Sumbar Dilanda Banjir dan Longsor

105
Longsor menimbun ruas jalan di salah satu nagari di Kabupaten Solok. (IST)

Beberapa hari terakhir, sejumlah daerah di Sumbar diguyur hujan deras. Kondisi demikian memicu bencana banjir dan longsor. Ratusan rumah dan lahan pertanian terendam, dan sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan.

Seperti di Kabupaten Solok, longsor terjadi di sejumlah nagari di Kecamatan X Koto Diatas, Kamis (26/11). Di antaranya di Jorong Batulaweh, Jorong Sikumuah dan Jorong Kubu.
“Saat ini untuk ke Jorong Batulaweh belum bisa diakses. Pasalnya, material longsor cukup besar dan butuh alat berat untuk membersihkannya,” kata Wali Nagari Paninjauan Kecamatan X Koto Diatas, Darsel Ilyas.

Tak hanya itu, lahan pertanian warga juga terkena dampak longsor. “Saat ini, kami belum bisa menyimpulkan kerugian maupun jumlah titik longsor. Pasalnya, hujan masih belum reda dan dikhawatirkan akan ada longsor lain beberapa titik,” ungkapnya seraya mengatakan saat ini (Kamis sore, red) tim dari Pemkab serta masyarakat masih melakukan pembersihan material.

Terpisah, Kalaksa BPBD Kabupaten Solok, Armen menyebut titik longsor di kecamatan X Koto Diatas tersebar di 4 nagari. Yakni beberapa titik di Nagari Katialo, Nagari Paninjauan, Nagari Sulitaie dan Sibarambang.

“Akses menuju Sulitaie memang sempat terputus. Tapi saat ini (Kamis sore, red) sudah bisa dilewati. Tinggal yang di Katialo dan Paninjauan yang saat ini petugas masih bekerja,” katanya.

Menurutnya, ada 2 titik longsor yang cukup besar yakni di Paninjauan dan Katialo, pembersihan material harus menggunakan alat berat. Atas kondisi demikian, memakan waktu dalam pembersihan.

“Kendala saat ini yakni alat berat cuma satu unit. Jadi harus bergantian membersihkan material longsor. Dampaknya proses pemulihan agak sedikit tersendat. Diprioritaskan dulu di titik-titik yang cukup parah,” ungkapnya.

Satu Unit Jembatan Putus
Kondisi serupa juga dialami Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Ratusan rumah warga pada beberapa nagari di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan terendam banjir. Selain itu, satu unit jembatan permanen dibangun tahun 2017 melalui dana desa itu, terseret banjir. Akibatnya akses masyarakat menjadi terputus.

“Putusnya jembatan tentu mengganggu kelancaran mobilisasi masyarakat petani. Sebab jembatan itu dibangun untuk mempermudah masyarakat mengangkut untuk hasil produksi pertaniannya,” kata Wali Nagari Binjai Tapan, Kecamatan Ranah Ampek Hulu, Jamirus, ketika dihubungi kemarin (26/11).

Dia juga menjelaskan selain jembatan, tanggul penahan banjir di daerah aliran sungai Batang Tapan sepanjang 200 meter juga jebol diterjang banjir. Arus semakin deras mengarah ke permukiman warga dan sarana umum lainnya. “Ada sebanyak 100 unit rumah warga di Nagari Binjai Tapan terendam banjir. Sehingga sebagian warga menyelamatkan diri ke lokasi yang aman,” ujarnya.

Baca Juga:  Minta Keadilan Kasus Ganti Rugi Tol, Masyarakat Paritmalintang Unjuk Rasa

Dia juga mengatakan hingga kini belum bisa ditaksir kerugian materi akibat banjir tersebut. “Kami atas nama pemerintah nagari dan warga meminta kepada Pemkab Pessel agar segera melakukan penanggulangan bencana banjir tersebut dengan cara membangun kembali jembatan yang putus. Kemudian membangun tanggul penahan tebing sungai dan bantuan pada warga korban banjir,” harapnya.

Sementara Pjs Bupati Pessel, Mardi, meminta perangkat daerah terkait seperti BPBD, Dinas PU dan Tata Ruang, Dinas PSDA dan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, segera melakukan upaya penanganan banjir di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan.

“Kepada masyarakat juga diminta selalu waspada. Karena tingginya curah hujan beberapa hari terakhir dan juga ke depannya, diprediksi ancaman banjir masih akan tetap ada,” katanya.

Jalan Amblas
Sementara itu, jalur utama Muaro Sijunjung-Silokek juga terputus. Ruas jalan di tiga titik amblas, Kamis (26,/11).  Sejumlah pengendara malah ngotot tetap ingin melintas, hingga kendaraan digendong beramai-ramai melewati pinggir tebing.

Sejumlah pengendara motor tetap melintasi pinggir tebing jalan utama Muaro Sijunjung-Silokek, kemarin. (IST)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sijunjung berencana akan melakukan perbaikan melalui anggaran belanja tidak terduga (BTT). Tiga titik kerusakan badan jalan panjangnya mencapai 300 meter terbilang cukup parah.

Satu unit alat berat yang dikirim Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sijunjung ke lokasj juga tidak bisa bergerak lantaran  parahnya kerusakan badan jalan. Hingga kemarin sore alat berat tersebut dilaporkan masih terparkir dekat lokasi bencana.

Wali Nagari Silokek, Mardison, menuturkan warga Silokek hendak menuju Muaro Sijunjung tertahan di dekat lokasi bencana. Begitupun sebaliknya. “Lokasi bencana masuk dalam kawasan Muaro Sijunjung, berstatus jalan lintas kecamatan,” ujarnya.

Kondisi demikian, dilaporkan ada sejumlah warga tetap ngotot menerobos, hingga kendaraan digendong beramai-ramai. Hal ini jadi pilihan karena jalan memutar menuju Durian Gadang jaraknya jauh mencapai 30 kilometer.

Kepala BPBD Sijunjung, Henri Chaniago, menyebut telah menurunkan petugas ke lokasi kejadian.  “Rencananya kita akan ajukan proses perbaikan dengan memanfaatkan anggaran belanja tidak terduga (BTT),” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal-hal tak diinginkan, Henri Chaniago mengimbau para warga untuk tidak menerobos titik bencana. Karena titik bencana dilaporkan masih labil, hingga pada sewaktu-waktu dikhawatirkan bisa berujung bencana susulan. Termasuk ancaman longsor yang selama ini terbilang rawan di kawasan tersebut.(f/yo/atn)