Saatnya Mudik Nyaman dan Sembako Stabil

7
DISKUSI: Anggota DPD RI Leonardy Harmainy saat menjadi narasumber dalam diskusi soal menghadirkan kenyamanan pemudik dan harga sembako stabil di Padang.(IST)

Upaya membuat mudik nyaman bagi perantau yang akan pulang kampung dan sembako stabil jelang Lebaran tahun 2022 ini dibahas tuntas dalam Diskusi Jaringan Pemred Sumbar Sabtu 23 April 2022. Kondisi jalan dan persoalan macet di 14 titik yang tak kunjung selesai dikhawatirkan membuat perantau tak nyaman.

“Mudik nyaman tak terlepas dari perhatian pemerintah. Perhatian harus jangka panjang, bukan hanya diperlihatkan saat akan menjelang Lebaran saja,” ujar anggota DPD RI, Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa.

Dikatakannya, saat ini pertumbuhan jumlah kendaraan per tahun di atas satu juta. Sementara jalan tidak bertambah dan kualitas jalannya pun seperti terlihat sekarang, perlu peningkatan. Itu yang patut jadi perhatian.

Dia menegaskan, jalan-jalan diperbaiki kualitasnya di jalan yang memicu macet. Jangan sampai macetnya dimana, diperbaikinya di mana. Leonardy mengajak para pemred memperhatikan jalan sebelah kanan dan kiri menuju Padang pasti berbeda.

Terutama di jalur yang dilalui truk sawit dan batubara. Jalan bergelombang dan berlubang akan memicu macet juga. Belum lagi jalur langganan macet seperti Padang- Bukittinggi.

Ini akan membuat trauma perantau untuk mudik tahun berikutnya. Padahal, dari satu juta lebih perantau yang diperkirakan mudik tahun ini akan meninggalkan uang yang banyak di kampung.“Tentu akan berkurang jumlahnya jika mereka tidak nyaman dan tidak merasa aman ketika pulang kampung,” ungkapnya.

Leonardy membuka wacana tahun 2005 sudah ada pemikiran mengatasi macet di jalur Padang Bukittinggi. Jalur Sicincin-Malalak jadi alternatif yang dilaksanakan, setelah sejumlah opsi dibahas seperti tol Padang Bukittinggi, fly over.

Namun saat ini, dalam kondisi jalan seperti sekarang salah satu cara agar mudik nyaman harus diperbanyak posko-posko keamanan. Contohnya di perlintasan kereta api duku yang jalannya sedikit menanjak perlu ada posko. Begitu juga di titik-titik macet sepanjang jalur itu.

Soal sembako juga jadi perhatian ketua Badan Kehormatan DPD RI tersebut. Sembako akan stabil jika pemerintah punya perhatian khusus terhadap hal ini. Telah diketahui, jelang Lebaran permintaan terhadap sembako akan meningkat. Jika pasokan terbatas, maka akan memicu kenaikan harga.

“Untuk itu, pemerintah perlu memainkan regulasinya agar sembako terjamin distribusinya dan tidak terjadi penimbunan. Kondisi jalan pun menimbulkan keterlambatan pasokan. Baru stabil sembako itu jika permintaan dan pasokan barang kebutuhan seimbang. Masyarakat tidak resah,” ujarnya.

Ditegaskan, keresahan masyarakat inilah yang akan memicu mereka membeli dalam jumlah besar. Akhirnya, terjadi penimbunan barang. Masyarakat akan merasa nyaman jika sembako stabil. Di kalangan pengusaha, momen Lebaran bisa memicu mereka untuk menaikkan harga barang. Pemerintah diharapkan memperhatikan hal ini juga.

“Jangan sampai sembako mengganggu situasi politik atau sembako terganggu oleh kepentingan politik kelompok tertentu, apalagi oleh mafia. Pemerintah harus tegas,” ujarnya.

Tak kalah pentingnya, pemerintah sebagai regulator harus mengawasi kenaikan harga bahan pokok. Jangan sampai memicu kenaikan inflasi baik jelang Idul Fitri maupun pasca Idul Fitri.

Anggota DPRD Sumbar, Nurnas menyatakan, mustahil Lebaran aman dan sembako stabil jika kondisi jalan seperti sekarang. Telah diketahui sejak lama, kemacetan saat lebaran terjadi di tiga ruas yaitu jalur Padang- Bukittinggi, Padang-Solok dan Padang-Painan.

Baca Juga:  Komisi III DPRD Sumbar Bahas Kejahatan Skimming dengan Direksi Bank Nagari

Di media-media juga di baca, jalur Padang-Bukittinggi dilalui dalam waktu 10 jam. “Ada 14 titik yang harus diwaspadai jika kita ingin perantau berlebaran di kampung halamannya dengan nyaman. Penyebabnya juga diketahui. Namun persoalannya dari tahun ke tahun, tetap saja itu yang kita persoalkan,” ujarnya.

Nurnas memaparkan titik-titik mana saja yang menyebabkan kemacetan. Dia pun menyebutkan jalur alternatif untuk mengurai kemacetan tersebut. “Dekat lebaran, kita selalu membahas tentang kemacetan. Dilakukan rapat koordinasi untuk mengatasinya. Namun setelah Lebaran tidak ada dilakukan upaya-upaya untuk menguranginya,” ungkapnya lagi.

Padahal, kata Nurnas, sejak 2005 ketika dia jadi anggota DPRD Sumbar dan Leonardy Ketua DPRD Sumbar telah dibuat perencanaan jalan guna mengurangi kemacetan. Ada rencana tol Padang-Bukittinggi, dan fly over di Pasar Koto Baru, juga jalan lingkar di Sitinjau Laut.

Namun sepertinya perencanaan yang telah disertai anggaran tersebut tidak dilirik apalagi ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah hingga sekarang. “Kita butuh kepala daerah, kepala dinas atau badan yang mampu menggaet pendanaan dari pusat untuk penambahan dan peningkatan infrastruktur di Sumbar,” tegasnya.

Khusus untuk jalan, sangat diharapkan agar gubernur mampu menjalin koordinasi yang harmonis dengan Balai Jalan. Betapa banyak jalan negara yang kurang terawat. Terutama setelah dibuatkan jalur alternatif nya seperti di Cupak dan lainnya.

Ditegaskannya banyak orang di Kementerian PU yang asal Sumatera Barat. Menterinya juga sumando kita. Kenapa tidak dimanfaatkan? “Kenapa di zaman pak Hediyanto, Dodi bisa, sekarang tidak,” ujarnya.

Kepala BPPD Sumbar Dr Sari Lenggogeni menyatakan, pariwisata Sumatera Barat berada di ranking 11 selama pandemi. Di akhir 2021 saat ada pergerakan kasus Covid-19 menurun pasti membuat animo perantau Minang pulang kampung semakin besar.

“Diperkirakan 1,8 juta pemudik akan datang ke Sumbar dan 54,4 persen lewat jalan darat. Perantau inilah yang perlu dibuat nyaman agar memberikan kesan baik terhadap pariwisata Sumbar,” ujarnya.

Diingatkan Lenggogeni bahwa perantau Minang ini unik marketnya dan ekspektasi mereka sangat tinggi. Jika mereka kecewa, mereka dengan mudahnya menyuarakan di media sosial. Untuk memberikan kenyamanan berlebaran pernah dilaksanakan pada 2018 pernah dibuat atraksi lebaran aman dan pada 2019 dibuat atraksi lebaran nyaman. Hanya saja setelah Covid-19 kegiatan ini terhenti.

Untuk itu, kata Lenggogeni, tahun ini pihaknya mengupayakan kebersihan, keamanan dan kenyamanan pengunjung di daerah wisata. Dan kebetulan Sumbar sudah mendapatkan penghargaan desa wisata terbanyak di Anugerah Desa Wisata Indonesia.

Paket-paket telah banyak yang disiapkan oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di berbagai desa wisata yang ada. Pokdarwis ini kita beri kesempatan seluas-luasnya untuk melayani perantau yang akan menikmati lebaran di Sumbar. “Perantau Minang, buanglah uangnya ke UKM-UKM di Sumbar ya,” ujar dia. (rdo)