Gubernur Sumbar Minta Kadinkes dan Dirut RS Proaktif

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Wagub Nasrul Abit dan Kadis Kesehatan Sumbar Merry Yuliesday saat Rakor melalui video conference bersama Kadis Kesehatan se-Sumbar, di Kantor Gubernur, kemarin. (Biro Humas Setprov Sumbar)

Penanganan wabah virus korona (Covid-19) harus dilakukan secara maksimal. Saat ini perkembangan kasus itu semakin masif di Sumbar. Sementara rumah sakit rujukan untuk penanganan masih kurang.

“Dalam menangani wabah virus korona, kepala dinas Kesehatan se-Sumbar diminta memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Seperti memberdayakan puskesmas untuk penanganan wabah. Hal itu mengingat jumlah rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 itu sendiri masih kurang. Sementara jumlah pasien Covid terus bertambah. Tanpa penguatan puskesmas, kita akan kesulitan sendiri,” kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno didampingi Wagub Nasrul Abit saat Rapat Koordinasi melalui video conference bersama Kepala Dinas Kesehatan se-Sumbar, Selasa (28/4).

Jika banyak pasien yang positif, rumah sakit pasti penuh, sebut Irwan, tenaga kesehatan yang jumlahnya terbatas pasti kewalahan sehingga risiko kematian dipastikan tinggi. “Untuk itu puskesmas yang ada harus siap melayani,” tegasnya.

Ia juga menekankan, kepala dinas dan direktur rumah sakit memiliki peran urgent dalam menangani penyebaran Covid-19 ini. Peranan tim yang lambat akan berisiko terhadap cepatnya penyebaran wabah Covid-19 di Sumbar.

Di sisi lain, Irwan meminta, seluruh pihak proaktif mengawasi pelaku perjalanan daerah terjangkit (PPT) atau yang berasal dari zona merah. Dengan begitu penyebaran virus bisa ditekan. ”Harus diawasi PPT itu yang menjadi ODP dan PDP dan tidak isolasi atau tidak mendatangi petugas kesehatan terdekat seperti puskesmas,” ujarnya.

Menurutnya perantau yang tidak mau isolasi mandiri atau tidak mau berdiam di rumah untuk akan sulit diawasi. Mereka akan bisa menularkan dengan persentase 86 persen.

Untuk itu orang yang dari dareah terjangkit wajib melakukan monitoring mandiri (self monitoring) terhadap kemungkinan munculnya gejala selama 14 hari sejak kepulangan. Selain itu setelah kembali dari terjangkit sebaiknya mengurangi aktivitas yang tidak perlu dan menjaga jarak kontak hingga 1,5 meter dengan orang lain.

”Idealnya orang dari daerah terjangkit dikarantina dan segera lakukan swab sebanyak dua kali dengan hasil negetif. Apabila PPT tidak diisolasi, risiko penularan lebih besar dan bisa mengeluarkan biaya lebih besar lagi, seperti biaya tracking,” ujarnya.

Irwan sendiri tidak memungkiri masih banyak orang dari daerah pandemi berkeliaran di lingkungan masyarakat. Bahkan secara diam-diam mereka yang tidak terdata ikut bergabung dengan masyarakat lainnya. Hal tersebut tentu membahayakan.

“Saya mengimbau warga yang dari daerah terjangkit memeriksakan diri ke rumah sakit, puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Serta berbicara untuk jujur menceritakan riwayat perjalanan, termasuk dengan orang yang pernah berinteraksi,” pintanya.

Dengan upaya ini, akan lebih lebih cepat menekan dan melakukan pemantauan perkembangan virus. Sikap kooperatif warga tersebut akan membantu dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat. “Petugas akan lebih mudah dalam melakukan penelusuran dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ucap Irwan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yuliesday mengatakan pihaknya akan melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan di daerah untuk upaya kesiapsiagaan puskesmas di daerah dalam menangani Covid-19.

“Saya meminta masyarakat untuk membiasakan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar penyebaran virus tidak semakin masif. Selalu mencuci tangan dengan sabun dan mengenakan penutup mulut dan hidung apa bila keluar rumah untuk suatu urusan penting,” ujarnya.

Katanya, berbagai anjuran dan aturan yang telah dibuat adalah untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. “Untuk itu tahan diri untuk bepergian, biasakan hidup sehat dan menjaga jarak antar orang,” ajaknya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padangpanjang, Nuryanuar mengatakan video conference bersama Gubernur lebih banyak tentang penegasan penanganan Covid-19 di daerah. Beberapa arahan tindakan disebutkan masih sama.

“Dalam rakor pada orang berstatus PDP penanganan cukup dilakukan sekali swab, pada saat ini harus dua kali. Begitu juga terhadap ODP dan orang tanpa gejala (OTG), sekali tes hasil negatif, harus dipastikan tes ke dua. Jika hasil pertama positif, maka yang bersangkutan akan diisolasi,” beber Nuryanuar.

Nuryanuar usai mengikuti vidcon, juga mengabarkan proses percepatan penanganan di Kota Padangpanjang mendapat apresiasi dari Gubernur Sumbar. Apresiasi tersebut diterima berdasar update data penanganan dan pengawasan. Atas kondisi demikian, Padangpanjang masih bebas dari positif Covid-19.

Terkait data yang dihimpun saat ini, tercatat jumlah orang dalam pantauan (ODP) sebanyak 133 orang dan 111 orang di antaranya habis masa karantina. Sementara pasien dalam pengawasan (PDP) yang tercatat 8 orang, 4 di antaranya negatif dan sembuh. Kemudian, 1 orang hasil RDT negatif dan sembuh, 2 orang negatif isolasi di rumah dan 1 orang lannya meninggal di RSUP M Djamil dengan hasil laboratorium negatif.

“Terkait adanya pasien positif Covid dari Nagari Panyalaian yang pernah dirawat di RSUD sebelum dirujuk ke RSUP M Djamil Padang, hasil tracking terhadap medis, 29 orang dari RSUD dan 10 orang dari Puskesmas Kabaun Sikolos. Saat ini kita masih menunggu hasil tes swab mereka. Mudah-mudahan semua aman dan tidak terpapar,” harapnya. (wni/wrd)