Gubernur Sumbar Ingin Stabilkan Harga Cabai di Tingkat Petani

30

Sepasang suami istri Bahtiar Kamal (54) dan Eli Warni (52) sibuk memanen cabai merah. Mereka khusyuk memilih buah cabai yang sudah berwarna merah, satu per satu buah tanaman yang mempunyai nama latin Capsicum annum ini dipetik dengan hati-hati.

Tanpa disadarinya, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah sudah ada di belakangnya. “Assalamualaikum .. uda jo uni sadang panen lado yo. Buliah ambo ikut bantu panen lado ko,” tanya Mahyeldi.

Setelah diperbolehkan, Mahyeldi dengan semangat, tangannya satu per satu cabai berwarna merah sudah penuh di genggaman tangannya. Cabai merah itu kemudian dimasukkan ke ember hitam. Sementara buruh panen lain ada yang menggunakan kain dililitkan di pinggang untuk menampung cabai yang digenggaman tangan. Begitu penuh selanjutnya dioper ke karung.

Gubernur Mahyeldi mengatakan, bahwa desa ini menunjukkan bahwa daerah sangat berpotensi untuk dijadikan kawasan agribisnis cabai merah.

Kehadiran Mahyeldi yang tiba-tiba itu, tak lain hanya ingin melakukan komunikasi sosial (Komsos) dan pendampingan dengan petani cabe di kebun miliknya, kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Lasi Mudo, Pauh, Kecamatan Canduan, Kabupaten Agam, Minggu (2/5/2021).

“Pagi ini, kami sengaja berkunjung untuk melakukan panen cabe bersama warga dan Alhamdulillah, hari ini saya bisa bertemu langsung dengan ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga,” ucapnya.

Gubernur Sumbar menyebutkan, panen cabai ini sudah 24 kali panen, sekarang harganya Rp20 ribu perkilo. Untuk harga tersebut, petani belum bisa dikatakan untung. Minimal harganya Cabai merah sekitar Rp 25 ribu sampai Rp30 ribu per kilo itu baru bisa dikatakan untung.

“Insya Allah, ke depannya pemerintah dengan kebijakannya bisa menstabilkan harga cabai ini, sehingga semangat para petani cabai bisa bergairah kembali untuk menanam cabai kembali,” ungkapnya.

Mahyeldi berharap petani tetap optimistis, dituntut membuat inovasi dan terobosan, Kalau petani terobosannya ya seperti ini, butuh keuletan, semangat, serius dan kesungguhan dan ketelatenan.

Melalui pembinaan yang dilakukan oleh PPL Kabupaten Agam kemajuan petani hendaknya terus dapat berkembang dan maju.

“Seperti Kebun cabe Bahtiar Kamal, salah satu contoh petani yang sukses. Sudah 24 kali panen cabe merah dan Alhamdulillah semuanya sukses,” tuturnya

Petani cabe merah Eli Warni mengharapkan pemprov Sumbar memberikan bantuan pupuk secara gratis atau pupuk bersubsidi kepada petani, karena hampir tiap tahun harga pupuk selalu naik.

“Kami melakukan penanaman cabe yang telah mengeluarkan modal Rp15 Juta dengan hasil panen sebanyak 1 ton. Alhamdulillah kami dapat menghasilkan sebanyak Rp20 juta dengan keuntungan sebesar lebih kurang Rp5 Juta,” ujar Eli.

Eli Warni membenarkan bahwa harga ideal cabai adalah Rp25.000 di tingkat petani. (*)

Previous articleAndre Rosiade: Kekayaan Indonesia untuk Rakyat, Bukan untuk Asing
Next articleMencegah Napi Kabur, Ini yang Dilakukan Kepala Rutan Padangpanjang