Harimau Sumatera Terkam Kerbau Warga

22
Petugas BKSDA Resor Agam menemukan jejak harimau sumatera saat mengecek lokasi konflik manusia dengan satwa liar di Jorong Cubadak Lilin, kemarin. (IST)

Serangan satwa liar diduga harimau sumatera terjadi lagi di Kabupaten Agam. Satwa dilindungi bernama latin Panthera tigris sumatrae itu telah dilaporkan memangsa ternak warga di Jorong Cubadak Lilin, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur.

Informasinya, konflik manusia dan satwa liar ini kali pertama diketahui terjadi pada Senin (8/3) sore. Si inyiak belang tersebut menyerang kawanan ternak kerbau warga yang sedang makan di padang penggembalaan.

Tiga ekor kerbau milik peternak bernama Mito Hariadi, 26, dilaporkan jadi sasaran mangsa harimau itu. Satu induk kerbau tewas dan dua anaknya luka-luka. Konflik ini pun sudah dalam penanganan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam.

”Kami menerima informasi penyerangan ternak ini dari kepala jorong pada Senin malam. Tadi pagi (kemarin, red), tim BKSDA langsung ke lokasi melakukan identifikasi,” kata Kepala BKSDA Resort Agam, Ade Putra, Selasa (9/3).

Dijelaskannya, Tempat Kejadian Perkara (TKP) berada di kawasan Sawah Liek Aie Rangek, Jorong Cubadak Lilin di luar kawasan hutan. Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari kawasan cagar alam dan 1,25 kilometer dari hutan produksi.

”Tim kami bersama wali jorong beserta warga sekitar sudah menyisir TKP. Lokasi konflik ini agak curam dan tidak jauh dari jalan atau tempat parkiran mobil, palingan 500 meter,” jelasnya.

Hasil identifikasi lapangan imbuh Ade, memang ditemukan keberadaan satwa berupa jejak dan kotoran. Jejak terakhir terdeteksi dekat aliran anak sungai dan celah-celah hutan. “Dugaan sementara, satwa tersebut sudah bergeser ke dalam hutan,” terangnya.

Kemudian berdasarkan keterangan warga tambahnya lagi, peternak di Jorong Cubadak Lilin memang biasa melepasliarkan ternak kerbaunya mencari makan di kawasan tersebut. Saat terjadi serangan satwa, jumlah ternak di lokasi dilaporkan berkisar 20 ekor.

Puluhan ekor ternak itu milik dari 10 orang peternak. Biasanya mereka hanya datang melihat kerbau ke lokasi selama 15 hari sekali. ”Adapun tiga ekor kerbau yang jadi mangsa merupakan ternak milik Mito Hariadi. Kerbau yang tewas sudah dikuburkan dan anak kerbau yang luka sudah diamankan di kandang dekat rumahnya,” paparnya.

Atas kejadian itu, Ade meminta warga untuk lebih mengamankan hewan ternaknya. Ini untuk menghindari serangan susulan karena tidak tertutup kemungkinan satwa buas itu kembali akan berkeliaran di sekitar lokasi perkara. (p/ryp)

Previous articleReferendum IE-CEPA Rampung, Rakyat Swiss Dukung Sawit Indonesia
Next articlePerlu Regulasi Pemanfaatan Lahan Tidur