PBM 2021, Gubernur Sumbar Ingatkan Sarana dan Prasarana Prokes

89

Rencana membuka kembali aktivitas sekolah pada 2021 dikemukan dalam Rakor Persiapan Pembelajaran Tatap Muka Tahun 2021 Pengelolaan Dana Bos, Sekolah Penggerak dan PPDB Tahun Pembelajaran 2021/2022 di Auditorium Gubernuran, Senin (28/12/2020).

Acara Rakor dibuka Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, dihadiri Wagub Nasrul Abit, Bupati/Walikota, Forkopimda, Kepada Dinas Pendidikan, Kanwil Agama se-Sumbar.

Irwan Prayitno menginginkan Dinas Pendidikan harus tanggap cepat. Jangan sampai pada saatnya sudah membuka, belum siap dengan sarana dan prasarana protokol kesehatan.

“Saya yakin ini sudah dibicarakan, karena tahun depan sudah mulai pembelajaran tatap muka,” kata Irwan.

Gubernur dua periode ini menjelaskan, di daerah sudah ada membuka sekolah tatap muka khusus untuk wilayah di zona hijau Covid-19. Ini menjadi perhatian di daerah, tentu dengan gayanya masing masing, sistem masing-masing, yang terpenting harus mengikuti protokol kesehatan.

Covid-19 tidak akan pernah habis kecuali ada vaksin dan obat. Saat ini kerja pemprov Sumbar terus mengendalikan Covid-19 dengan testing, tracing, treatment dan isolasi.

“Yang bisa dilakukan adalah bagaimana mengendalikan covid tersebut. Tidak mungkin menolkan covid sepanjang belum ada obat dan antivirusnya. Namun pengendalian bisa berantakan, apabila muncul klaster baru di sekolah,” ungkapnya.

Irwan mengingatkan prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 tidak berubah. Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat tetap merupakan prioritas utama.

Oleh karena itu, meski pemerintah daerah Kabupaten Kota diberikan kewenangan penuh, kebijakan pembelajaran tatap muka tetap dilakukan secara berjenjang, mulai dari penentuan pemberian izin oleh Kanwil/Kantor Kemenag, pemenuhan daftar periksa oleh satuan pendidikan, serta kesiapan menjalankan pembelajaran tatap muka.

“Namun orangtua memiliki hak penuh untuk menentukan. Bagi orangtua yang tidak menyetujui anaknya melakukan pembelajaran tatap muka, peserta didik dapat melanjutkan pembelajaran secara daring dari rumah,” jelas Irwan.

“Saya berharap para Bupati dan Walikota dapat mendorong semua sekolah melakukan kesiapan pembelajaran tatap muka. Kesuksesan implementasi tidak terlepas dari komitmen kita bersama, khususnya pemerintah daerah,” ingatnya.

Baca Juga:  Dispora Sumbar Cari 1 Kader Pemuda Daerah Ikuti Program PPAN 2022

Bayangkan kalau anak di sekolah. Bisa tidak, dicegah untuk ketemu temannya. Guru cuma satu, pasti anak berkerumun. Murid ngobrol sama temannya bagaimana? Apalagi dari rumah ke sekolah, kalau naik angkot, bertemu OTG, sudah dipastikan menular, bertemu teman di sekolah dan menularkan semua.

“Sekolah paling bahaya. Maka kita harus hati-hati. Kalau orangtua tidak setuju anaknya tatap muka. Kita harus tetap lakukan daring di rumah,” ulasnya.

Untuk itu perlu pengaturan shift dari Dinas Pendidikan untuk mengatur pembagian jumlah siswa untuk penerapan pembelajaran tatap muka. Nantinya di dalam kelas akan dibagi menjadi dua shift. Jumlah siswa pun akan diatur hingga 50 persen. Ruang sekolah juga harus diatur dan diberi jarak serta menyediakan sarana protokol kesehatan. Untuk jamnya nanti akan diatur lebih detail oleh Dinas Pendidikan.

Terkait dengan sistem pembelajaran daring (online) Irwan Prayitno menetapkan setiap sekolah harus terus menggunakan sistem daring, walaupun tidak ada lagi Covid, metode daring tetap menjadi sistem pembelajaran.

“Metode daring sebelumnya sudah ada, namun karena alasan tidak efektif sempat hilang. Karena Covid, mau tidak mau kita terpaksa menggunakan daring kembali,” tuturnya.

Metode daring harus dipermanenkan, setiap sekolah di Sumbar harus dilengkapi sarana daring, karena pembelajaran menggunakan daring akan terus dipakai.

“Dinas Pendidikan bekerjasama dengan Dinas Kominfo untuk melakukan pemasangan perangkatnya di setiap sekolah di Sumbar. Mulai dari komputernya, jaringannya dan semua perangkat untuk sistem daring,” tegasnya.

Gubernur menyampaikan, agar guru tetap patuhi aturan Covid-19 dan tetap awasi murid-murid, jangan sampai terjadi klaster baru di sekolah dalam penyebaran Covid-19.

Dalam sesi tanya-jawab, banyak masukan dari peserta Rakor baik tingkat risiko penyebaran Covid-19, kesiapan ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan, kesiapan guru dan murid mengenai protokol kesehatan, perlu adanya pengawasan dari Satuan Tugas Covid-19, psikologi anak dalam situasi pandemi dan lain hal. (*)