Tiga Mucikari Prostitusi Online di Agam Ditangkap

Ilustrasi prostitusi online.

Jajaran Polres Agam berhasil mengungkap praktik prostitusi online di sebuah tempat kos-kosan di daerah itu. Tiga terduga mucikari yang menjajakan anak di bawah umur dalam kasus tersebut turut diringkus.

Informasi yang dihimpun, bisnis ekspolitasi seksual itu digerebek petugas kepolisian di sebuah tempat kos di Simpang Tembok, Jorong Surabayo, Kecamatan Lubukbasung. Praktik tersebut tercium masyarakat sekitar yang kemudian melaporkannya ke polisi.

Kapolres Agam, AKBP Dwi Nur Setiawan ketika merilis kasus tersebut Jumat (15/5) menyebut, prostitusi dengan memanfaatkan media daring berkedok kos-kosan itu merupakan kasus pertama di wilayah hukum Polres Agam. Pihaknya berhasil mengamankan tiga terduga mucikari yang terdiri dari dua perempuan dan satu laki laki.

Mereka adalah YP, 18, warga Tanjungmutiara, IPS, 20, warga Lubukbasung dan RP, 26, warga Lubukbasung. Bersama mereka, polisi juga mengamankan telepon genggam tiga unit dan uang tunai Rp 250 ribu.

“Dua mucikari perempuan yang diamankan itu, adalah YP dan IPS. Bisnis prostitusi mereka kita ungkap dua hari lalu, pada Rabu (13/5),” kata Dwi Nur Setiawan didampingi Kasatreskrim Polres Agam, AKP Farel Haris, kemarin.

Bisnis yang mereka jalankan itu, katanya, melibatkan anak di bawah umur. Korbannya diketahui masih berusia pelajar saat ini. Dari keterangannya, korban sudah dua kali melayani tamu di kosnya tersebut.

Modus operandinya, mucikari YP bertindak menawarkan korban kepada tamu melalui aplikasi Whatsapp. Tarif layanan esek-esek terhadap korban ke pelanggan dipasangnya senilai Rp 250 ribu.

Kronologi pengungkapannya bermula dari laporan masyarakat. Polisi kemudian menulusuri laporan itu hingga sampai di salah satu rumah kos di Tembok, Kecamatan Lubukbasung untuk melakukan penyelidikan.

Selama tiga hari lidik ketiga pelaku akhirnya berhasil ditangkap sesaat setelah bertransaksi dengan pelanggan hidung belangnya. Sementara korban dijadikan saksi dalam mengembangkan kasus itu.

“Mereka langsung ditangkap dan korban dijadikan sebagai saksi. Saat ini, kami masih mengembangkan kasusnya, apakah masih ada korban yang lain. Ini kasus pertama di wilayah hukum Polres Agam,” papar Dwi Nur Setiawan.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka diancam pasal 76i jo pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan kurungan 10 tahun penjara.

Penelusuran Padang Ekspres, selain tiga orang mucikari tersebut, polisi juga mengamankan seorang pria hidung belang yang tertangkap basah sedang berduaan dengan korban di dalam kos-kosan tersebut. Pria itu diketahui berinisial VF, 33, bekerja sebagai tenaga honorer di Sekretariat Kabupaten Agam.

Menyikapi hal itu, Bupati Agam, Indra Catri menekankan, pihaknya memberi apresiasi kepada pihak Kepolisian Resor Agam yang telah berhasil mengungkap kasus tersebut. Termasuk berterima kasih ke masyarakat yang melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.

“Kita apresiasi tindakan tegas dan cepat yang diambil pihak kepolisian. Kami berterima kepada personil dan masyarakat. Ini murni kejahatan dan tidak perlu ditutup-tutupi,” sebut Bupati Agam dua periode itu. (p)