BNNP Sumbar Dorong Rehabilitasi Pelaku Penyalahgunaan Narkoba

44
Dialog Khusus BNNP Sumbar di Radio Padang FM seputaran tentang narkoba. (IST)

Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumbar menegaskan agar pihaknya mengedepankan proses rehabilitasi bagi pelaku penyalahgunaan narkoba dibanding penindakan. Hal ini sesuai dengan tema Hari Anti Narkoba Internasional tahun ini yakni “Hidup 100 Persen di Era New Normal, Sadar Sehat, Produktif, Bahagia Tanpa Narkoba”.

“Dengan motto ini kita menghimbau teman-teman yang telah menyalahgunakan narkoba, jika masih menggunakan narkoba berarti belum hidup 100 persen. Maka dari itu sadarlah, segera menyadari itu barang haram dan hentikan pemakaiannya dan segera rehabilitasi agar pulih yang ditandai tidak lagi memakai, agar bisa bekerja dan berfungsi sosial di masyarakat. Bisa produktif,” ungkap Kabid Rehabilitasi BNNP Sumbar, Josra Maidi didampingi Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan masyarakat BNNP Sumbar Kusriyanto saat Dialog Khusus di Radio Padang FM yang dimoderatori Jadwal Djalal dan dibantu operator Harry “Dhyo” Febrianto, Sabtu (27/6/2020).

Menurut Josra, tindakan menyadari narkoba sebagai barang haram bertujuan agar kita bisa hidup sehat. Jika sudah sehat, maka akan produktif. Bila telah hidup 100 persen, sadar, sehat dan produktif, maka bahagia itu bakal datang. Bahagia tanpa narkoba.

Josra menyatakan harapannya terhadap rekan-rekan yang mau menyadari akibat penyalahgunaan narkoba dan ada keinginan untuk berhenti, segeralah melapor ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). “Temui kami dari BNNP bersama IPWL Kemenkes dan IPWL Kemensos, akan menerima dengan lapang dada. Tujuannya kebaikan bersama,” jelas Josra.

Oleh karena itu BNN pusat menggelar konser amal yang menampilkan grup band Slank. Kata Kusriyanto, anggota Slank ini sudah mengakui pernah terjerumus pada tindak penyalahgunaan narkoba dan sudah meninggalkan narkoba. Para fans mereka yang terkenal dengan sebutan Slankers, ikut-ikutan menggunakan narkoba saat idola mereka menggunakan narkoba dan banyak yang buru-buru berhenti ketika Slank berhenti pula memakai narkoba.

“Makanya kami menjadikan Slank menjadi Duta Anti Narkoba. Kami berharap, makin banyak para Slankers berhenti menggunakan narkoba,” harapnya.

1,78 Persen Usia Produktif
Kusriyanto menginformasikan BNN Provinsi Sumbar sudah mengadakan survei pada tahun 2017 dan 2019. Survei diarahkan kepada usia produktif yang menyalahgunakan narkoba. Pada 2017 dimana total penduduk Sumbar berjumlah 5.259.530 orang, ada 1,78 persen penyalahguna narkoba pada usia produktif (diantara 10-59 tahun).

Sementara usia produktif berjumlah 3.575.449 orang. Jadi ada sekitar 53.643 orang penyalahguna narkoba saat itu. Pada tahun 2019, dari 5.479.500 orang,ada 3.936.400 orang yang berusia produktif usia 10-59 tahun dan 3.612.200 yang berusia produktif antara 15-64 tahun. Pada 2019 ini usia produktif dipatok antara 15-64 tahun, karena respondennya orang yang sudah bekerja meski sambil sekolah.

Dimana kata Kusriyanto, prevalensinya menunjukkan penurunan menjadi 1,62 persen karena BNNP sudah melibatkan elemen-elemen bangsa. Kusriyanto mengungkapkan ada empat lingkungan yang saling berkaitan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Keempatnya adalah pendidikan, pemerintah, masyarakat dan swasta.

Lebih jauh Kusriyanto menyebutkan, BNN bukan hanya melakukan pemberantasan terhadap narkotika. BNN memberantas narkoba yang meliputi penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya. Zat adiktif adalah zat yang apabila digunakan seseorang akan menimbulkan kecanduan. “Rokok juga zat adiktif. Ini sekadar mengingatkan kepada masyarakat, rokok itu adalah zat adiktif. Sekali lagi, rokok itu zat adiktif,” tegasnya.

Dia pun mengingatkan lem juga mengandung zat adiktif yang menyebabkan anak-anak atau remaja yang kecanduan bila mengisapnya. Anak-anak atau remaja yang mengisap lem atau ngelem ini harus direhabilitasi. Sebab jika tidak dibiarkan maka akan rusak susunan syaraf pusatnya. “Orang yang ngelem selama dua tahun berturut-turut, tidak ada harapan lagi. Termasuk harapan hidup,” tandasnya.

Bagi masyarakat yang melihat ada di lingkungannya melihat anak kecanduan lem ini atau ada anggota keluarganya yang kecanduan lem, BNN menerima mereka untuk direhabilitasi.
“Kami mohon para orang tua, alim ulama, niniak mamak, cadiak pandai marilah menjaga anak-anak kita, lingkungan kita,” pungkasnya. (rel)