Lagi, Induk Harimau Masuk Perangkap

19
Satu ekor harimau Sumatera kembali masuk perangkap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar yang dipasang di Nagari Gantungciri, Minggu (28/6). (net)

Satu ekor harimau Sumatera kembali masuk perangkap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar yang dipasang di Nagari Gantungciri, Minggu (28/6). Kuat dugaan harimau tersebut merupakan kawanan yang berhasil ditangkap dua minggu lalu.

“Benar seekor harimau Sumatera kembali masuk perangkap di Nagari Gantungciri. Kemungkinan harimau kedua yang tertangkap merupakan induk dari harimau yang lebih dulu tertangkap. Ukurannya juga lebih besar dari yang tertangkap pertama,” kata Kepala Resort Solok BKSDA Sumbar, Afrilius, kemarin.

Hingga Minggu (28/6) sekira pukul 17.00, harimau masih dalam perangkap. Pasalnya, harimau terlihat marah dan shock. Jadi terlalu berbahaya untuk langsung didekati. Pihaknya masih menunggu dokter hewan untuk melakukan penanganan dan sesegera mungkin dievakuasi. “Kami belum dapat gambaran bagaimana kondisi harimau saat ini, sebab belum ada yang berani membuka kandang. Harimau masih di lokasi,” bebernya.

Sebelumnya, pada 13 Juni lalu, harimau muda berusia kira-kira 1,5 tahun juga berhasil ditangkap. Lalu, harimau tertangkap Minggu (28/6), merupakan kawanan dari tiga ekor harimau yang sebelumnya sering dijumpai di kawasan perkebunan oleh warga di Gantungciri. Diperkirakan masih ada satu ekor harimau lagi yang  masih berkeliaran di daerah itu.

Pihak BKSDA meminta masyarakat untuk menahan diri sementara waktu agar tidak beraktivitas di kawasan perladangan. Pasalnya, diduga menjadi daerah berkeliarannya harimau.

“Kami minta warga untuk menahan diri dulu, sampai kondisi benar-benar aman terkendali. Sebab masih ada satu ekor induk harimau lagi yang belum tertangkap bisa saja harimau itu nanti mengamuk,” ujarnya.

Ia menambahkan, perangkap terpaksa harus dipasang karena setelah dilakukan penghalauan beberapa kali harimau kembali muncul terutama di Nagari Gantuangciri. Secara rutin, petugas mengecek perangkap setiap hari.

BKSDA Sumbar sendiri akan terus memperbaiki penanganan konflik dan melakukan pemantauan terhadap potensi konflik antara harimau dan manusia. Salah satu faktor utama yang membuat harimau sampai ke area ladang warga adalah habitatnya yang semakin sempit dan terdesak laju pembukaan lahan.

Terutama di empat Nagari, yakni Nagari Gantungciri, Nagari Kotohilalang, Kecamatan Kubung, Nagari Jawi-jawi Guguak dan Nagari Kotogaek Guguak Kecamatan Gunung Talang. Di sana ada Hutan Lindung (HL), areal penggunaan lain (APL), dan suaka margasatwa (SM) Bukit Barisan.

Menurutnya, antara APL dengan HL berdekatan. Beberapa lahan yang masuk hutan lindung malah ada yang terpakai juga oleh masyarakat setempat untuk ladang. Bahkan, satu di antara tiga ekor harimau yang sering terlihat tersebut mengalami luka di bagian kaki. Diperkirakan terkena ranjau di sekitar hutan lindung tersebut. “Kami harap masyarakat menghentikan dulu aktivitas ke ladang sementara waktu. Kalau pun terdesak harus ke ladang, sebaiknya dengan rombongan,” pungkasnya.

Terpisah, Pengamat Konservasi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas, Wilson Novarino ketika dihubungi Padang Ekspres menjelaskan kawasan Gantungciri berbatasan dengan kawasan konservasi suaka margasatwa (SM) Bukit Barisan. Tentunya, akan ada flora dan fauna, termasuk harimau Sumatera.

“Beberapa indikasi menunjukkan ada kegiatan masyarakat di dalam kawasan konservasi. Misalnya, melakukan aktivitas penebangan atau pun kemungkinan aktivitas berburu,” sebut Wilson.

Dengan demikian, sebut Wilson, dapat diketahui sekarang harimau Sumatera sebagai pemangsa tentunya akan mencari satwa mangsanya. Misalkan babi, rusa maupun kijang.
“Sebagai herbivor, tentu hewan-hewan tersebut menyukai daerah-daerah bukaan. Karena disitu akan banyak tumbuhan herbal yang jadi pakannya. Dengan demikian, ketika ada bukaan atau bekas tebangan, ada indikasi menarik keberadaan hewan-hewan herbivor ke sana. Sehingga harimau Sumatera pun juga tertarik untuk berburu ke sana,” ucapnya.

Wilson mengatakan indikasinya pembukaan ladang di sekitar kawasan konservasi memberikan ruang bagi hewan herbivor untuk mencari makanan di sana. “Tentunya, juga menjadi daya tarik bagi harimau ke sana,” ujarnya.

Khusus Gantungciri, sebut Wilson, sebelumnya sudah tertangkap anak harimau Sumatera. Pada saat pemantauan awal diketahui masih ada induk maupun saudaranya. “Nah, ketika anaknya hilang, tentu ada naluri induk untuk melindunginya. Dan, dia akan tetap berada di sana, karena itu kawasan jelajahnya,” tutur Wilson.

Wilson menegaskan seharusnya dilakukan itu mengusir harimau Sumatera ini jauh ke dalam. Tidak dengan menangkapnya. “Itu yang seharusnya dilakukan. Dan, ini sebenarnya sudah standar operasional prosedur (SOP) yakni peraturan menteri. Ketika ada harimau berkeliaran, pertama kali dilakukan adalah berusaha untuk mengusirnya kembali. Apakah dengan bunyi-bunyian atau melakukan pemantauan,” tegas dosen Biologi FMIPA Unand ini.

Wilson berharap masyarakat seharusnya juga hidup berdampingan dengan satwa konflik. “Maksudnya, kita mengetahui perilaku harimau. Misalkan jam aktifnya. Jangan kita aktif pada jam aktifnya. Ketika mereka sedang berkeliaran di sana. Maka, kita mengurangi intensitas bekerja kita. Bisa juga patroli bersama dengan membunyikan bunyi-bunyian,” saran alumni S-3 IPB Bogor ini.

Wilson mengatakan wajar saja, induk harimau Sumatera ini mencari anggota keluarganya yang hilang dan berusaha melindunginya.
“Kan kita tidak mengetahui kondisi sang anaknya apakah sudah bisa berburu atau tidak,” tutur Wilson.

Dampaknya jika tidak ada harimau lagi? Wilson menegaskan ketika predator itu tidak ada, maka akan terganggu ekosistem. “Kalau semua harimau Sumatera tidak ada di situ, yakinlah bahwa besok masyarakat akan menghadapi hama babi yang cukup besar. Mungkin juga hama beruk atau monyet. Karena itu predatornya adalah harimau. Kadang, harimau lewat di situ saja, mereka sudah menghindar,” tegasnya. (f/ril)