Antisipasi Covid-19, Pengajar dan Praja IPDN Sumbar Ikuti Rapid Test

Sekprov Sumbar Alwis menyaksikan pelaksanaan rapid test pengajar dan praja di IPDN Baso, Agam, Kamis (9/4). (Foto: humasprov)

Setelah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang Jawa Barat dan IPDN Kampus Jakarta, pemeriksaan kesehatan dengan rapid test sebagai upaya antisipasi virus korona (Covid-19) juga dilakukan di IPDN Kampus Baso, Kabupaten Agam, Sumbar.

Para pengajar dan praja mengikuti tes cepat dengan alat rapid test di kampus milik Kementerian Dalam Negeri itu, Kamis (9/4). Tes dilakukan para petugas yang menggunakan alat pelindung diri (APD).

Pelaksanaan rapid test disaksikan Sekprov Sumbar Alwis bersama rombongan. “Ini (rapid test) salah satu upaya kita melakukan deteksi dini dan mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Sumbar,” kata Alwis.

Rapid test tersebut, kata Alwis merupakan sebuah alat untuk mendeteksi dini kesehatan dan antibodi seseorang apakah mengarah ke indikasi Covid-19 atau tidak.

“Jika dalam tes terindikasi, maka tentunya akan diteruskan ke rumah sakit atau melakukan isolasi mandiri di rumah bila statusnya masih ODP (orang dalam pemantauan (ODP),” kata Alwis.

Test cepat tersebut dilakukan sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri agar seluruh praja maupun jajaran pegawai di lingkungan IPDN kampus Jatinangor maupun di daerah lainnya menjalani rapid test Covid-19. Sasarannya 8.381 praja dan pegawai IPDN di seluruh Indonesia.

Tentang Rapid Test

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan bahwa tes cepat atau rapid test sebagai deteksi dini untuk menentukan skenario perawatan seseorang terkait Covid-19.

Idealnya dilakukan dua kali dengan jangka waktu tujuh hari dari uji pertama. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa yang bersangkutan tidak menderita Covid-19 yang menyerang paru-paru.

“Kalau hasil pertama negatif, harus diulang tujuh hari kemudian untuk memastikan bahwa yang bersangkutan benar-benar tidak menderita Covid-19,” jelas Achmad Yurianto di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Sabtu (28/3) lalu.

Rapid test dilakukan dengan memeriksa darah untuk melihat antibodi yang muncul jika seseorang terserang virus penyerang saluran pernapasan SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Namun, jika belum ada gejala, rapid test dapat menunjukkan hasil negatif karena antibodi tersebut belum keluar. Ini disebut dengan hasil “negatif palsu”.

Dalam jangka waktu sepekan setelah tes pertama, seandainya positif Covid-19, tubuh sudah mengeluarkan antibodi yang dapat dilihat melalui alat uji cepat. Itulah yang menjadi alasan pemerintah menyarankan agar rapid test dilakukan dua kali.(rel/esg/bnpb)