Warga Diimbau tak Ganggu Habitat Buaya

Tim BKSDA Resor Agam melakukan identifikasi lapangan pascaadanya serangan buaya kepada seorang warga yang menyebabkan korban meninggal, beberapa waktu lalu. (IST)

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam meminta warga tidak mengganggu habitat buaya muara di Batang Masang. Ini demi menghindari terjadinya konflik antara satwa kelompok reptilia dengan manusia.

Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra menyebut, mengingat habitat buaya yang semakin sempit, pihaknya mengajak warga agar tidak mengusik dan mau berbagi ruang tempat hidup dengan satwa dilindungi tersebut. ”Buaya merupakan satwa berdarah dingin yang akan sangat buas bila habitatnya diganggu. Mari belajar dari pengalaman yang sudah, misalnya sebagaimana menimpa seorang warga asal Nagari Tiku V Jorong yang diduga tewas setelah diserang satwa itu,” kata Ade.

Dibeberkannya, sesuai identifikasi Tim BKSDA di lapangan terjadinya dugaan serangan buaya terhadap korban Nasril, 50, diawali adanya aktivitas warga yang terindikasi mengusik habitat buaya di Batang Mmasang. Dua hari setelahnya, korban pencari pakan ternak di tepian Batang Mmasang atau di sekitar habitat buaya muara yang sedang terusik.

”Kami telah melakukan identifikasi lapangan dan pengumpulan keterangan, diketahui bahwa ada oknum warga yang mengusik habitat buaya sebelum insiden serangan terjadi,” kata Ade.

Berdasarkan keterangan beberapa warga kepada BKSDA, tukas Ade, dua hari sebelum korban dilaporkan hilang, warga melihat ada oknum warga yang berasal dari luar Nagari Tiku V Jorong melakukan aksi meracuni sungai dengan tujuan untuk mendapatkan ikan dan udang di lokasi kejadian. ”Selama dua hari setelah itu terlihat beberapa kali buaya mengapung dan bereaksi di permukaan air dengan menghempas dan membalik-balikan badannya tepat di tempat kejadian,” terangnya.

Baca Juga:  Pemkab Kekurangan Guru dan Tenaga Medis

Lebih lanjut dipaparkan, berdasarkan hasil identifikasi lapangan di lokasi korban mencari rumput merupakan daratan tergenang air dan berawa. Di lokasi itu ditemukan beberapa jejak buaya berdiam diri dan juga sarangnya. ”Terhadap hasil tersebut, kami sudah menyampaikan dan mendorong nagari setempat membuat peraturan untuk mengendalikan aktivitas meracuni dan penggunaan setrum dalam mencari ikan terutama di lokasi-lokasi yang diduga merupakan sarang buaya,” terang Ade.

Mengantisipasi terjadinya serangan buaya, pihaknya mengimbau warga untuk waspada ketika beraktivitas di dalam dan pinggir sungai atau muara. Warga diminta tidak beraktivitas pada malam hari. ”Sebab buaya merupakan satwa yang aktif pada malam hari, selain itu juga menghindari sungai dengan arus tenang, serta tidak beraktivitas sendirian,” ajaknya.

Pihaknya juga mengimbau warga agar mau berbagi ruang tempat hidup dengan buaya mengingat habitatnya yang semakin menyempit. Menurut perilaku dan siklus hidupnya, jelas Ade lagi, hingga Juli ini merupakan musim kawin dan bertelurnya satwa buaya. Buaya yang akan kawin dan bertelur cenderung akan mencari lokasi yang aman dari gangguan individu lainnya. ”Terutama induk buaya yang sedang menunggui sarang telurnya, akan sangat agresif dan sensitif terhadap keberadaan mahkluk lain termasuk manusia,” terang Ade.

Ditambahkannya, buaya merupakan jenis satwa yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. ”Karena satwa ini masuk yang dilindungi, maka kami mengajak masyarakat untuk tidak mengusik habitatnya di lapangan, agar tidak ada konflik manusia dan satwa,” ujarnya. (p)