Warga Agam Digegerkan dengan Penemuan Mayat

Ilustrasi jenazah (Dok.JawaPos.com)

Warga Kampung Melayu, Nagari Sitalang, Kecamatan Ampeknagari, Kabupaten Agam dikagetkan dengan temuan sesosok mayat dengan kondisi sudah membusuk, Rabu (3/6). Jenazah tersebut merupakan seorang laki-laki lanjut usia bernama Supriadi, 61 tahun, warga setempat.

Kapolres Agam, AKBP Dwi Nur Setiawan melalui Kasubbag Humas Polres Agam, AKP Nurdin, membenarkan peristiwa itu. Korban ditemukan sudah meninggal di kediamannya di Kampung Melayu sekitar pukul 09.00. “Kali pertama, korban ditemukan oleh Melisa, 23, bersama ibunya Ratnawati, 59, yang datang memeriksa ke rumahnya. Mereka ini merupakan sanak saudara korban,” katanya.

Kronologi temuan jasad korban itu, lanjutnya, berawal dari kecurigaan Melisa dengan bau busuk tercium berasal dari dalam rumah korban, Rabu pagi. Saat itu, Melisa yang tak lain adalah kemenakan korban hendak pergi ke sungai yang persis berada di samping rumah korban.

Beranjak dari rasa curiga dengan bau tersebut kemudian dilaporkan Melisa ke sang ibu, Ratnawati. Mereka berdua lantas memeriksa ke dalam rumah korban. Alhasil, korban didapati sudah tak bernyawa.

Ibu dan anak selaku saksi mata ini bereaksi melaporkan kejadian tersebut ke Babinkamtibmas setempat serta perangkat Nagari Sitalang untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Sementara, jenazah korban langsung dievakuasi oleh petugas dengan pakaian lengkap penanganan Covid-19 yang saat ini sedang mewabah.

“Dari pengamatan dokter, menyatakan tidak ada tanda tanda kekerasan pada tubuh jenazah. Jasadnya tidak dapat dilakukan visum dikarenakan sudah rusak dan busuk,” sebutnya.

Berdasarkan keterangan keluarga dan para tetangga, tambahnya, mereka sudah tidak melihat korban sejak empat hari lalu. Korban terakhir kali terlihat keluar rumah pada hari Minggu (31/5) sekira pukul 20.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB di kedai kopi yang tidak jauh dari rumahnya.

Kemudian, korban dilaporkan juga mempunyai riwayat penyakit hipertensi. Penyakit ini diderita korban selama kurang lebih 3 tahun dan akhir-akhir ini sering kambuh. “Pihak keluarga sudah ikhlas menerima kematian korban. Mereka telah membuat pernyataan tidak menuntut kematian korban di kemudian hari,” tutupnya. (p)