Mereka yang Terdampak Penerapan PSBB di Sumbar

Qoyyi Kafe sepi pembeli sejak merebaknya Covid-19 dan penerapan PSBB di Kota Padang. (Adetio -Padek)

Pandemi virus korona (Covid-19) yang merebak sejak beberapa bulan terakhir termasuk di Sumbar, membuat perekonomian masyarakat luluh lantah. Ditambah lagi penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kian membuat masyarakat kewalahan memikirkan usaha dan pekerjaan mereka.

Masyarakat terdampak Covid-19 tidak hanya orang berekonomi lemah saja, tapi juga sudah mencakup segala lini, seperti driver ojek online (ojol), pemilik kos-kosan, pemilik usaha kuliner, dan berbagai usaha lainnya.

Yusmarwan Putra, salah seorang driver ojol di Padang kepada Padang Ekspres, kemarin (26/4) mengaku, sejak satu bulan terakhir penghasilan yang ia terima turun hingga 60 persen.

”Kondisi ini terjadi sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan memindahkan aktivitas sekolah, kuliah, bahkan kerja di rumah. Sehingga, orang yang naik ojol semakin berkurang,” jelasnya.

Deritanya semakin bertambah menyusul diberlakukannya PSBB, ojol tidak boleh lagi membawa penumpang. Penghasilan pria yang akrab dipanggil Iwan Selfie ini anjlok sampai 85 persen. ”Ya, mau bagaimana lagi, kita tidak boleh membawa penumpang. Hanya diperbolehkan mengambil orderan makanan, pengiriman atau fitur tidak menimbulkan kontak dengan customer,” tuturnya.

Sebelumnya Covid-19 belum merebak di Padang, sehari dia bisa mendapatkan 30 sampai 35 orderan dengan penghasilan bersih di atas Rp 75 ribu per hari. Saat ini, dia hanya mendapatkan rata-rata lima orderan saja dengan penghasilan berkisar antara Rp 20 ribu-Rp 30 ribu.

”Tentunya, saat ini kita hanya bisa bersabar dengan adanya wabah Covid-19. Mudah-mudahan pengorbanan kita semua selama penerapan PSBB ini, angka penularan virus Covid-19 di Padang bisa menurun bahkan hilang,” harapnya.

Pemilik kos-kosan Tatak di Jl Talang Betutu No 24 A Kelurahan Air Tawar Timur, Kecamatan Padang Utara, Padang, Andra Dwi Putra, 26, juga merasakan dampak sama. ”Mayoritas yang ngekos di kosan saya itu mahasiswa luar Padang. Otomotis saat kuliah diliburkan, mereka pulang ke kampung dan kos-kosan menjadi kosong,” jelasnya.

Kondisi ini mulai dirasakannya sejak dua bulan terakhir. Andra menuturkan, jumlah kamar kos-kosannya enam kamar. Di mana, satu kamar diisi seorang dengan biaya sewa Rp 450 ribu sebulan.

Sementara pemilik tempat usaha makanan dan minuman Qoyyi Kafe, Delmy Iskandar mengaku, penurunan pendapatannya mencapai 60 persen dan paling terasa sebulan terakhir. ”Kebetulan kafe kami ini pada kondisi normal buka 24 jam. Namun sejak pandemi virus Covid-19 ini, kami hanya buka sampai pukul 22.00 malam,” jelasnya.

Sejak diberlakukannya PSBB di Padang, ia terpaksa menutup usahanya untuk mematuhi kebijakan pemerintah. ”Ya mau gak mau harus ditutup. Namanya juga untuk memutuskan rantai penularan Covid-19 di Padang. Jadi, harus bersabar dulu,” ungkapnya.

Sejak usahanya tutup sementara, Delmy juga akan mengurangi jumlah karyawan yang bekerja di tempatnya. ”Jadi jumlah karyawan di sini ada sebanyak enam orang. Mereka diliburkan sementara waktu. Bahkan, nanti ada pengurangan karyawan dua orang,’ tukasnya. Dia berharap pandemi virus Covid-19 ini bisa berakhir secepat mungkin, sehingga ia bisa berusaha seperti sedia kala.

Owner Bandoeng Refill Parfume, David Afsa juga merasakan dampak korona. Dua bulan terakhir pendapatannya menurun 60 persen. Sebelum PSBB dan Covid-19 di Padang, biasanya dalam satu hari 20 sampai 25 orang datang ke toko parfumnya. Namun sejak merebaknya Covid-19, hanya tujuh sampai 10 orang sehari.

Jam operasional toko juga diubah. Awalnya mulai pukul 10.00 dan tutup 23.00 malam, sekarang 09.00 pagi sampai 22.00 malam. ”Jam tutup kami saat ini sesuai imbau wali kota Padang yang melarang aktivitas malam hari sampai pukul 22.00 WIB,” jelasnya. (*)