15 Ton Ikan Mati Mendadak, Bertebaran di Sekitar Danau Maninjau

Para pembudidaya ikan air tawar yang memanfaatkan Keramba Jaring Apung (KJA) di kawasan Danau Maninjau, Kabupaten Agam, kembali menelan pil pahit. Ikan-ikan nila yang mereka budidayakan mati mendadak secara massal dan bertebaran di sekitar danau.

Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam mengungkapkan, jumlah ikan yang mati hampir mencapai 15 ton. Kematian ikan ditemukan di Nagari Bayua dan Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya.

Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Agam, Ermanto menyebut, ikan yang mati berasal dari sekitar 50-100 petak KJA milik belasan pemodal atau pembudidaya di dua nagari tersebut. Kematian ikan ditemukan tidak merata dan paling banyak dijumpai di Nagari Bayua.

“Ada sekitar 15 pemodal atau pembudidaya yang mengalami kematian ikan di KJA mereka. Fenomena ikan mati massal secara mendadak ini kali pertama diketahui dua hari lalu (Senin, red),” kata Ermanto, Rabu (3/2/2021).

Ikan yang mati umumnya ikan yang siap panen. Hanya sebagian kecil ditemukan ukuran kecil. Dengan harga ikan nila saat ini Rp 23.000 per kilogram di tingkat pembudidaya, kata Ermanto, kerugian dialami pemilik keramba sekitar Rp 345 juta.

Baca Juga:  Lagi, 1 Hektare Lahan Terbakar

Menurutnya, penyebab kematian ikan tersebut diawali cuaca ekstrem yang melanda wilayah sekitar dalam sepekan terakhir. Sejak Jumat (29/1) sore katanya, kawasan danau dilanda angin kencang.

Anomali cuaca ekstrem ini berdampak pada penurunan suhu air danau. Kondisi itu menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan dan mencelakai ikan sehingga mati mendadak.

“Orang danau biasa menyebutnya angin darat. Kondisi ini memicu terjadinya perubahan suhu akibat umbalan atau upweling,” jelasnya.(p)