujarnya.

Flyover jadi Solusi
Dosen Fakultas Teknik Unand ini menilai, solusi jangka panjang terhadap permasalahan tersebut adalah pembangunan flyover (jembatan layang). ”Ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari pembangunan flyover tersebut. Yakni, segi keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Lalu, dapat memanfaatkan objek tersebut menjadi lokasi wisata konstruksi, seperti di Kelok Sembilan,” ujarnya.

Berdasarkan pertemuan Komite Nasional Keselam Transportasi (KNKT) di Terminal Anakaia Padang, Sabtu (17/4) lalu, flyover Sitinjaulauik salah satu solusi advance jangka panjang untuk mengatasi beberapa permasalahan yang selama ini terjadi di ruas jalan tersebut.

”Acara tersebut juga dihadiri Ketua dan Tim Peneliti KNKT, Kepala Dinas Perhubungan Sumbar, dan Solok, serta perwakilan beberapa universitas di Sumbar. Rapat tersebut menghasilkan flyover Sitinjaulauik salah satu solusi advance untuk mengatasi beberapa permasalahan yang cukup berisiko di sana,” ujarnya.

Ekonom asal Unand Prof Elfindri mengatakan, rencana pembangunan flyover di Sitinjaulauik itu merupakan rencana pembangunan strategis. Terlebih, pembangunan ini sudah dicanangkan sejak 20 tahun lalu. Hal ini ditujukan untuk mempersempit jarak tempuh antara Padang menuju Solok.

”Saat ini, jarak tempuh perjalanan sedikit lebih lama. Akibatnya, memicu terjadi kemacetan atau over crowded pada ruas jalan di sana. Jadi, pembangunan flyover itu salah satu solusi agar waktu perjalanan bisa jadi lebih cepat dan permanen,” jelasnya.

Durasi perjalanan lebih cepat itu, menurut Elfindri, dampak positif dari pembangunannya. Namun, pembangunan itu memerlukan biaya yang sangat tinggi. Jika perencanaan tersebut hanya sebatas ide tanpa realisasi, tentu hal ini akan menjadi sia-sia.

”Sumbar sudah membuktikan kalau kita punya teknologi dalam proses pengerjaan flyover di Kelok Sembilan, Limapuluh Kota. Oleh karena itu, pembangunan ini tidak mungkin mustahil asal proses pendanaan dan penanganannya tepat,” jelasnya.

Baca Juga:  Yorinaldi Sebut Karyawan Bank Mandiri Sangat Butuh Divaksin. Kenapa?

Selain itu, tambah dia, juga perlu pertimbangan ulang atas pembangunan flyover tersebut. Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah ada atau tidaknya pertumbuhan ekonomi yang signifikan dari pembangunan jembatan ini. ”Jika pembangunan jembatan layang itu dapat dilakukan, tentu akan membuka banyak lapangan kerja baru. Salah satunya, sewaktu pembangunan jembatan layang,” ujarnya.

Harif Amali PhD, mantan Dekan Fakuktas Ekonomi Unand juga menekankan hal sama. Jalan Sitinjaulauik hari ini merupakan jalan yang direncanakan dapat digunakan dalam jangka panjang. Namun jika ada investasi yang kuat, flyover tentu lebih baik dibuat, salah satunya dapat meminimalisir risiko kecelakaan akibat faktor alam.

”Namun, pembangunannya tentu perlu pengukuran ulang. Salah satunya, jenis sektor ekonomi mana saja yang perlu ditarik. Jika hanya untuk menghubungkan antara Padang dan Solok saja, tentu pertumbuhan ekonominya tidak terlalu besar,” ungkapnya.

Namun, jika pertimbangan pembangunan flyover ini dapat dikoneksikan dengan jalan tol, menurut Harif, dampak positifnya akan dapat dirasakan dalam jangka panjang dan memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih besar.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Sumbar Imral Adenansi kepada Padang Ekspres, Sabtu (17/4) lalu, berpandangan bahwa efek domino bila flyover Sitinjaulauik dibangun, berdampak terhadap ekonomi Sumbar. Menurutnya, bila flyover Sitinjaulauik selesai, Sumbar punya satu lagi situs unik seperti halnya flyover Kelok Sembilan di Limapuluh Kotayang memiliki daya tarik terhadap kunjungan wisata.

”Kelok Sembilan kunjungan wisatanya terus ada peningkatan. Apalagi kalau Sitinjaulauik ini, justru lebih bagus lagi daripada Kelok Sembilan. Mode jembatannya itu lebih kurang model spiral gitu,” katanya.

”Saya rasa wisatawan dari daerah tetangga pasti akan antusias untuk mengunjunginya. Dengan begitu, pasti akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Sumbar,” sambung Imral. Dari sisi keamanan, para pengendara yang melewati jalur Sitinjaulauik jadi lebih terjamin. Pasalnya, sistem tanjakan flyover Sitinjaulauik agak lebih landai dibandingkan jalur saat ini.

Dengan demikian, menurut Imral, laju mobilitas orang dan barang menjadi lebih cepat. Selain itu, ada pemotongan jarak tempuh dari Kota Solok menuju Kota Padang atau sebaliknya. ”Tidak hanya angkutan transportasi AKAP, tetapi travel juga akan cepat dan banyak membawa orang dan barang. Dengan begitu, perputaran uang akan berjalan dengan cepat,” ujarnya.

Namun belajar dari flyover Kelok Sembilan, kata Imral, sebelumnya banyak pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Di flyover Sitinjaulauik diharapkan tidak demikian. Jika terjadi hal seperti itu, harus ditertibkan. Selain mengganggu keamanan para pengendara yang melintas, juga merusak pemandangan.

Untuk itu, menurut Imral, perlu dibuat semacam rest area. ”Di flyover Sitinjaulauik, kalau saya tidak salah, dari awal sudah di desain. Jadi DED-nya untuk rest area itu sudah disiapkan,” sebut Imral.

Hal senada disampaikan eks-Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Menurutnya, flyover sangat bagus bila dibangun di Sitinjaulauik. Namun, proses pembebasan hutan perlu menjadi perhatian. ”Kalau itu jalan akan bagus sekali. Saat ini, lagi proses pembebasan hutan ya?

Kalau itu jalan insya Allah. Terakhir yang saya tahu itu, masalah hutan itu,” katanya kepada Padang Ekspres usai memberi ceramah Tarawih di Masjid Raya Sumbar, Jumat (16/4) lalu.
Selain itu, menurutnya, efek flyover Sitinjaulaluik jika telah dibangun akan sangat luar biasa terhadap pertumbuhan ekonomi Sumbar.

”Pengaruhnya luar biasa. Bisa lebih cepat, kan muter-muter (melewati jalur Sitinjaulaui sekarang) berapa menit itu. Dengan (adanya) flyover (Sitinjaulauik) akan semakin cepat. Seperti flyover Kelok Sembilan,” tutur Irwan.

Proyek Prioritas
Sebelumnya, Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa sewaktu meninjau lokasi pembangunan flyover Situnjaulauik, Kamis (8/4) lalu, menyebutkan bahwa pembangunan ini menjadi skala prioritas pemerintah. Bahkan, sudah dianggarkan Rp 1,28 triliun untuk pelaksanaan proyek tersebut.

”Flyover Sitinjaulauik prioritas utama kita. Selain mengatasi kecelakaan akibat rute jalan berliku-liku, sekaligus mengatasi kemacetan akibat volume kendaraan yang melewati jalur ini cukup tinggi. Pemerintah tidak main-main agar proyek terealisasi. Total Rp 1,28 triliun telah dianggarkan,” ucap Suharso.

Pembuatan jalur alternatif Padang-Solok itu, katanya, salah satu major project atau proyek raksasa nasional. Rencana pembangunannya juga telah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

”Jadi ada beberapa proyek nasional besar di beberapa daerah, itu yang ingin dipastikan Bappenas. Apakah dilangsungkan dan dikerjakan sesuai dengan perencanaan kita?” tuturnya didampingi Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Audy Joinaldy.

Untuk itu, Suharso ingin melihat kesiapan seluruh sektor di Sumbar dan langsung meninjau titik lokasi pembangunan flyover sepanjang 2,6 kilometer itu. ”Kami berharap semua major project itu bisa diselesaikan pada tahun 2024, termasuk proyek nasional yang ada di Sumbar. Totalnya ada 35 major project tersebar di seluruh Indonesia. Karena flyover Sitinjau Lauik menjadi prioritas, sebab yang pertama sekali adalah untuk mengatasi kecelakaan. Keselamatam berkendara adalah hal yang penting diterapkan,” ujarnya.

Menurutnya, manajemen keselamatan transportasi itu diatur Bappenas, dan jalannya diatur Kementerian PUPR. Lalu, untuk kendaraan wewenangnya Kemenhub dan penegakan hukumnya kepolisian. ”Salah satu manajemen keselamatan transportasi adalah pembangunan flyover, dan kawasan Sitinjaulauik sangat layak dibangun flyover.

Perencanaannya dimulai sejak tahun 2012, sudah ada FS-nya, jadi kita mau review. Saya minta review-nya dipercepat, bisa di-grounbreaking segera dan tahun 2024 selesai,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah juga berharap pembangunan flyover tersebut bisa terlaksana. Menurutnya, pembangunan akan memberi dampak sangat besar untuk kemajuan daerah. Dia juga bersyukur, atas kunjungan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju ke Sumbar amatlah membahagiakan guna meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. (err/cr1/i/wni)

Previous articleCEO Wardah Salman Subakat Bantu Renovasi Rumah Tidak Layak Huni
Next articleLanggar Prokes Didenda Rp 50 Juta