Gerakan Sumbar Makmur, LAI Dorong Optimalisasi CSR-DIPA di Sumbar

81

Tahun 2020 lalu, Leon Agusta Institute (LAI) mencanangkan program Gerakan Sumbar Makmur (GSM), yang tertunda pelaksanaannya dikarenakan situasi pandemi Covid-19. Tahun ini, Gerakan Sumbar Makmur segera dimulai, yakni gerakan mendorong optimalisasi pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR BUMN dan BUMD di Sumatera Barat, sebagai potensi finansial untuk meningkatan kesejahteraan rakyat. Kemudian mendorong optimalisasi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sebagai potensi sumber daya strategis pembangunan manusia di Sumatera Barat.

Hal ini disampaikan Ketua Umum LAI Julia F Agusta, didampingi Ketua LAI Asraferi Sabri, Sekretaris LAI Ria Febrina dan sejumlah mahasiswa penerima Paga Beasiswa Budaya yang merupakan salah satu program LAI, di Galeri Taman Budaya Sumbar, Rabu (27/01/2021).

Julia menjelaskan, Gerakan Sumbar Makmur bertujuan untuk membangun kerjasama masyarakat sipil, menggerakkan perubahan di jalan budaya.

Bagaimana gerakan ini mampu meningkatkan partisipasi masyarakat sipil dalam pembangunan. Serta memberi kontribusi pemikiran, gagasan, dan ide-ide untuk terwujudnya pembangunan berbasis kebudayaan. “Tujuannya mendorong kesejahteraan masyarakat,” ujar putri sastrawan Indonesia Leon Agusta ini.

Terkait optimalisasi pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR BUMN dan BUMD di Sumatera Barat, Julia mengatakan, Gerakan Sumbar Makmur ini ingin melihat CSR yang telah disalurkan apakah sudah mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat Sumbar atau belum.

Begitu juga dengan DIPA di setiap organisasi perangkat daerah provinsi Sumbar apakah program-program yang dibuat bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat atau malah tidak tepat sasaran.

“Ada lebih kurang 30 CSR di Sumbar. Untuk langkah awal, kita ingin mengetahui data audit CSR ini untuk tiga tahun belakangan. Kita ingin mendorong agar program-program CSR maupun program-program di OPD berdampak terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM),” ujar Julia.

Ia berharap pemerintah daerah melihat gerakan ini sebagai sesuatu yang positif. “Pemda jangan melihat kami sebagai musuh, tapi lihatlah kami sebagai mitra,” tuturnya yang mengakui semua program LAI tidak pernah menggunakan dana pemerintah.

Baca Juga:  Sekolah Terapkan Prokes Ketat, Antisipasi Hepatitis Misterius

Lebih jauh Julia menegaskan, Gerakan Sumbar Makmur ini bertekad mendorong pemangku kebijakan mampu memikirkan output dari setiap program dan kebijakan yang dibuatnya, bagaimana nantinya program itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan mampu meningkatkan kesejahteraannya. “Kita ingin mendorong dari hulunya. Sudah saatnya pengguna anggaran itu tahu apa hasil dari program yang akan dikerjakan itu mensejahterakan masyarakat atau tidak, bukan malah memikirkan mau buat program apa,” kritik Julia.

LAI katanya, membuka diri dan akan terus menjalin komunikasi dan dukungan dari berbagai pihak. Saat ini sudah ada 31 lembaga Swadaya masyarakat (LSM) yang ikut bergabung bersama. “Kami mohon dukungan. Saatnya bersama untuk bekerja bersama dengan tujuan bersama membangun kesejahteraan,” ujarnya.

Program LAI

Tahun 2015, LAI membuat Gerakan Perubahan di Jalan Budaya sebagai penanda proses memperjuangkan kemakmuran dan meningkatkan nilai kemanusiaan rakyat. Sejak saat itu beberapa program telah dilakukan.

Salah satunya program PAGA Beasiswa Budaya. Program ini telah dilakukan sejak 2017 silam. “Selama tiga tahun berturut-turut LAI telah memberikan beasiswa kepada 70 mahasiswa dan 26 siswa,” sebut Julia.

Kemudian ada lagi program seperti dialog kerja kebudayaan, inisiator pendirian forum LSM se Sumbar, PAGA Awards Penghargaan Kebudayaan, inisiator pendirian masyarakat gerakan di jalan kebudayaan, diklat jurnalistik pemuda pembangunan, workhsop penulisan skenario film pendek, mendirikan pusat pelatihan PAGA Akademi Silat Minangkabau, kelas kebudayaan, dialog interaktif gerakan perubahan di jalan budaya, kemah budaya mahasiswa, LAI goes to campus dan donasi pangan dampak Covid-19 Sumbar. (bis)