Jarang Memukat Akibat Cuaca Buruk, Tangkapan Nelayan Danau Maninjau Turun

10
Ilustrasi cuaca buruk membuat nelayan jarang memukat, akibanya hasil tangkapan nelayan Danau Maninjau menurun.(NET)

Hasil tangkapan ikan para nelayan pukat di kawasan Danau Maninjau, Kecamatan Tanjungrara, Kabupaten Agam, menurun. Kondisi ini dipicu akibat cuaca buruk yang terus terjadi selama satu bulan terakhir.

“Hasil tangkapan ikan yang didapat nelayan akhir-akhir ini berkurang jika dibandingkan dengan hari biasanya. Selama satu bulan belakang cuaca memang buruk di wilayah kami,” kata St Rajo Intan, salah seorang nelayan setempat, kemarin.

Cuaca buruk itu sambungnya, berupa hujan deras dan angin kencang yang terjadi di kawasan danau tersebut. Kondisi ini bahkan acapkali membuat para nelayan tidak turun melaut ke danau.

“Para nelayan tidak bisa ke danau mencari ikan jika sedang hujan. Mungkin ada beberapa yang tetap memaksakan diri demi kebutuhan ekonomi,” ujar warga Nagari Kotokaciak itu.

Selama satu bulan terakhir tambahnya lagi, hasil tangkapan ikan yang ia dapat berkisar 5-7 kilogram tiap harinya. Jumlah ini jauh berkurang dari hari-hari sebelumnya yang rata-rata mencapai 20 kilogram hingga 30 kilogram.

Meski begitu, menurunnya hasil tangkapan tersebut belum begitu berimbas pada naiknya harga ikan air tawar di pasaran. Terpantau di pasar tradisional di kabupaten itu, seperti di Pasar terminal antokan Lubukbasung dan Pasar Serikat Lubukbasung – Garagahan, harga ikan pukat danau masih stabil, meski sedikit lebih mahal ketimbang ikan keramba.

Joni, 34, salah seorang pedagang ikan air tawar mengatakan, ikan pukat danau saat ini dijual seharga Rp 23 ribu per kilogram. Sedangkan ikan Keramba Jaring Apung (KJA) dijual Rp 20 ribu per kilogram.

Baca Juga:  Sungai Batang Gasan Mengancam Petani!!! Lahan Pertanian Kian Menyusut!

“Saat ini masih terbilang stabil. Meski sedikit lebih mahal, ikan pukat lebih diminati masyarakat dan malah tetap dicari,” katanya.

Menurutnya, tingginya minat masyarakat kepada hasil tangkapan nelayan di Danau Maninjau dikarenakan rasa ikan saat dimasak lebih nikmat dibanding ikan budidaya KJA. Selain itu daging yang dihasilkan juga sedikit padat dan tidak terlalu menyusut dimasak.

“Untuk ikan pukat biasanya disukai ibu rumah tangga, untuk rumah makan atau kedai nasi, sering dibeli ikan KJA karena lebih murah dan ukuran selatif sama,” tutupnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Agam, Rosva Deswira mengaku turut prihatin dengan kondisi menurunnya hasil tangkapan yang dialami nelayan pukat di Danau Maninjau saat ini. Namun demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak saat ini.

Ia menyebut, pihaknya memang memiliki sederet program dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat di Salingka Danau Maninjau. Seperti paket bantuan untuk peralihan mata pencaharian alternatif dari danau ke darat dan pengembangan sumber daya masyarakat.

Akan tetapi, program peralihan mata pencaharian diperuntukkan untuk kelompok petani Keramba Jaring Apung (KJA) jika bersedia pindah budidaya ke kolam darat. Sementara pelatihan peningkatan kompetensi pengolahan ikan lebih banyak menyasar kaum hawa.

“Untuk bantuan bagi para nelayan tangkap, ada tahun depan kita ajukan. Bantuan peralatan yakni perahu. Namun begitu, tidak tertutup kemungkinan adanya program bantuan dari dinas atau lembaga lain untuk saat ini, nanti coba dikoordinasikan,” katanya. (ptr)